Categories: Sulsel

Haul ke-312 Lapatau Matanna Tikka & Silatnas PERWIRA-LPMT, Wabup Bone: Jangan Kehilangan Akar Seja

SulawesiPos.com — Haul ke-312 Lapatau Matanna Tikka menjadi momentum penting untuk kembali meneguhkan ingatan sejarah dan memperkuat ikatan kebudayaan masyarakat Bone.

Pesan itu mengemuka dalam Haul ke-312 Lapatau Matanna Tikka yang dirangkaikan dengan Silaturahmi Nasional (Silatnas) serta Pelantikan Pengurus Perkumpulan Wija Raja Lapatau Matanna Tikka (PERWIRA-LPMT) periode 2026–2031 di Aula Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif, Bone, Jumat (25/9/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema “Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng” tersebut dibuka secara resmi Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M.

Agenda ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Festival Gau Maraja 2026 yang berlangsung pada 25–30 September di sejumlah lokasi di Kabupaten Bone.

Dalam sambutannya, Andi Akmal menegaskan bahwa haul Lapatau Matanna Tikka tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi ruang untuk menggali kembali nilai-nilai sejarah dan keteladanan leluhur.

Haul ke-312 Lapatau Matanna Tikka di Bone menjadi momentum memperkuat sejarah, budaya, dan identitas masyarakat untuk generasi mendatang.

Menurutnya, generasi sekarang, khususnya generasi muda Bone, perlu memahami sejarah dan budaya daerah agar tidak tercerabut dari akar identitasnya.

“Melalui kegiatan haul dan silaturahmi nasional ini, kita tidak hanya mengenang jasa dan perjuangan Lapatau Matanna Tikka, tetapi juga menjadikan nilai-nilai luhur yang diwariskannya sebagai inspirasi dalam membangun kehidupan bermasyarakat,” ujar Andi Akmal.

Ia menyebut Lapatau Matanna Tikka mewariskan nilai perjuangan, kepemimpinan, persatuan dan pengabdian yang tetap relevan untuk kehidupan masyarakat saat ini.

Karena itu, pelestarian sejarah dan budaya dinilai bukan sekadar menjaga masa lalu, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menyiapkan masa depan Bone.

Jangan Kehilangan Akar Sejarah

Andi Akmal juga mengingatkan pentingnya falsafah Bugis “mali siparampe, tappa sipatokong, malilu sipakainge” sebagai nilai yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan masyarakat.

Falsafah tersebut mengajarkan pentingnya saling membantu, menopang dan mengingatkan ketika ada yang menghadapi kesulitan maupun kekeliruan.

“Generasi muda Bone harus memahami akar sejarah dan kebudayaannya. Itu menjadi modal penting untuk membangun masa depan sekaligus memperkuat posisi Bone sebagai daerah yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya,” katanya.

Ia berharap keberadaan PERWIRA-LPMT dapat menjadi salah satu kekuatan dalam menjaga hubungan kekeluargaan antarwija sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam pelestarian sejarah, adat dan kebudayaan Bone.

18 Catatan Harian Kerajaan Bone

Sementara itu, Ketua Umum PERWIRA-LPMT, Andi Muhammad Sapri Pamulu, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pemangku adat, komunitas kebudayaan dan kalangan akademisi.

Sapri mengungkapkan, Pemkab Bone telah menjalin kerja sama dengan Perwira Lontara dalam pelestarian objek pemajuan kebudayaan (OPK) dan manuskrip.

Kerja sama tersebut juga melibatkan sejumlah kerajaan, termasuk Gowa dan Soppeng.

Menurut Sapri, terdapat 18 buku harian atau catatan penting Kerajaan Bone yang mencakup periode 1660 hingga 1910. Dari jumlah tersebut, lima buku telah diterbitkan. Empat di antaranya mendapat dukungan Pemkab Bone, sementara satu buku dibantu Pemkab Soppeng.

Seluruh catatan tersebut direncanakan disusun menjadi Bone Annals, sebagai dokumentasi sejarah yang dapat menjadi rujukan bagi generasi mendatang.

“Ini bukan hanya soal menerbitkan buku. Ini adalah upaya menyelamatkan memori sejarah Bone agar tidak hilang dan dapat dibaca oleh generasi berikutnya,” kata Sapri.

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan buku Catatan Harian Raja Bone XXIII, La Tenri Tappu, Sultan Ahmad Saleh Syamsuddin, kepada Pemerintah Kabupaten Bone.

Buku tersebut terdiri atas dua jilid. Jilid pertama mencatat periode Januari 1775 hingga Desember 1785, sedangkan jilid kedua memuat catatan Januari 1786 hingga Desember 1795.

Alih aksara dan terjemahan dikerjakan Andi Sofyan Hady, sementara Muhammad Sapri Andi Pamulu, Ph.D., bertindak sebagai editor.

Perluas Jejaring Sejarah hingga Internasional

Sapri berharap dukungan pemerintah daerah terhadap pendanaan penerbitan arsip, dokumentasi adat istiadat dan kajian sejarah dapat terus diperkuat.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para dewan pakar dan akademisi yang ikut mendukung kerja-kerja pelestarian sejarah Bone, termasuk Prof. Dr. As Datuk dan Prof. Kemble McNight dari Australia yang dijadwalkan hadir dalam kegiatan pada November mendatang.

Jejaring kebudayaan, kata dia, juga perlu diperluas hingga tingkat nasional dan internasional, termasuk dengan menelusuri arsip-arsip sejarah Bone yang tersimpan di Belanda dan Inggris.

Untuk pelaksanaan Festival Gau Maraja mendatang, PERWIRA-LPMT juga membuka kemungkinan menghadirkan para raja dari berbagai wilayah Nusantara.

Sejarah dan Budaya Jadi Kekuatan Bone

Di sisi lain, Andi Akmal mengatakan Festival Gau Maraja yang mengusung semangat “Simponi Lumbung” diharapkan tidak hanya menjadi agenda kebudayaan, tetapi juga memberi dampak terhadap perekonomian masyarakat.

Menurutnya, kekayaan sejarah dan budaya dapat dikembangkan menjadi kekuatan pariwisata sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat.

Ia juga menyampaikan sejumlah perkembangan pembangunan Bone, di antaranya perbaikan sekitar 371 kilometer jalan, pertumbuhan ekonomi 7,84 persen pada triwulan I 2026, serta capaian Bone di bidang produksi beras dan penghargaan TPID Kabupaten/Kota Berkinerja Terbaik 2026.

Sejumlah proyek strategis juga tengah didorong, termasuk rencana perpanjangan landasan Bandara Arung Palakka dari 1.400 meter menjadi 2.500 meter, pembangunan Pelabuhan Tondong dengan nilai investasi sekitar Rp1,7 triliun, pembangunan SMA Taruna, sekolah KKSS dan Sekolah Rakyat di Bajoe, serta pengembangan kawasan hilirisasi ayam terintegrasi bersama PTPN.

Andi Akmal menegaskan, pembangunan fisik dan pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pelestarian identitas daerah.

Karena itu, momentum Haul ke-312 Lapatau Matanna Tikka dan Silatnas PERWIRA-LPMT diharapkan menjadi pengingat bahwa kemajuan Bone tidak harus membuat masyarakat meninggalkan sejarahnya.

Sebaliknya, sejarah dan budaya harus menjadi akar yang menguatkan langkah Bone menuju masa depan.

“Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng. Bersama membangun Bone yang mandiri, berkeadilan, dan berkelanjutan,” tutup Andi Akmal. (kar)

Yaslinda Utari

Share
Published by
Yaslinda Utari
Tags: Lapatau Matanna Tikka Haul Lapatau Bone