SulawesiPos.com – Sorot proyektor menembus kepulan asap rokok di ruangan temaram. Suara deru pita seluloid berputar, disambut riuh tawa dan desah penonton di dalam gedung. Pada era 1980 hingga 1990-an, ritme hidup remaja Makassar tak pernah lepas dari bioskop.
Menonton film bukan sekadar hiburan akhir pekan, melainkan ruang sosial utama tempat kaum muda berkumpul, pamer gaya, hingga memadu kasih.
Kini, denyut riuh itu tinggal kenangan. Sebagian besar gedung bioskop legendaris yang sempat menjamur di sudut kota telah berganti rupa, tergilas modernisasi dan perubahan lanskap hiburan perkotaan.
Di masa kini, sebagian besar bioskop modern saat ini sudah beralih sepenuhnya ke proyektor digital berbasis standar DCI (Digital Cinema Initiatives).
Film tidak lagi dikirim dalam bentuk gulungan pita fisik 35mm, seperti yang diceritakan dalam film Janji Joni (2005), melainkan dalam format digital terenkripsi (DCP atau Digital Cinema Package) melalui hard drive khusus atau jaringan satelit/internet berkecepatan tinggi.
Mantan pengurus Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), AB Iwan Azis, masih mengingat betul masa ketika bioskop tersebar di hampir seluruh penjuru kota dengan segmentasi penonton yang khas.
Iwan menyebut beberapa bioskop yang terkenal di era 1980-an seperti Bioskop Gembira, di Gedung BKKPN, Bioskop Sirine, di Jalan Timor perempatan Jalan Lombok Bioskop AA, lalu Bioskop Apollo. Di Jalan Gunung Latimojong ada bekas kantor Legiun Veteran, dan Bioskop Mutiara yang di Jalan Veteran Utara
“Di Jalan Rusa ada dua: Bioskop Arini dan Bioskop Rusa. Bioskop-bioskop ini ada yang menyasar kelas atas hingga masyarakat bawah,” kenang Iwan Azis saat dihubungi SPos, Selasa (8/9/2026).
Iwan menambahkan, salah satu fenomena unik era itu adalah bioskop misbar alias gerimis bubar. Berbeda dengan layar tancap keliling, bioskop model ini memanfaatkan fasilitas lapangan basket di dekat Pasar Sentral. Ketika malam tiba, lapangan disulap menjadi area nonton terbuka. Penonton bahkan diizinkan membawa masuk sepeda dan duduk santai di tribun semen layaknya menonton pertandingan olahraga.

Jejak sinema di kota ini sejatinya berakar panjang. Berdasarkan riset Rahmatia M. dari Universitas Negeri Makassar bertajuk Bioskop di Kotamadya Ujung Pandang (1971–1999), tradisi menonton film diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 sebelum dilanjutkan oleh komunitas Tionghoa. Dari sana, penggolongan bioskop terbentuk lewat sekat ras, daya beli ekonomi, fasilitas gedung, hingga genre film.
Masa keemasan sempat tercatat pada dekade 1970-an dengan sekitar 25 gedung bioskop aktif. Namun, gelombang penurunan tak terhindarkan saat memasuki era 1990-an. Kehadiran stasiun televisi swasta, maraknya kaset VCD dan DVD bajakan, serta monopoli tata edar film oleh jaringan modern perlahan mencekik bioskop-bioskop independen lokal.
Bagi penikmat film lawas, kenangan menonton di layar perak tetap melekat kuat. Iwan Kusnadi, mantan bankir yang menghabiskan masa mudanya di dekade 1990-an, masih hafal deretan bioskop favoritnya, mulai dari Bioskop 21 di Jalan Sam Ratulangi, Makassar Theatre di Jalan Bali, hingga Bioskop Arini di Jalan Rusa.
“Film-film yang membekas sampai sekarang ada Lethal Weapon, Rambo, Nine 1/2 Weeks, drama Ghost Demi Moore, sampai laga silat Bruce Lee dan Jackie Chan,” tutur Iwan saat ditemui di Warkop Edy, Jalan Ratulangi.
Gedung-gedung pemutar mimpi itu kini telah bersalin rupa. Bioskop Ratu di Jalan Lembeh berubah menjadi bangunan sekolah, Bioskop Benteng di kawasan Losari berganti menjadi Pub Zona Kafe, Bioskop Dewi di Jalan Wahidin Sudirohusodo menjadi deretan toko tekstil.
Sementara Bioskop DKM kembali difungsikan sebagai cagar budaya Gedung Kesenian Societeit de Harmonie. Deretan nama lain seperti Bioskop Istana, Bioskop Paramount, Kembang Melati, Artis, Apollo, Jaya, Madya, hingga Mall Studio di Jalan Cendrawasih pun resmi gulung tikar pada awal dekade 2000-an.
Wajah sinema Makassar hari ini sepenuhnya berpindah ke ruang-ruang berpendingin udara di dalam pusat perbelanjaan.
Layar perak modern kini dikuasai jejaring Cineplex 21 di Mal Ratu Indah, Mal Panakkukang, Trans Studio Mall, Nipah Park, dan MTOS, disusul CGV di Panakkukang Square serta Cinepolis di Phinisi Point. Fasilitasnya jauh lebih canggih dan megah, meski atmosfer keakraban jalanan tempo dulu tak lagi ikut berpindah ke sana.

