Peradaban Islam Tua di Sulsel ada di Pompanua, Dibawa Syech Abd Majid Al Bugisi Penyebar Tarekat Idrisiyah di Nusantara

SulawesiPos.com – Pompanua, sebuah perkampungan di Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone (Sulsel) rupanya menyimpan sejarah yang kuat, terkait penyebaran ajaran Islam di nusantara.

Di kampung ini, pernah bermukim ulama kharismatik, Syech Abd Majid pembawa tarekat idrisiyah di nusantara.

Tarekat Idrisiyyah adalah salah satu tarekat sufi (tasawuf) yang berakar dari ajaran Sayyid Ahmad ibn Idris (abad ke-18) dan berkembang luas hingga ke Indonesia.

Tarekat ini dikenal sebagai gerakan Islam yang intens dalam pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dan pembeningan hati, serta tergolong tarekat muktabarah (memiliki sanad sah sampai Rasulullah SAW).

Kepada wartawan SulawesiPos.com, Minggu (22/2/2026) Fadly Ibrahim menceritakan perjalanan dakwah Syech Abdul Majid di Pompanua.

Fadly Ibrahim merupakan keturunan langsung Syech Abdul Majid. Bapak Fadly Ibrahim, yakni Ahmad Ibrahim merupakan putra dari mantan Sekjen As’Adiyah, AGH Muhammad Yusuf Surur BA (Putra dari KH Ahmad Surur bin Syekh Abdul Majid).

Syekh Abdul Majid bin Abdul Hayyi al- Jawi al-Bugisi al-Buni lahir di Pompanua Bone pada tahun 1820 dari pasangan Syekh al-Hajj Abdul Hayyi bin Abdul Mukaddim dan Hajjah Maemunah.

Kedua orang tuanya wafat di Mekah pada tahun 1850. Silsilah orangtuanya bersambung dengan La Taddampare’ Puang ri Maggalatung Arung Matowa Wajo, juga bertemu dengan La Temmasonge Arungpone.

Sejak usia dini, Syekh Abdul Majid tumbuh dalam keluarga dengan tradisi keilmuan Islam yang kuat, sehingga fondasi pengetahuan keislamannya sudah terbentuk sebelum ia berangkat ke Mekah.

Syekh Abdul Majid berangkat ke Mekah pada tahun 1834, dan cukup lama mukim di Mekah.

Ia larut dalam tradisi keilmuan islam di Mekah, begitupula 3 saudaranya, yakni Haji Abdul Qayyum, Syekh Haji Ahmad Umar, dan Syekh Muhammad Ali.

Syekh Abdul Majid kembali ke Bone sekitar tahun 1860, dan melanjutkan pengajian yang dirintis orang tuanya di Pompanua.

Usaha dakwahnya di Tanah Bugis menjadi media transmisi keilmuan Haramayn.

Fadly Ibrahim menyerahkan buku yang ditulisnya berjudul Serpihan Jejak Ulama di Pompanua kepada mantan Wapres RI, HM Jusuf Kalla.
Fadly Ibrahim menyerahkan buku yang ditulisnya berjudul Serpihan Jejak Ulama di Pompanua kepada mantan Wapres RI, HM Jusuf Kalla.

Ia membangun relasi intelektual antara haramayn dengan kerajaan-kerajaan di TellumpoccoE dan TellulimpoE.

Kedalaman ilmunya menginspirasi beberapa ulama bugis untuk berangkat menuntut ilmu di Mekah pada akhir abad 19.

Untuk menjaga kontinuitas dakwah dan keberlanjutan tradisi keilmuan, Syekh Abdul Majid membekali keluarganya dengan ilmu agama sejak dini.

Sehingga selanjutnya menjadi penerus transmisi keilmuan islam dan dakwah islam di Nusantara, khususnya di Pompanua.

Diantara anak dan cucunya yang menjadi parewa syaraq di Pompanua adalah AGH Abdul Hayyi al Bugisi al-Kamparawy Imam Pompanua (1915), AGH Muhammad Khalifah al-Bugisi Kadhi TellumpoccoE (1922), AGH Ahmad Surur al-Bugisi al-Pammani Imam Pompanua (1932), dan AG Muhyiddin Imam Pompanua (1943).

Guru dan Warisan Keilmuan

Selama bemukim lebih kurang 26 tahun di Mekah, Syekh Abdul Majid larut dalam tradisi keilmuan Islam Haramayn.

Ia berguru kepada sejumlah ulama terkemuka di Mekah dan Madinah diantaranya Sayyid Muhammad bin Ali as-Sanusy, Syekh Yusuf Sumbulaweni, Syekh Abd al-Hamid bin al-Hasan
al-Daghestani al-Shirwani, Sayyid Muhammad Zainal Abidin Syatha al-Dimiyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, dll.

Syekh Abdul Majid termasuk ulama yang sadar literasi, selama di Mekah beliau melakukan aktivitas penyalinan kitab dan mushaf.

Aktivitas penulisan di Mekah selain dilakukan di Mesjid, juga dilakukan di rumah wakaf Syekh al-Khatib Abubakar Palakka (katte’ Bontoalaq) di al-Qararah.

Rumah tersebut ditempati oleh Syekh Muhammad bin Syekh Yahya al-Bugisy al-Buni.

Syekh Abdul Majid tidak hanya menuekuni tradisi penulisan di Mekah, tapi juga saat menetap di Pompanua.

Di antara legacy keilmuan Syekh Abdul Majid yang masih utuh tersimpan di Pompanua adalah:

  1. Syarah Hizb Imam Nawawi,
  2. Syarah Aqhtaab al-Mukammaliin
  3. Syarah Jam’u al-Fawaaid al-Diyniah wa al-Dunyawiyah wa Yazid al-Fawaaid al-Nafsiyah al-Adawiyah
  4. Syarah Sholawat Badawi,
  5. Syarah al-Aziziy ‘ala Jami’ Asshagir 2 jilid,
  6. Jawharat,
  7. Arsyad Al Murid-Syarah Kitab
    Ithaf Al Murid Abdul Salam bin Ibrahim al-Makki Al-Laqani
  8. Syarah al Ratsiaat Lima’rifat Rasm al Mushaf al Utsmaniy
  9. Asrar al Shalat al Mubarak
  10. Do’a Surah Alfatihah, (12) Do’a Ayat Kursi
  11. Kumpulan Shalawat Nabi
  12. Khutbah Idul Fitri
  13. al-Fawaaid al-Suniyat fi Adwia karya Syekh Yusuf Sumbulaweni
  14. Dalail al-Khaerat Karya Sayyid Sulaiman al-Jazuli da (17) Majmu’
    al Fawaid
  15. kitab al-Fawaaid Fis Shilat wa al-Awaid karya Imam Syihabuddin Ahmad as Syarajiy al-Yamani.

Selain kitab tersebut, masih terdapat sejumlah naskah yang belum teridentifikasi judul dan penulisnya.

Lajnah Pentashih Al-Quran Kementrian Agama juga mengidentifikasi sebuah Mushaf kuno bertahun 1845 di Sinjai yang ditulis oleh Abdul Majid bin Syekh Abdul Hayyi.

Ciri khas mushaf tulisan Abdul Majid dilengkapi dengan penjelasan Qira’ah Sab’ah.

Rumpun keluarga Syekh Abdul Majid termasuk ulama penulis mushaf, diantaranya kakaknya Syekh Ahmad Umar bin Abdul Hayyi (Penulis mushaf museum Balla lompoa Gowa), dan iparnya Syekh Zainal Abidin bin Syekh al-Khatib Umar (Penulis 52 mushaf kuno Nusantara).

Karya Syekh Abdul Majid yang lain juga tersimpan di Museum Bayt Al-Quran
TMII di Jakarta.

Tarekat Sanusiyah Muhammadiyah

Kecintaannya terhadap keilmuan islam membuat Syekh Abdul Majid terpaut dengan kealiman Sayyid Muhammad bin Ali as-Sanusy.

Untuk menyerap lebih banyak pengetahuan dari Sayyid Muhammad bin Ali as-Sanusy, Syekh Abdul Majid kemudian tinggal di rumah gurunya di Jabal Qubais.

Menurut catatan AGH Muh Yusuf bin Ahmad Surur (2012), bahwa Syekh Abdul Majid berkhidmat melayani keperluan guru dan keluarganya selama 5 tahun.

Syekh Abdul Majid melengkapi pengembaraan keilmuannya di Mekah dengan menerima ijazah tarekat Sanusiyah Muhammadiyah dari Sayyid Muhammad bin Ali as-Sanusy.

Pada beberapa kolofon naskah tulisannya, beliau memproklamirkan dirinya bermazahab Syafi’i berakidah asy’ariyah dan bertarekat Muhammadiyah.

Untuk menjaga pertalian spiritual gurunya beliau mengijazahkan wirid Muhammadiyah kepada anak, murid dan keluarganya.

Pengijazahan kemudian menjadi tradisi setiap imam di Pompanua, sehingga sampai pada tahun 1950-an parewa syara’ di Pompanua adalah pengikut tarekat Sanusiyah Muhammadiyah.

Syekh Abdul Majid meninggal di Pompanua pada tahun 1878, dan dimakamkan di pekuburan jara’E.

Syech Abd Majid Dikenal sebagai ulama produktif yang naskah-naskahnya banyak ditulis di Mekkah, mencakup pengetahuan keagamaan yang detail mengenai mushaf.

Fadli Ibrahim mengatakan, beberapa manuskrip yang ditulis langsung Syech Abd Majid masih tersimpan rapi.

Ia menjelaskan awal mula manuskrip itu ditemukan. Naskah itu kata dia ditemukan di atas plafon.

Tersimpan di dalam peti. Sebagian dari manuskrip itu tidak bisa diselamatkan karena serangga. Apalagi manuskrip ini diperkirakan berusia ratusan tahun.

“Mungkin kqrena minimnya pengetahuan dari orang tua kami, sehingga manuskrip itu dianggap sebagai benda keramat sehingga kurang terawat,” ucapnya kepada wartawan SulawesiPos.com.

Fadly mengatakan, dari manuskrip yang ada tergambar jika Syech Abd Majid setelah bermukim di Mekkah sekira 30 tahun, kemudian bersama istrinya dan saudara saudaranya, yakni Ahmad Umar, Abd Khayyun dan Fatimah kembali ke Pompanua dan membuka pemukiman disana.

Fadly juga menyebutkan ada nama lain yang tertulis di manuskrip yakni Syech Yahya Al Bugisi. Beliau seorang ulama yang kemudian rumahnya dipakai menulis naskah naskah oleh ulama bugis yang pernah belajar di Mekkah.

Nama yang lain di manuskrip adalah Muhammad Khalifah. Beliau adalah anak kedua dari Syech Abd Majid.

Ada juga manuskrip yang ditulis oleh Abd Hayi Al Bugisi anak pertama dari Syech Abd Majid.

“Ada juga beberapa nama selain dari rumpun keluarga kami yang sampai saat ini kami belum tahu siapa mereka. Seperti Ibrahim. Beliau ini penulis naskah tertua yang kami simpan. Ditulis sekira tahun 1832,” ucapnya.

Fadli mengaku menyimpan beberapa kitab yang ditulis ulama. Salah satunya kitab shalawat dan jni yang banyak.

“Ada kitab shalawat dalailul khairat. Kitab ini ditulis beberapa kali. Ada beberapa naskah ini. Selain itu saya juga menyimpan dua kitab di Makassar, di rumah saya. Yakni dalailul khairat tahun 1860 an dan sepertinya ditulis setelah Syech abd Majid bermukim di pompanua dan kitab satunya, ditulis oleh anaknya AGH Ahmad Surur tahun 1900 awal,” jelas dia.

“Banyak naskah naskah lain yang ditulis beliau (AGH Ahmad Surur) dan hampir semua naskah lama disimpan dalam peti. Itu kenapa banyak manuskrip yang hilang dan rusak, karena kurangnya perawatan waktu itu,” imbuh Fadli.

Fadli juga mengatakan ada satu mushab ditemukan yang ditulis oleh Ahmad Umar yang kemudian menyakinkan bahwa leluhur mereka pernah belajar di Mekkah.

Husnul fatimah ilyas peneliti litbang agama Provinsi Sulawesi Selatan memastikan keabsahan naskah naskah tersebut dan ditulis oleh ulama besar yang membawa ajaran islam masuk ke sulawesi selatan utamanya di Pompanua.

Hal ini ditegaskan setelah Ia dan timnya meneliti manuskrip tersebut.

“Saya kira ini adalah upaya luar biasa, bahwa dari manuskrip itu tergambar pernah ada peradaban besar di Pompanua dan ini menjadi persambungan konektivitas antara ulama satu dengan lainnya,” jelasnya. (kar)

SulawesiPos.com – Pompanua, sebuah perkampungan di Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone (Sulsel) rupanya menyimpan sejarah yang kuat, terkait penyebaran ajaran Islam di nusantara.

Di kampung ini, pernah bermukim ulama kharismatik, Syech Abd Majid pembawa tarekat idrisiyah di nusantara.

Tarekat Idrisiyyah adalah salah satu tarekat sufi (tasawuf) yang berakar dari ajaran Sayyid Ahmad ibn Idris (abad ke-18) dan berkembang luas hingga ke Indonesia.

Tarekat ini dikenal sebagai gerakan Islam yang intens dalam pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dan pembeningan hati, serta tergolong tarekat muktabarah (memiliki sanad sah sampai Rasulullah SAW).

Kepada wartawan SulawesiPos.com, Minggu (22/2/2026) Fadly Ibrahim menceritakan perjalanan dakwah Syech Abdul Majid di Pompanua.

Fadly Ibrahim merupakan keturunan langsung Syech Abdul Majid. Bapak Fadly Ibrahim, yakni Ahmad Ibrahim merupakan putra dari mantan Sekjen As’Adiyah, AGH Muhammad Yusuf Surur BA (Putra dari KH Ahmad Surur bin Syekh Abdul Majid).

Syekh Abdul Majid bin Abdul Hayyi al- Jawi al-Bugisi al-Buni lahir di Pompanua Bone pada tahun 1820 dari pasangan Syekh al-Hajj Abdul Hayyi bin Abdul Mukaddim dan Hajjah Maemunah.

Kedua orang tuanya wafat di Mekah pada tahun 1850. Silsilah orangtuanya bersambung dengan La Taddampare’ Puang ri Maggalatung Arung Matowa Wajo, juga bertemu dengan La Temmasonge Arungpone.

Sejak usia dini, Syekh Abdul Majid tumbuh dalam keluarga dengan tradisi keilmuan Islam yang kuat, sehingga fondasi pengetahuan keislamannya sudah terbentuk sebelum ia berangkat ke Mekah.

Syekh Abdul Majid berangkat ke Mekah pada tahun 1834, dan cukup lama mukim di Mekah.

Ia larut dalam tradisi keilmuan islam di Mekah, begitupula 3 saudaranya, yakni Haji Abdul Qayyum, Syekh Haji Ahmad Umar, dan Syekh Muhammad Ali.

Syekh Abdul Majid kembali ke Bone sekitar tahun 1860, dan melanjutkan pengajian yang dirintis orang tuanya di Pompanua.

Usaha dakwahnya di Tanah Bugis menjadi media transmisi keilmuan Haramayn.

Fadly Ibrahim menyerahkan buku yang ditulisnya berjudul Serpihan Jejak Ulama di Pompanua kepada mantan Wapres RI, HM Jusuf Kalla.
Fadly Ibrahim menyerahkan buku yang ditulisnya berjudul Serpihan Jejak Ulama di Pompanua kepada mantan Wapres RI, HM Jusuf Kalla.

Ia membangun relasi intelektual antara haramayn dengan kerajaan-kerajaan di TellumpoccoE dan TellulimpoE.

Kedalaman ilmunya menginspirasi beberapa ulama bugis untuk berangkat menuntut ilmu di Mekah pada akhir abad 19.

Untuk menjaga kontinuitas dakwah dan keberlanjutan tradisi keilmuan, Syekh Abdul Majid membekali keluarganya dengan ilmu agama sejak dini.

Sehingga selanjutnya menjadi penerus transmisi keilmuan islam dan dakwah islam di Nusantara, khususnya di Pompanua.

Diantara anak dan cucunya yang menjadi parewa syaraq di Pompanua adalah AGH Abdul Hayyi al Bugisi al-Kamparawy Imam Pompanua (1915), AGH Muhammad Khalifah al-Bugisi Kadhi TellumpoccoE (1922), AGH Ahmad Surur al-Bugisi al-Pammani Imam Pompanua (1932), dan AG Muhyiddin Imam Pompanua (1943).

Guru dan Warisan Keilmuan

Selama bemukim lebih kurang 26 tahun di Mekah, Syekh Abdul Majid larut dalam tradisi keilmuan Islam Haramayn.

Ia berguru kepada sejumlah ulama terkemuka di Mekah dan Madinah diantaranya Sayyid Muhammad bin Ali as-Sanusy, Syekh Yusuf Sumbulaweni, Syekh Abd al-Hamid bin al-Hasan
al-Daghestani al-Shirwani, Sayyid Muhammad Zainal Abidin Syatha al-Dimiyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, dll.

Syekh Abdul Majid termasuk ulama yang sadar literasi, selama di Mekah beliau melakukan aktivitas penyalinan kitab dan mushaf.

Aktivitas penulisan di Mekah selain dilakukan di Mesjid, juga dilakukan di rumah wakaf Syekh al-Khatib Abubakar Palakka (katte’ Bontoalaq) di al-Qararah.

Rumah tersebut ditempati oleh Syekh Muhammad bin Syekh Yahya al-Bugisy al-Buni.

Syekh Abdul Majid tidak hanya menuekuni tradisi penulisan di Mekah, tapi juga saat menetap di Pompanua.

Di antara legacy keilmuan Syekh Abdul Majid yang masih utuh tersimpan di Pompanua adalah:

  1. Syarah Hizb Imam Nawawi,
  2. Syarah Aqhtaab al-Mukammaliin
  3. Syarah Jam’u al-Fawaaid al-Diyniah wa al-Dunyawiyah wa Yazid al-Fawaaid al-Nafsiyah al-Adawiyah
  4. Syarah Sholawat Badawi,
  5. Syarah al-Aziziy ‘ala Jami’ Asshagir 2 jilid,
  6. Jawharat,
  7. Arsyad Al Murid-Syarah Kitab
    Ithaf Al Murid Abdul Salam bin Ibrahim al-Makki Al-Laqani
  8. Syarah al Ratsiaat Lima’rifat Rasm al Mushaf al Utsmaniy
  9. Asrar al Shalat al Mubarak
  10. Do’a Surah Alfatihah, (12) Do’a Ayat Kursi
  11. Kumpulan Shalawat Nabi
  12. Khutbah Idul Fitri
  13. al-Fawaaid al-Suniyat fi Adwia karya Syekh Yusuf Sumbulaweni
  14. Dalail al-Khaerat Karya Sayyid Sulaiman al-Jazuli da (17) Majmu’
    al Fawaid
  15. kitab al-Fawaaid Fis Shilat wa al-Awaid karya Imam Syihabuddin Ahmad as Syarajiy al-Yamani.

Selain kitab tersebut, masih terdapat sejumlah naskah yang belum teridentifikasi judul dan penulisnya.

Lajnah Pentashih Al-Quran Kementrian Agama juga mengidentifikasi sebuah Mushaf kuno bertahun 1845 di Sinjai yang ditulis oleh Abdul Majid bin Syekh Abdul Hayyi.

Ciri khas mushaf tulisan Abdul Majid dilengkapi dengan penjelasan Qira’ah Sab’ah.

Rumpun keluarga Syekh Abdul Majid termasuk ulama penulis mushaf, diantaranya kakaknya Syekh Ahmad Umar bin Abdul Hayyi (Penulis mushaf museum Balla lompoa Gowa), dan iparnya Syekh Zainal Abidin bin Syekh al-Khatib Umar (Penulis 52 mushaf kuno Nusantara).

Karya Syekh Abdul Majid yang lain juga tersimpan di Museum Bayt Al-Quran
TMII di Jakarta.

Tarekat Sanusiyah Muhammadiyah

Kecintaannya terhadap keilmuan islam membuat Syekh Abdul Majid terpaut dengan kealiman Sayyid Muhammad bin Ali as-Sanusy.

Untuk menyerap lebih banyak pengetahuan dari Sayyid Muhammad bin Ali as-Sanusy, Syekh Abdul Majid kemudian tinggal di rumah gurunya di Jabal Qubais.

Menurut catatan AGH Muh Yusuf bin Ahmad Surur (2012), bahwa Syekh Abdul Majid berkhidmat melayani keperluan guru dan keluarganya selama 5 tahun.

Syekh Abdul Majid melengkapi pengembaraan keilmuannya di Mekah dengan menerima ijazah tarekat Sanusiyah Muhammadiyah dari Sayyid Muhammad bin Ali as-Sanusy.

Pada beberapa kolofon naskah tulisannya, beliau memproklamirkan dirinya bermazahab Syafi’i berakidah asy’ariyah dan bertarekat Muhammadiyah.

Untuk menjaga pertalian spiritual gurunya beliau mengijazahkan wirid Muhammadiyah kepada anak, murid dan keluarganya.

Pengijazahan kemudian menjadi tradisi setiap imam di Pompanua, sehingga sampai pada tahun 1950-an parewa syara’ di Pompanua adalah pengikut tarekat Sanusiyah Muhammadiyah.

Syekh Abdul Majid meninggal di Pompanua pada tahun 1878, dan dimakamkan di pekuburan jara’E.

Syech Abd Majid Dikenal sebagai ulama produktif yang naskah-naskahnya banyak ditulis di Mekkah, mencakup pengetahuan keagamaan yang detail mengenai mushaf.

Fadli Ibrahim mengatakan, beberapa manuskrip yang ditulis langsung Syech Abd Majid masih tersimpan rapi.

Ia menjelaskan awal mula manuskrip itu ditemukan. Naskah itu kata dia ditemukan di atas plafon.

Tersimpan di dalam peti. Sebagian dari manuskrip itu tidak bisa diselamatkan karena serangga. Apalagi manuskrip ini diperkirakan berusia ratusan tahun.

“Mungkin kqrena minimnya pengetahuan dari orang tua kami, sehingga manuskrip itu dianggap sebagai benda keramat sehingga kurang terawat,” ucapnya kepada wartawan SulawesiPos.com.

Fadly mengatakan, dari manuskrip yang ada tergambar jika Syech Abd Majid setelah bermukim di Mekkah sekira 30 tahun, kemudian bersama istrinya dan saudara saudaranya, yakni Ahmad Umar, Abd Khayyun dan Fatimah kembali ke Pompanua dan membuka pemukiman disana.

Fadly juga menyebutkan ada nama lain yang tertulis di manuskrip yakni Syech Yahya Al Bugisi. Beliau seorang ulama yang kemudian rumahnya dipakai menulis naskah naskah oleh ulama bugis yang pernah belajar di Mekkah.

Nama yang lain di manuskrip adalah Muhammad Khalifah. Beliau adalah anak kedua dari Syech Abd Majid.

Ada juga manuskrip yang ditulis oleh Abd Hayi Al Bugisi anak pertama dari Syech Abd Majid.

“Ada juga beberapa nama selain dari rumpun keluarga kami yang sampai saat ini kami belum tahu siapa mereka. Seperti Ibrahim. Beliau ini penulis naskah tertua yang kami simpan. Ditulis sekira tahun 1832,” ucapnya.

Fadli mengaku menyimpan beberapa kitab yang ditulis ulama. Salah satunya kitab shalawat dan jni yang banyak.

“Ada kitab shalawat dalailul khairat. Kitab ini ditulis beberapa kali. Ada beberapa naskah ini. Selain itu saya juga menyimpan dua kitab di Makassar, di rumah saya. Yakni dalailul khairat tahun 1860 an dan sepertinya ditulis setelah Syech abd Majid bermukim di pompanua dan kitab satunya, ditulis oleh anaknya AGH Ahmad Surur tahun 1900 awal,” jelas dia.

“Banyak naskah naskah lain yang ditulis beliau (AGH Ahmad Surur) dan hampir semua naskah lama disimpan dalam peti. Itu kenapa banyak manuskrip yang hilang dan rusak, karena kurangnya perawatan waktu itu,” imbuh Fadli.

Fadli juga mengatakan ada satu mushab ditemukan yang ditulis oleh Ahmad Umar yang kemudian menyakinkan bahwa leluhur mereka pernah belajar di Mekkah.

Husnul fatimah ilyas peneliti litbang agama Provinsi Sulawesi Selatan memastikan keabsahan naskah naskah tersebut dan ditulis oleh ulama besar yang membawa ajaran islam masuk ke sulawesi selatan utamanya di Pompanua.

Hal ini ditegaskan setelah Ia dan timnya meneliti manuskrip tersebut.

“Saya kira ini adalah upaya luar biasa, bahwa dari manuskrip itu tergambar pernah ada peradaban besar di Pompanua dan ini menjadi persambungan konektivitas antara ulama satu dengan lainnya,” jelasnya. (kar)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru