SulawesiPos.com – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Wae Manurung Kabupaten Bone turun langsung mengecek meteran dan jaringan air pelanggan yang mengeluhkan lonjakan tagihan hingga lebih dari Rp800 ribu. Hasil pemeriksaan menemukan pipa bocor setelah meteran serta tiga rumah dan satu warung menggunakan satu meteran air.
Sebelumnya, keluhan soal lonjakan tagihan air Perumda Air Minum Wae Manurung Bone mencuat setelah seorang warga Perumahan BTN Bulu Tempe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mempertanyakan pembayaran rekening yang dinilai tidak wajar.
Pelanggan yang tercatat atas nama DRS dengan nomor pelanggan yang disamarkan, beralamat di BTN Bulu Tempe D/8, menyebut tagihan air yang sebelumnya berada di kisaran Rp200 ribuan melonjak hingga lebih dari Rp800 ribu pada periode penagihan terbaru.
Keluhan tersebut menjadi materi yang disuarakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bone saat menggelar aksi di Kantor PDAM Bone, Kamis (1/10/2026).
Direktur PDAM Bone Muh. Bachtiar Sairing melalui Kepala Satuan Pengawas Internal (SPI) PDAM Wae Manurung Bone, Ilham Saguni, mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi meteran dan jaringan air pelanggan yang menjadi sorotan.
Ilham menegaskan, berdasarkan hasil pengecekan, tidak ditemukan perbedaan pada angka meteran sebagaimana yang dipersoalkan.
Pencatatan meter juga disebut telah dilakukan sesuai kondisi di lapangan.
“Kita ada bukti foto karena memang petugas setiap melakukan pencatatan, itu di foto langsung. Dan memang setelah kita cek, tidak ada yang berbeda. Itu juga kita bandingkan dengan meteran sebelumnya. Meteran sudah dicatat dengan baik,” kata Ilham.
Ia menjelaskan, persoalan tersebut awalnya muncul setelah pelanggan meminta kebijakan berupa pengurangan pembayaran rekening air.
Menindaklanjuti permintaan tersebut, PDAM kemudian melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pembayaran yang dikeluhkan pelanggan.
Hasil pemeriksaan, kata Ilham, ditemukan adanya kebocoran pada pipa.
Namun, posisi kebocoran tersebut berada pada jaringan setelah meteran pelanggan.
“Awalnya ini orang meminta kebijakan pengurangan pembayaran. Setelah diteliti ada yang bocor pipanya dan itu pipa setelah meteran,” jelasnya.
Untuk memastikan kondisi tersebut, PDAM menurunkan tim ke lokasi. Pemeriksaan dilakukan Kepala Bagian Langganan bersama Kepala Subbagian Pencatat Meter, dengan didampingi Kepala Unit Tirong.
“Kabag langganan dan kasubag pencatat meter yang turun langsung didampingi Kepala Unit Tirong,” ujar Ilham.
Tak hanya menemukan persoalan kebocoran, tim survei PDAM juga menemukan adanya penggunaan satu meteran untuk beberapa rumah.
Menurut Ilham, hasil survei menunjukkan terdapat tiga rumah yang menggunakan satu meteran air. Termasuk sebuah warung yang ikut menggunakan sambungan tersebut.
“Menurut tim survei ada tiga rumah yang pakai itu meteran. Termasuk ada warung,” ungkapnya.
Penggunaan meteran bersama dengan warung tersebut, lanjut Ilham, menjadi persoalan tersendiri karena warung masuk dalam kategori pelanggan niaga kecil. Dengan demikian, penggunaan air untuk kegiatan usaha seharusnya menggunakan meteran tersendiri sesuai peruntukannya.
“Warung itu sudah melanggar karena warung itu masuk kategori niaga kecil dan harus pakai meteran sendiri,” tegasnya.
PDAM Wae Manurung Bone juga memastikan setiap keluhan pelanggan tetap ditindaklanjuti melalui pemeriksaan langsung, sehingga persoalan pembayaran maupun kondisi jaringan dapat diketahui berdasarkan fakta di lapangan. (kar)


