“Jaga Diska Sampai Selamat”, Pesan Terakhir Ayah Sebelum Hilang di Laut dalam Tragedi KM Nurul Salsa

SulawesiPos.com – “Jaga Diska sampai selamat.”

Kalimat itu menjadi pesan terakhir Hasbi (41) sebelum tubuhnya terseret gelombang setinggi sekitar tiga meter di perairan Selayar, Sulawesi Selatan. Pesan tersebut kini menjadi potongan kisah paling menyayat dari tragedi tenggelamnya KM Nurul Salsa yang hingga kini masih menyisakan korban dalam pencarian.

Hasbi mengucapkan kalimat itu kepada adiknya, Bau Asseng (23), ketika tujuh penumpang bertahan hidup di atas selembar papan gabus berukuran sekitar 1,5 meter setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam.

Beberapa saat kemudian, Hasbi terlepas dari pegangan akibat hantaman ombak dan hilang terbawa arus.

“Sampai sekarang kami tidak tahu bagaimana kondisinya. Terakhir saya dengar dia berteriak agar Diska dijaga sampai selamat,” kenang Bau Asseng.

Pesan itu kemudian benar-benar dipegang oleh para penyintas yang tersisa. Selama empat hari empat malam mereka bergantian menjaga Diska Yanti, bocah berusia tujuh tahun yang harus menghadapi tragedi terbesar dalam hidupnya di tengah laut.

BACA JUGA:  Pencarian 20 Korban KM Nurul Salsa Diperluas hingga Selat Makassar

Bertahan di Atas Papan Gabus

KM Nurul Salsa dilaporkan tenggelam di perairan barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, saat cuaca buruk melanda kawasan tersebut pada Rabu (15/7/2026).

Gelombang tinggi dan angin kencang membuat para penumpang berupaya menyelamatkan diri dengan alat apung seadanya.

Diska terus bersama kedua orang tuanya hingga mereka menemukan papan gabus yang kemudian menjadi tumpuan hidup tujuh orang korban.

Hari pertama hingga kedua diisi perjuangan melawan ombak, dingin, kelelahan, dan minimnya persediaan air maupun makanan.

Namun petaka kembali datang ketika Hasbi terlepas dari papan gabus setelah diterjang ombak besar.

Sejak saat itu, Bau Asseng bersama penyintas lainnya berusaha memenuhi permintaan terakhir sang ayah dengan menjaga Diska agar tetap selamat.

Sang Ibu Bertahan Demi Putrinya

Kehilangan suami membuat kondisi Malida (31) semakin melemah. Meski tenaganya terus berkurang, ia tetap berusaha menopang putrinya.

Menurut keterangan keluarga dan penyintas, Malida masih memegang kaki Diska agar posisi anaknya tetap stabil di atas papan gabus.

BACA JUGA:  Selat Hormuz Memanas, 1 Kapal Dilaporkan Tenggelam, Lebih dari 150 Lepas Jangkar

Memasuki hari ketiga, tubuhnya tak lagi mampu bertahan.

“Nyawanya tidak bisa diselamatkan, sudah tidak mampu bertahan mengapung, kasihan,” ujar Andi Samad, penyintas KM Nurul Salsa sekaligus paman Diska.

Dalam situasi yang sangat sulit, para korban akhirnya menghanyutkan jasad Malida ke laut karena kondisinya mulai membusuk dan dikhawatirkan membahayakan keselamatan penyintas lain yang masih bertahan di atas papan gabus.

Cermin Makeup Menjadi Harapan Terakhir

Hari keempat menjadi masa paling kritis.

Lima penyintas yang tersisa sudah kehabisan tenaga. Suara mereka nyaris hilang sehingga tak lagi mampu berteriak meminta pertolongan.

Harapan muncul ketika sebuah kapal nelayan melintas di sekitar Pulau Matallang, Kepulauan Sabalana. Namun jarak yang cukup jauh membuat awak kapal tidak menyadari keberadaan mereka.

Dalam kondisi tersebut, Bau Asseng teringat sebuah cermin makeup kecil yang masih tersimpan di dalam tasnya. Ia kemudian memantulkan cahaya matahari menggunakan cermin ke arah kapal nelayan.

Kilatan cahaya itu berhasil menarik perhatian awak KMN Sinar Mattoanging 04 yang kemudian memutar haluan dan mengevakuasi lima korban pada Sabtu (18/7/2026) sekitar pukul 17.00 Wita.

BACA JUGA:  Dua Korban KM Nurul Salsa Ditemukan Selamat di Pulau Balaloho, Total Survivor Kini 59 Orang

Kelima korban selamat yakni Sitti Amang (55), Andi Samad (62), Bau Asseng (23), Diska Yanti (7), dan Sri Ardita (17).

SulawesiPos.com – “Jaga Diska sampai selamat.”

Kalimat itu menjadi pesan terakhir Hasbi (41) sebelum tubuhnya terseret gelombang setinggi sekitar tiga meter di perairan Selayar, Sulawesi Selatan. Pesan tersebut kini menjadi potongan kisah paling menyayat dari tragedi tenggelamnya KM Nurul Salsa yang hingga kini masih menyisakan korban dalam pencarian.

Hasbi mengucapkan kalimat itu kepada adiknya, Bau Asseng (23), ketika tujuh penumpang bertahan hidup di atas selembar papan gabus berukuran sekitar 1,5 meter setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam.

Beberapa saat kemudian, Hasbi terlepas dari pegangan akibat hantaman ombak dan hilang terbawa arus.

“Sampai sekarang kami tidak tahu bagaimana kondisinya. Terakhir saya dengar dia berteriak agar Diska dijaga sampai selamat,” kenang Bau Asseng.

Pesan itu kemudian benar-benar dipegang oleh para penyintas yang tersisa. Selama empat hari empat malam mereka bergantian menjaga Diska Yanti, bocah berusia tujuh tahun yang harus menghadapi tragedi terbesar dalam hidupnya di tengah laut.

BACA JUGA:  KLM Nurul Salsa Tenggelam di Selayar, 24 Penumpang Masih Dicari

Bertahan di Atas Papan Gabus

KM Nurul Salsa dilaporkan tenggelam di perairan barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, saat cuaca buruk melanda kawasan tersebut pada Rabu (15/7/2026).

Gelombang tinggi dan angin kencang membuat para penumpang berupaya menyelamatkan diri dengan alat apung seadanya.

Diska terus bersama kedua orang tuanya hingga mereka menemukan papan gabus yang kemudian menjadi tumpuan hidup tujuh orang korban.

Hari pertama hingga kedua diisi perjuangan melawan ombak, dingin, kelelahan, dan minimnya persediaan air maupun makanan.

Namun petaka kembali datang ketika Hasbi terlepas dari papan gabus setelah diterjang ombak besar.

Sejak saat itu, Bau Asseng bersama penyintas lainnya berusaha memenuhi permintaan terakhir sang ayah dengan menjaga Diska agar tetap selamat.

Sang Ibu Bertahan Demi Putrinya

Kehilangan suami membuat kondisi Malida (31) semakin melemah. Meski tenaganya terus berkurang, ia tetap berusaha menopang putrinya.

Menurut keterangan keluarga dan penyintas, Malida masih memegang kaki Diska agar posisi anaknya tetap stabil di atas papan gabus.

BACA JUGA:  Hari Keempat SAR KM Nurul Salsa, Basarnas Makassar Perluas Area Pencarian Jadi 408 Nm Persegi

Memasuki hari ketiga, tubuhnya tak lagi mampu bertahan.

“Nyawanya tidak bisa diselamatkan, sudah tidak mampu bertahan mengapung, kasihan,” ujar Andi Samad, penyintas KM Nurul Salsa sekaligus paman Diska.

Dalam situasi yang sangat sulit, para korban akhirnya menghanyutkan jasad Malida ke laut karena kondisinya mulai membusuk dan dikhawatirkan membahayakan keselamatan penyintas lain yang masih bertahan di atas papan gabus.

Cermin Makeup Menjadi Harapan Terakhir

Hari keempat menjadi masa paling kritis.

Lima penyintas yang tersisa sudah kehabisan tenaga. Suara mereka nyaris hilang sehingga tak lagi mampu berteriak meminta pertolongan.

Harapan muncul ketika sebuah kapal nelayan melintas di sekitar Pulau Matallang, Kepulauan Sabalana. Namun jarak yang cukup jauh membuat awak kapal tidak menyadari keberadaan mereka.

Dalam kondisi tersebut, Bau Asseng teringat sebuah cermin makeup kecil yang masih tersimpan di dalam tasnya. Ia kemudian memantulkan cahaya matahari menggunakan cermin ke arah kapal nelayan.

Kilatan cahaya itu berhasil menarik perhatian awak KMN Sinar Mattoanging 04 yang kemudian memutar haluan dan mengevakuasi lima korban pada Sabtu (18/7/2026) sekitar pukul 17.00 Wita.

BACA JUGA:  Pencarian 20 Korban KM Nurul Salsa Diperluas hingga Selat Makassar

Kelima korban selamat yakni Sitti Amang (55), Andi Samad (62), Bau Asseng (23), Diska Yanti (7), dan Sri Ardita (17).

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru