BMKG Sebut Udara Kabur Berpotensi Bertahan Beberapa Hari di Bandara Hasanuddin

SulawesiPos.com — Kondisi udara kabur atau haze di kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), berpotensi terjadi selama beberapa hari ke depan. BMKG menyebut belum adanya hujan di kawasan bandara di tengah kemarau berkepanjangan menjadi salah satu kondisi yang memengaruhi potensi tersebut.

Senior Forecaster BMKG Sultan Hasanuddin, Dofiali Dwi, mengatakan kondisi cuaca di kawasan bandara saat ini didominasi angin dari arah barat dengan kecepatan hingga 15 kilometer per jam.

Jarak pandang terpantau sekitar 5 kilometer dengan kondisi cuaca berupa haze.

“Untuk kondisi saat ini di Bandara Hasanuddin, umumnya angin bertiup baratan dengan kecepatan sampai 15 km/jam. Untuk visibility 5 km dengan kondisi cuaca haze,” katanya, Minggu (11/10/2026).

Dofiali menjelaskan, haze merupakan kondisi udara kabur yang menyebabkan jarak pandang horizontal berkurang hingga 5 kilometer atau kurang.

Dalam kondisi cuaca cerah, jarak pandang di kawasan bandara biasanya mencapai 10 kilometer.

Menurutnya, kondisi udara kabur tersebut masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari mendatang karena belum adanya hujan di kawasan bandara.

BACA JUGA:  Cuaca Sulsel Hari Ini 12 Juli 2026 Cerah Berawan, BMKG Ingatkan Potensi Angin Kencang di Wilayah Selatan

“Untuk keadaan haze masih berpotensi terjadi beberapa hari ke depan karena memang belum ada hujan yang terjadi di bandara,” katanya.

Selain kemarau berkepanjangan, Dofiali menyebut kebakaran lahan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan turut memengaruhi keberadaan haze.

“Apalagi banyaknya kebakaran lahan di wilayah Sulsel juga turut mempengaruhi keberadaan haze ini,”bebernya.

Operasional Penerbangan Masih Lancar

Berkurangnya jarak pandang di kawasan bandara berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan.

Namun, Dofiali mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah kondisi tersebut berdampak langsung terhadap jadwal keberangkatan maupun kedatangan pesawat.

Koordinasi terus dilakukan bersama AirNav Indonesia, Angkasa Pura, dan pihak maskapai untuk memantau perkembangan kondisi cuaca.

Informasi cuaca di kawasan bandara diperbarui setiap 30 menit sebagai bahan pemantauan penerbangan.

Sementara itu, Branch Communication & CSR Department Head Bandara Sultan Hasanuddin, Mahesa Nusantara Citra, mengatakan operasional penerbangan dari dan menuju Bandara Sultan Hasanuddin masih berjalan lancar.

“Untuk saat ini operasional penerbangan dari dan ke Bandara Sultan Hasanuddin masih tetap aman dan lancar. Jarak pandang pilot juga masih sangat aman,” katanya.

BACA JUGA:  Gempa M 5,4 Guncang Teluk Tomini Sulawesi Tengah, Dirasakan hingga Gorontalo dan Luwuk

Mahesa menjelaskan, apabila terjadi gangguan jarak pandang yang memengaruhi operasional penerbangan, otoritas terkait dapat mengeluarkan pemberitahuan resmi melalui Notice to Airmen (NOTAM).

Ia juga menyebut penerbangan dari dan menuju wilayah terdampak kebakaran lahan, seperti Kalimantan dan Papua, masih terpantau lancar.

“Sejauh ini masih aman. Selama AirNav tidak menerbitkan NOTAM, operasional penerbangan, baik take off maupun landing, masih aman,” ujarnya.

SulawesiPos.com — Kondisi udara kabur atau haze di kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), berpotensi terjadi selama beberapa hari ke depan. BMKG menyebut belum adanya hujan di kawasan bandara di tengah kemarau berkepanjangan menjadi salah satu kondisi yang memengaruhi potensi tersebut.

Senior Forecaster BMKG Sultan Hasanuddin, Dofiali Dwi, mengatakan kondisi cuaca di kawasan bandara saat ini didominasi angin dari arah barat dengan kecepatan hingga 15 kilometer per jam.

Jarak pandang terpantau sekitar 5 kilometer dengan kondisi cuaca berupa haze.

“Untuk kondisi saat ini di Bandara Hasanuddin, umumnya angin bertiup baratan dengan kecepatan sampai 15 km/jam. Untuk visibility 5 km dengan kondisi cuaca haze,” katanya, Minggu (11/10/2026).

Dofiali menjelaskan, haze merupakan kondisi udara kabur yang menyebabkan jarak pandang horizontal berkurang hingga 5 kilometer atau kurang.

Dalam kondisi cuaca cerah, jarak pandang di kawasan bandara biasanya mencapai 10 kilometer.

Menurutnya, kondisi udara kabur tersebut masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari mendatang karena belum adanya hujan di kawasan bandara.

BACA JUGA:  Mau ke Bandara Sultan Hasanuddin? Ini Panduan Parkir dan Rental Mobil

“Untuk keadaan haze masih berpotensi terjadi beberapa hari ke depan karena memang belum ada hujan yang terjadi di bandara,” katanya.

Selain kemarau berkepanjangan, Dofiali menyebut kebakaran lahan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan turut memengaruhi keberadaan haze.

“Apalagi banyaknya kebakaran lahan di wilayah Sulsel juga turut mempengaruhi keberadaan haze ini,”bebernya.

Operasional Penerbangan Masih Lancar

Berkurangnya jarak pandang di kawasan bandara berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan.

Namun, Dofiali mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah kondisi tersebut berdampak langsung terhadap jadwal keberangkatan maupun kedatangan pesawat.

Koordinasi terus dilakukan bersama AirNav Indonesia, Angkasa Pura, dan pihak maskapai untuk memantau perkembangan kondisi cuaca.

Informasi cuaca di kawasan bandara diperbarui setiap 30 menit sebagai bahan pemantauan penerbangan.

Sementara itu, Branch Communication & CSR Department Head Bandara Sultan Hasanuddin, Mahesa Nusantara Citra, mengatakan operasional penerbangan dari dan menuju Bandara Sultan Hasanuddin masih berjalan lancar.

“Untuk saat ini operasional penerbangan dari dan ke Bandara Sultan Hasanuddin masih tetap aman dan lancar. Jarak pandang pilot juga masih sangat aman,” katanya.

BACA JUGA:  Cuaca Sulsel Hari Ini 12 Juli 2026 Cerah Berawan, BMKG Ingatkan Potensi Angin Kencang di Wilayah Selatan

Mahesa menjelaskan, apabila terjadi gangguan jarak pandang yang memengaruhi operasional penerbangan, otoritas terkait dapat mengeluarkan pemberitahuan resmi melalui Notice to Airmen (NOTAM).

Ia juga menyebut penerbangan dari dan menuju wilayah terdampak kebakaran lahan, seperti Kalimantan dan Papua, masih terpantau lancar.

“Sejauh ini masih aman. Selama AirNav tidak menerbitkan NOTAM, operasional penerbangan, baik take off maupun landing, masih aman,” ujarnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru