Ketika pejabat AS dan Presiden Trump, kata dia, menabur retorika tentang “state sponsor of terrorism” dan tuntutan agar Iran “submit,” Macgregor memotongnya tajam, “I think these are very incautious and stupid statements.”
“Frankly, Glenn, if we were interested in combating radical Islam, we would probably be focused on Pakistan and certainly on Syria,” katanya, seperti menuduh perang ini tidak cocok dengan alasan yang dipakai untuk menjualnya.
Ia menyimpulkan motif yang lebih telanjang: ini tentang kepentingan Israel menghancurkan Iran dan menyingkirkan penghalang “Israeli military hegemony,” dan Amerika, katanya, sudah terlanjur “committed to it.”
Saat Diesen menyinggung risiko Iran menyeret pihak luar, Macgregor menilai Iran ingin dunia “feel pain” karena Iran sendiri merasakan “acute pain,” dan dalam logika perang, rasa sakit itu dijadikan bahasa yang paling keras.
Tentang Eropa, Macgregor meremehkan kemungkinan keterlibatan serius, karena sejak awal “they’ve known… Iran presents no threat,” dan banyak ancaman intervensi baginya hanya “hot air,” meski ia mencatat pangkalan di Siprus sudah diserang.
BACA JUGA: Tiga Jet Tempur AS Jatuh di Kuwait, Iran Klaim Pertama dalam 27 Tahun
Yang ia pantau justru Rusia dan China, karena perang ini “not in their interests,” sementara Iran adalah komponen penting BRICS dan Belt and Road, dan bahkan Turki, katanya, tampak tidak menangisi rusaknya pangkalan Incirlik yang dianggap “our air base.”
Lalu ia melempar kalimat besar yang terdengar seperti garis zaman: “this is the end of Sykes-Picot,” karena peta, rezim, dan struktur kekuasaan Teluk bisa berubah ketika ekonomi digerus dan rasa aman hilang.
Macgregor melihat dolar “losing air speed and altitude,” menyebut bencana ekonomi-finansial yang bertumbuh pelan namun pasti, dan menegaskan dunia yang selama ini diminta “shake in fear” kini akan menuntut Amerika membuktikan klaimnya.
Pada titik paling menentukan, ia mengunci keunggulan Iran bukan pada slogan, melainkan pada daya tahan: “Iran… hasn’t got to do anything other than survive,” dan ia menambahkan, “As long as Iran survives… the weaker Israel looks, and the stronger Iran looks.”
Ia memperluasnya ke medan pertahanan, “Israel’s Iron Dome isn’t working very well,” sementara Iran disebut telah maju secara teknologi dengan rudal berumpan yang memecah perhatian, sehingga serangan utama lolos ketika pencegat sibuk mengejar bayangan.
Dalam hitungan logistik, Macgregor menyebut pelabuhan-pelabuhan pengisian ulang yang biasa dipakai sudah hancur sehingga kekuatan AS harus mundur jauh, sementara penutupan Hormuz dan terganggunya jalur Laut Merah membuat gambaran komersial “grim” dan perang makin “arduous.”
Ia juga menekankan dilema pencegatan: setiap rudal masuk menuntut “two or three missiles” untuk menembaknya, sementara banyak rudal datang pada Mach 3 hingga 6 yang “beyond our technological capability” untuk benar-benar ditaklukkan secara meyakinkan.

