Douglas Macgregor: Iran Cukup Bertahan, Israel Kian Tersudut

Saat pembicaraan menyentuh negosiasi, Macgregor menyebut sinyal dari Gedung Putih yang ditolak Iran dengan kalimat kasar yang ia kutip, “Not only no, but hell no,” karena Iran tidak melihat insentif berhenti ketika lawan bisa mengisi ulang dan kembali menyerang.

Ia menafsirkan tujuan Iran sederhana namun mematikan bagi posisi Amerika: “what they want is to get us out of the region,” dan ia memperkirakan Amerika pada akhirnya akan “oblige” karena biaya perang ini memakan legitimasi, uang, dan kredibilitas.

Di mata Macgregor, perang ini juga memperdalam status Israel sebagai negara yang kian dibenci akibat Gaza, sehingga konflik baru justru memperbesar gelombang penolakan dan membuat sekutu-sekutu kawasan lebih berani meminta Amerika pergi.

BACA JUGA: Imbas Konflik AS-Israel dan Iran, Empat Kapal Pertamina Terjebak di Timur Tengah

Ia membawa pembaca ke Asia Timur, membayangkan Korea dan Jepang menilai ulang ketergantungan, karena perang semacam ini tidak hanya mengukur senjata, tetapi menguji apakah Amerika masih terlihat “invincible and invulnerable” atau justru tampak rapuh.

BACA JUGA: 
Eskalasi Konflik Iran–AS Menguat, Trump Prediksi Korban Bertambah, Ulama Syiah Serukan Jihad Global

Tactics win battles, but ultimately strategy wins wars,” katanya, lalu menghantam inti kritiknya: “we have no strategy,” sehingga kemenangan tak punya definisi selain kehancuran yang dibiarkan membesar.

Ia menutup dengan pengingat yang dingin: “you can kill a leader, but you can’t bomb a civilization into submission,” dan dari sana ia menyimpulkan bahwa Persia mungkin keluar sebagai entitas lebih kuat sementara pertanyaan pahit justru berbalik ke Israel—“does Israel survive all of this?

Ketika Diesen bertanya bagaimana Israel bisa runtuh, Macgregor menjawab tanpa romantika, “All of the above,” dari kelelahan mobilisasi, tekanan ekonomi, hingga risiko meluasnya front yang “not sustainable.”

Dan ketika skenario nuklir taktis disentuh, ia memperingatkan bahwa langkah itu bisa memanggil Rusia dan China masuk, menciptakan titik balik yang bahkan mungkin tidak menyisakan ruang aman bagi Israel sendiri.

Di akhir, Macgregor menegaskan politik Washington tidak akan mudah berubah karena “Netanyahu is in charge,” sementara faktor yang paling ia takutkan—pasar obligasi, yield 10-year, dedolarisasi, dan krisis finansial—bisa menjadi paku terakhir yang mendorong Amerika mundur.

BACA JUGA: 
Perang AS-Iran Disebut Telan Biaya Rp62,6 Triliun dalam 100 Jam Pertama

Whatever ultimately happens,” katanya, yang ia lihat adalah “the end of the old Middle East” dan “the end of American military hegemony,” sementara Iran—dengan segala luka—cukup bertahan untuk terlihat menang dan membuat Israel tampak kian tidak berdaya.

Wawancara lengkap Colonel (Purn.) Douglas Abbott Macgregor di kanal YouTube Glenn Diesen dapat disaksikan melalui tautan berikut: KLIK DI SINI. (Ali)

Saat pembicaraan menyentuh negosiasi, Macgregor menyebut sinyal dari Gedung Putih yang ditolak Iran dengan kalimat kasar yang ia kutip, “Not only no, but hell no,” karena Iran tidak melihat insentif berhenti ketika lawan bisa mengisi ulang dan kembali menyerang.

Ia menafsirkan tujuan Iran sederhana namun mematikan bagi posisi Amerika: “what they want is to get us out of the region,” dan ia memperkirakan Amerika pada akhirnya akan “oblige” karena biaya perang ini memakan legitimasi, uang, dan kredibilitas.

Di mata Macgregor, perang ini juga memperdalam status Israel sebagai negara yang kian dibenci akibat Gaza, sehingga konflik baru justru memperbesar gelombang penolakan dan membuat sekutu-sekutu kawasan lebih berani meminta Amerika pergi.

BACA JUGA: Imbas Konflik AS-Israel dan Iran, Empat Kapal Pertamina Terjebak di Timur Tengah

Ia membawa pembaca ke Asia Timur, membayangkan Korea dan Jepang menilai ulang ketergantungan, karena perang semacam ini tidak hanya mengukur senjata, tetapi menguji apakah Amerika masih terlihat “invincible and invulnerable” atau justru tampak rapuh.

BACA JUGA: 
Konflik AS-Iran Meluas, Ratusan Korban Jiwa Berjatuhan di Timur Tengah

Tactics win battles, but ultimately strategy wins wars,” katanya, lalu menghantam inti kritiknya: “we have no strategy,” sehingga kemenangan tak punya definisi selain kehancuran yang dibiarkan membesar.

Ia menutup dengan pengingat yang dingin: “you can kill a leader, but you can’t bomb a civilization into submission,” dan dari sana ia menyimpulkan bahwa Persia mungkin keluar sebagai entitas lebih kuat sementara pertanyaan pahit justru berbalik ke Israel—“does Israel survive all of this?

Ketika Diesen bertanya bagaimana Israel bisa runtuh, Macgregor menjawab tanpa romantika, “All of the above,” dari kelelahan mobilisasi, tekanan ekonomi, hingga risiko meluasnya front yang “not sustainable.”

Dan ketika skenario nuklir taktis disentuh, ia memperingatkan bahwa langkah itu bisa memanggil Rusia dan China masuk, menciptakan titik balik yang bahkan mungkin tidak menyisakan ruang aman bagi Israel sendiri.

Di akhir, Macgregor menegaskan politik Washington tidak akan mudah berubah karena “Netanyahu is in charge,” sementara faktor yang paling ia takutkan—pasar obligasi, yield 10-year, dedolarisasi, dan krisis finansial—bisa menjadi paku terakhir yang mendorong Amerika mundur.

BACA JUGA: 
Imbas Konflik AS-Iran, Hampir 60 Ribu Jamaah Umrah Indonesia Tertahan di Arab Saudi

Whatever ultimately happens,” katanya, yang ia lihat adalah “the end of the old Middle East” dan “the end of American military hegemony,” sementara Iran—dengan segala luka—cukup bertahan untuk terlihat menang dan membuat Israel tampak kian tidak berdaya.

Wawancara lengkap Colonel (Purn.) Douglas Abbott Macgregor di kanal YouTube Glenn Diesen dapat disaksikan melalui tautan berikut: KLIK DI SINI. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru