Bentrok SPIDI dan Massa Pesantren di Maros, Kapolsek Tertabrak Mobil

Kabag Ops Polres Maros Kompol Syarifuddin mengatakan sengketa kepemilikan lahan telah berlangsung selama beberapa tahun.

“Kita kurang mendalami, tapi informasi bahwa (sengketa kepemilikan lahan antara dua yayasan) ini sudah berjalan beberapa tahun,” ujar Syarifuddin.

Tim Markom SPIDI Maros, Minar, menyebut konflik itu melibatkan anggota keluarga yang mengelola dua lembaga berbeda.

Pihak Pesantren Darul Istiqamah mengklaim memiliki hak atas lahan yang ditempati SPIDI, sedangkan pihak SPIDI menyatakan memiliki badan hukum dan izin operasional.

“Akar masalahnya ini perselisihan internal keluarga. Konflik sengketa lahan ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa titik temu,” kata Minar.

Menurut versi SPIDI, ketegangan terbaru bermula ketika sejumlah orang memasuki dan menempati kawasan sekolah sejak Jumat (4/9/2026).

Mereka disebut memasang tenda serta menggunakan fasilitas di dalam area tersebut.

“Mereka masuk dan menduduki secara paksa lingkungan sekolah, melakukan aktivitas seperti memasang tenda, menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di dalam kelas, bahkan ada yang memasak sampai bermain bulu tangkis di sana,” ujar Minar.

BACA JUGA:  Tim SAR Temukan Jenazah Korban Kedua yang Terseret Arus Sungai Kalimborang, Operasi Pencarian Ditutup

Pihak SPIDI juga menyebut pemasangan garis polisi di depan portal sekolah ikut memicu ketegangan.

Pada Selasa (8/9/2026), orang tua siswi terlibat saling dorong dengan massa dari pihak pesantren sebelum polisi memisahkan kedua kelompok.

Pengelola Pesantren Darul Istiqamah belum memberikan tanggapan terbaru kepada media mengenai bentrokan Kamis dini hari maupun klaim yang disampaikan pihak SPIDI.

Dokumen kepemilikan lahan dari kedua pihak juga belum dipaparkan secara terbuka.

700 Siswi Sempat Dialihkan Belajar Daring

Konflik tersebut berdampak pada kegiatan belajar sekitar 700 siswi dari jenjang daycare, PAUD, SD, SMP, hingga SMA berasrama.

Sejumlah kelas yang terdampak tidak dapat digunakan sehingga sebagian murid dialihkan mengikuti pembelajaran daring.

“Di sini ada sekitar 700 siswa di lingkungan sekolah. Karena kelas-kelas yang mereka duduki di depan itu tidak bisa terpakai, beberapa anak dialihkan untuk belajar online. Namun kalau ada yang mau sekolah offline, kita tetap buka,” kata Minar, Rabu (9/9/2026).

BACA JUGA:  Kabur Lompat ke Sungai, Residivis Pencurian Rumah di Maros Akhirnya Ditangkap di Pelabuhan Makassar

Parents Association Sekolah Alam Darul Istiqamah (SADIQ), yang berada dalam lingkungan yang sama, mendatangi Polres Maros untuk meminta pengamanan.

Kabag Ops Polres Maros Kompol Syarifuddin mengatakan sengketa kepemilikan lahan telah berlangsung selama beberapa tahun.

“Kita kurang mendalami, tapi informasi bahwa (sengketa kepemilikan lahan antara dua yayasan) ini sudah berjalan beberapa tahun,” ujar Syarifuddin.

Tim Markom SPIDI Maros, Minar, menyebut konflik itu melibatkan anggota keluarga yang mengelola dua lembaga berbeda.

Pihak Pesantren Darul Istiqamah mengklaim memiliki hak atas lahan yang ditempati SPIDI, sedangkan pihak SPIDI menyatakan memiliki badan hukum dan izin operasional.

“Akar masalahnya ini perselisihan internal keluarga. Konflik sengketa lahan ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa titik temu,” kata Minar.

Menurut versi SPIDI, ketegangan terbaru bermula ketika sejumlah orang memasuki dan menempati kawasan sekolah sejak Jumat (4/9/2026).

Mereka disebut memasang tenda serta menggunakan fasilitas di dalam area tersebut.

“Mereka masuk dan menduduki secara paksa lingkungan sekolah, melakukan aktivitas seperti memasang tenda, menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di dalam kelas, bahkan ada yang memasak sampai bermain bulu tangkis di sana,” ujar Minar.

BACA JUGA:  326 Kepala Sekolah di Sulsel Ajukan Mundur Usai Temuan Dana BOS

Pihak SPIDI juga menyebut pemasangan garis polisi di depan portal sekolah ikut memicu ketegangan.

Pada Selasa (8/9/2026), orang tua siswi terlibat saling dorong dengan massa dari pihak pesantren sebelum polisi memisahkan kedua kelompok.

Pengelola Pesantren Darul Istiqamah belum memberikan tanggapan terbaru kepada media mengenai bentrokan Kamis dini hari maupun klaim yang disampaikan pihak SPIDI.

Dokumen kepemilikan lahan dari kedua pihak juga belum dipaparkan secara terbuka.

700 Siswi Sempat Dialihkan Belajar Daring

Konflik tersebut berdampak pada kegiatan belajar sekitar 700 siswi dari jenjang daycare, PAUD, SD, SMP, hingga SMA berasrama.

Sejumlah kelas yang terdampak tidak dapat digunakan sehingga sebagian murid dialihkan mengikuti pembelajaran daring.

“Di sini ada sekitar 700 siswa di lingkungan sekolah. Karena kelas-kelas yang mereka duduki di depan itu tidak bisa terpakai, beberapa anak dialihkan untuk belajar online. Namun kalau ada yang mau sekolah offline, kita tetap buka,” kata Minar, Rabu (9/9/2026).

BACA JUGA:  Enam Bulan Buron, DPO Curanmor Showroom di Maros Akhirnya Ditangkap

Parents Association Sekolah Alam Darul Istiqamah (SADIQ), yang berada dalam lingkungan yang sama, mendatangi Polres Maros untuk meminta pengamanan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru