Cempalagi dan Sumpah Raja Bone Arung Palakka

Pasirnya lembut. Air laut terlihat jernih. Langit biru dan cahaya matahari membuat kawasan ini menjadi tempat yang begitu fotogenik. Tetapi jangan terlalu lama.

Ketika air laut kembali pasang, gusung pasir itu perlahan tenggelam. Hamparan putih yang sebelumnya terlihat jelas kembali tertutup air laut.

Karena itu, pagi hari saat air sedang surut menjadi salah satu waktu yang tepat untuk menikmati pesona Gusung Cempalagi.

Ada Sumur yang Tak Pernah Kering

Tidak jauh dari ruang sejarah gua, terdapat pula sebuah sumur air tawar yang dipercaya masyarakat setempat tidak pernah kering. Sumur tersebut dikenal dengan sebutan sumur jodoh.

Ada kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat bahwa mandi atau mengambil air dari sumur tersebut dapat membantu seseorang menemukan pasangan. Benar atau tidaknya kepercayaan itu tentu kembali kepada keyakinan masing-masing.

Namun keberadaan sumur tersebut menjadi bagian lain dari cerita yang membuat Cempalagi terasa berbeda.

Sejarah, kepercayaan masyarakat dan alam seolah bertemu di satu tempat.

BACA JUGA:  Wabup Bone Sidak Tanjung Pallette, Promosikan Surga Wisata di Tepi Teluk Bone dan Ajak Warga Dukung Destinasi

Nama Cempalagi dan Kisah Perjuangan

Nama Cempalagi sendiri juga memiliki cerita.

Konon, nama itu berkaitan dengan pohon asam atau cempa yang tumbuh besar di kawasan bukit tersebut. Pada masa perang, kawasan ini disebut menjadi salah satu tempat berlindung dan bertahan hidup.

Maka ketika hari ini wisatawan datang membawa kamera, keluarga menikmati pantai, atau anak-anak bermain di pasir, sulit membayangkan bahwa ratusan tahun silam kawasan tersebut pernah menjadi bagian dari masa penuh ketegangan.

Cempalagi menyimpan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, ia adalah tempat yang tenang dengan laut biru dan pasir putih.

Di sisi lain, ia adalah ruang yang membawa pengunjung menengok kembali perjalanan sejarah Bone dan sosok Arung Palakka.

Rp5.000 Sudah Bisa Menikmati Cempalagi

Kini kawasan Cempalagi dikelola sebagai destinasi wisata sejarah, budaya dan bahari oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Bone.

Menariknya, untuk memasuki kawasan wisata ini, pengunjung tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam.

BACA JUGA:  Hidden Gem Bone! Sungai Lajoro Tawarkan Air Sebening Kristal, Camping Gratis, dan Pesona Alam yang Memikat

Cukup membayar Rp5.000 per orang, biaya tersebut sudah termasuk tiket masuk sekaligus parkir.

“Sama ketika naik mobil atau motor hanya Rp5.000 per orang atau penumpangnya,” kata Pengelola Cempalagi, Supriadi.

Harga yang relatif murah membuat Cempalagi menjadi pilihan wisata yang cukup ramah bagi masyarakat. Tetapi yang dibawa pulang dari tempat ini bukan sekadar foto.

Ada cerita. Ada jejak sejarah.

Pasirnya lembut. Air laut terlihat jernih. Langit biru dan cahaya matahari membuat kawasan ini menjadi tempat yang begitu fotogenik. Tetapi jangan terlalu lama.

Ketika air laut kembali pasang, gusung pasir itu perlahan tenggelam. Hamparan putih yang sebelumnya terlihat jelas kembali tertutup air laut.

Karena itu, pagi hari saat air sedang surut menjadi salah satu waktu yang tepat untuk menikmati pesona Gusung Cempalagi.

Ada Sumur yang Tak Pernah Kering

Tidak jauh dari ruang sejarah gua, terdapat pula sebuah sumur air tawar yang dipercaya masyarakat setempat tidak pernah kering. Sumur tersebut dikenal dengan sebutan sumur jodoh.

Ada kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat bahwa mandi atau mengambil air dari sumur tersebut dapat membantu seseorang menemukan pasangan. Benar atau tidaknya kepercayaan itu tentu kembali kepada keyakinan masing-masing.

Namun keberadaan sumur tersebut menjadi bagian lain dari cerita yang membuat Cempalagi terasa berbeda.

Sejarah, kepercayaan masyarakat dan alam seolah bertemu di satu tempat.

BACA JUGA:  Sumur Jodoh Cempalagi di Bone, Destinasi Unik yang Konon Bantu Para Jomblo Temukan Pasangan

Nama Cempalagi dan Kisah Perjuangan

Nama Cempalagi sendiri juga memiliki cerita.

Konon, nama itu berkaitan dengan pohon asam atau cempa yang tumbuh besar di kawasan bukit tersebut. Pada masa perang, kawasan ini disebut menjadi salah satu tempat berlindung dan bertahan hidup.

Maka ketika hari ini wisatawan datang membawa kamera, keluarga menikmati pantai, atau anak-anak bermain di pasir, sulit membayangkan bahwa ratusan tahun silam kawasan tersebut pernah menjadi bagian dari masa penuh ketegangan.

Cempalagi menyimpan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, ia adalah tempat yang tenang dengan laut biru dan pasir putih.

Di sisi lain, ia adalah ruang yang membawa pengunjung menengok kembali perjalanan sejarah Bone dan sosok Arung Palakka.

Rp5.000 Sudah Bisa Menikmati Cempalagi

Kini kawasan Cempalagi dikelola sebagai destinasi wisata sejarah, budaya dan bahari oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Bone.

Menariknya, untuk memasuki kawasan wisata ini, pengunjung tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam.

BACA JUGA:  Cegah Karhutla, BBKSDA Sulsel Perkuat Patroli di TWA Cani Sirenreng Bone

Cukup membayar Rp5.000 per orang, biaya tersebut sudah termasuk tiket masuk sekaligus parkir.

“Sama ketika naik mobil atau motor hanya Rp5.000 per orang atau penumpangnya,” kata Pengelola Cempalagi, Supriadi.

Harga yang relatif murah membuat Cempalagi menjadi pilihan wisata yang cukup ramah bagi masyarakat. Tetapi yang dibawa pulang dari tempat ini bukan sekadar foto.

Ada cerita. Ada jejak sejarah.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru