27 C
Makassar
27 February 2026, 20:43 PM WITA

Masjid Tua Katangka: Jejak Sejarah dan Perpaduan Budaya di Peninggalan Kerajaan Gowa

SulawesiPos.com – Masjid Tua Katangka merupakan salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan yang dibangun pada tahun 1603 M atas perintah Raja Gowa XIV, I Mangngarangi Daeng Manrabbia.

Pada awal pendiriannya, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Al Hilal atau Masjid Tua Al Hilal Katangka.

Nama Katangka sendiri diambil dari sebutan pohon katangka, yang pada masa pemerintahan Raja I Tumanurung dipercaya sebagai pohon keramat.

Masjid ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 150 meter persegi. Informasi mengenai tahun pembangunannya dapat ditemukan pada prasasti yang terpasang di bagian depan pintu utama masjid, yang secara jelas mencantumkan angka 1603 M.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga memiliki peran penting sebagai bangunan penyambutan tamu Kesultanan Gowa.

Dibangun pada masa awal masuknya pengaruh kolonial, Masjid Tua Katangka menjadi saksi perjalanan sejarah dan interaksi berbagai kebudayaan yang tercermin kuat pada bentuk bangunannya.

Akulturasi Arsitektur Kolonial, Jawa, dan Cina

Gerbang utama masjid didominasi warna putih dengan gaya nieuwe bouwen, yang merupakan ciri khas arsitektur kolonial Belanda.

Pada bagian gerbang juga tampak ornamen kolonial seperti gawel dan pediment berbentuk segitiga.

Di puncak atap gerbang terdapat mustaka berupa guci keramik yang dipercaya berasal dari Cina.

Sementara itu, material atap masjid menggunakan genteng yang didatangkan langsung dari Belanda.

Pengaruh budaya Jawa terlihat jelas dari bentuk atap utama masjid yang menyerupai atap joglo.

Perpaduan lintas budaya ini menjadikan Masjid Tua Katangka memiliki karakter arsitektur yang unik dan tidak ditemukan pada masjid lain di sekitarnya.

Filosofi Islam dan Nilai Simbolik Bangunan

Pada bagian dalam, mimbar masjid menampilkan perpaduan unsur budaya Cina, Arab, dan Makassar. Bentuk mimbar menyerupai atap klenteng, dengan hiasan keramik berbentuk loster buatan Cina di sekelilingnya.

Terdapat pula ukiran kaligrafi Arab yang menggunakan bahasa Makassar, menegaskan identitas lokal dalam nuansa keislaman.

Nilai filosofi Islam juga tergambar kuat melalui elemen bangunan. Lima pintu utama masjid melambangkan lima rukun Islam, sementara enam jendela merepresentasikan enam rukun iman.

Bentuk jendela sendiri mengadopsi gaya arsitektur kolonial Belanda.

Di area kompleks masjid, terdapat pula makam para raja Gowa terdahulu yang semakin menegaskan fungsi masjid ini sebagai pusat sejarah dan spiritual Kerajaan Gowa.

SulawesiPos.com – Masjid Tua Katangka merupakan salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan yang dibangun pada tahun 1603 M atas perintah Raja Gowa XIV, I Mangngarangi Daeng Manrabbia.

Pada awal pendiriannya, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Al Hilal atau Masjid Tua Al Hilal Katangka.

Nama Katangka sendiri diambil dari sebutan pohon katangka, yang pada masa pemerintahan Raja I Tumanurung dipercaya sebagai pohon keramat.

Masjid ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 150 meter persegi. Informasi mengenai tahun pembangunannya dapat ditemukan pada prasasti yang terpasang di bagian depan pintu utama masjid, yang secara jelas mencantumkan angka 1603 M.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga memiliki peran penting sebagai bangunan penyambutan tamu Kesultanan Gowa.

Dibangun pada masa awal masuknya pengaruh kolonial, Masjid Tua Katangka menjadi saksi perjalanan sejarah dan interaksi berbagai kebudayaan yang tercermin kuat pada bentuk bangunannya.

Akulturasi Arsitektur Kolonial, Jawa, dan Cina

Gerbang utama masjid didominasi warna putih dengan gaya nieuwe bouwen, yang merupakan ciri khas arsitektur kolonial Belanda.

Pada bagian gerbang juga tampak ornamen kolonial seperti gawel dan pediment berbentuk segitiga.

Di puncak atap gerbang terdapat mustaka berupa guci keramik yang dipercaya berasal dari Cina.

Sementara itu, material atap masjid menggunakan genteng yang didatangkan langsung dari Belanda.

Pengaruh budaya Jawa terlihat jelas dari bentuk atap utama masjid yang menyerupai atap joglo.

Perpaduan lintas budaya ini menjadikan Masjid Tua Katangka memiliki karakter arsitektur yang unik dan tidak ditemukan pada masjid lain di sekitarnya.

Filosofi Islam dan Nilai Simbolik Bangunan

Pada bagian dalam, mimbar masjid menampilkan perpaduan unsur budaya Cina, Arab, dan Makassar. Bentuk mimbar menyerupai atap klenteng, dengan hiasan keramik berbentuk loster buatan Cina di sekelilingnya.

Terdapat pula ukiran kaligrafi Arab yang menggunakan bahasa Makassar, menegaskan identitas lokal dalam nuansa keislaman.

Nilai filosofi Islam juga tergambar kuat melalui elemen bangunan. Lima pintu utama masjid melambangkan lima rukun Islam, sementara enam jendela merepresentasikan enam rukun iman.

Bentuk jendela sendiri mengadopsi gaya arsitektur kolonial Belanda.

Di area kompleks masjid, terdapat pula makam para raja Gowa terdahulu yang semakin menegaskan fungsi masjid ini sebagai pusat sejarah dan spiritual Kerajaan Gowa.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/