Wisata Religi ke Masjid Lompoe Maros: Napak Tilas Penyebaran Islam di Maros Abad Ke-19

SulawesiPos.com – Bagi para pecinta wisata sejarah dan religi, Kabupaten Maros memiliki destinasi ikonik yang tak boleh dilewatkan.

Berdiri megah di Jalan Poros Bantimurung, Kelurahan Turikale, Masjid Besar Urwatul Wutsqa atau yang lebih populer dikenal sebagai Masjid Lompoe menawarkan pengalaman spiritual sekaligus napak tilas sejarah Islam di Sulawesi Selatan.

Masjid yang kini berusia 172 tahun ini didirikan oleh Raja Keempat Turikale, Andi Sanrima Daeng Parukka (Syech Abdul Qadir Jaelani), pada 5 Oktober 1854.

Menariknya, pendirian masjid ini hanya berselang tiga bulan sebelum wafatnya Pangeran Diponegoro di pengasingan Makassar pada 8 Januari 1855.

Di masa itu, anggota laskar Pangeran Diponegoro sudah mulai mengenal pendidikan Islam melalui pesantren yang dijadikan basis perjuangan melawan penjajah.

IMG-20260506-WA0021
Salat maghrib berjamaah di Masjid Lompoe Maros, Selasa (5/5/2026).

Menurut Andi Muhammad Ali Alkhuraidi, salah satu keturunan Karaeng Turikale, yang ditemui Sulawesi Pos, Selasa malam (5/5/2026), salah satu keistimewaan Masjid Lompoe adalah jamaah masjid masih rutin menggelar zikir dengan suara keras (jahar) yang dikenal dengan istilah lokal Maddate’, yang merupakan ajaran dari Tarekat Khalwatiyah Samman, yang memiliki banyak pengikut di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah Maros.

BACA JUGA: 
Air Terjun Lacolla Maros: Keindahan Air Terjun Bertingkat di Tengah Hutan

“Kami rutin setelah salat berjamaah Isya dan Subuh, imam salat akan memimpin zikir atau maddate’, satu amalan khusus untuk mendekatkan diri kepada Allah,” ujar Ali.

Daya tarik utama Masjid Lompoe terletak pada detail arsitekturnya yang khas. Peziarah dapat mengagumi sistem “dua lapis” dinding yang unik, yang memiliki 21 pintu.

Di sisi luar, memiliki 10 pintu berbentuk segi lima dengan dominasi warna hijau yang segar.

Sedangkan di sisi dalam terdapat 11 pintu berbentuk kubah yang dihiasi ukiran kaligrafi doa yang artistik.

Di depan masjid juga terdapat makam pendiri masjid, Karaeng Turikale ke-4 Andi Sanrima Daeng Parukka, bersama beberapa makam anggota keluarga Karaeng Turikale lainnya.

Meskipun sebagian besar bangunan telah direnovasi untuk kenyamanan jamaah, pengunjung masih bisa melihat beberapa artefak asli yang tetap dipertahankan sejak masa silam.

Salah satunya adalah bedug raksasa yang masih kokoh dan mimbar masjid dengan ornamen berbentuk nanas pada bagian atasnya yang ikonik.

BACA JUGA: 
Waterboom Grand Mall Maros, Wisata Air Seru Dekat Makassar yang Cocok untuk Keluarga

Disebut juga sebagai Masjid Pasar Tua, lokasi ini mencerminkan tata kota klasik Indonesia di mana pusat ekonomi dan spiritual tumbuh berdampingan.

Bagi pengunjung yang datang dari arah Makassar menuju Taman Nasional Bantimurung, masjid ini menjadi persinggahan sempurna untuk beribadah sekaligus mengagumi sisa-sisa kejayaan masa lalu.

Ali menambahkan, saat ini pihak keturunan keluarga besar Dewan Adat Turikale sedang mengupayakan agar Masjid Lompoe ini masuk dalam daftar bangunan Cagar Budaya, yang pelestariannya ikut didukung pemerintah sesuai UU RI No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

“Saat ini kami telah berkumpul bersama membahas pengusulan Masjid Lompoe didaftar sebagai cagar budaya di Maros, dengan dukungan pemerintah, kami harapkan kelestarian masjid ini tetap terjaga,” tutup Ali.

Masjid Lompoe bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol “simpul kokoh” (Urwatul Wutsqa) yang terus menyiarkan kebaikan melintasi zaman, dari masa Karaeng Turikale ke-4 hingga Karaeng Turikale ke-8. (man abdurrahman)

BACA JUGA: 
Pantai Kuri Caddi, Wisata Sunyi nan Asri di Maros

SulawesiPos.com – Bagi para pecinta wisata sejarah dan religi, Kabupaten Maros memiliki destinasi ikonik yang tak boleh dilewatkan.

Berdiri megah di Jalan Poros Bantimurung, Kelurahan Turikale, Masjid Besar Urwatul Wutsqa atau yang lebih populer dikenal sebagai Masjid Lompoe menawarkan pengalaman spiritual sekaligus napak tilas sejarah Islam di Sulawesi Selatan.

Masjid yang kini berusia 172 tahun ini didirikan oleh Raja Keempat Turikale, Andi Sanrima Daeng Parukka (Syech Abdul Qadir Jaelani), pada 5 Oktober 1854.

Menariknya, pendirian masjid ini hanya berselang tiga bulan sebelum wafatnya Pangeran Diponegoro di pengasingan Makassar pada 8 Januari 1855.

Di masa itu, anggota laskar Pangeran Diponegoro sudah mulai mengenal pendidikan Islam melalui pesantren yang dijadikan basis perjuangan melawan penjajah.

IMG-20260506-WA0021
Salat maghrib berjamaah di Masjid Lompoe Maros, Selasa (5/5/2026).

Menurut Andi Muhammad Ali Alkhuraidi, salah satu keturunan Karaeng Turikale, yang ditemui Sulawesi Pos, Selasa malam (5/5/2026), salah satu keistimewaan Masjid Lompoe adalah jamaah masjid masih rutin menggelar zikir dengan suara keras (jahar) yang dikenal dengan istilah lokal Maddate’, yang merupakan ajaran dari Tarekat Khalwatiyah Samman, yang memiliki banyak pengikut di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah Maros.

BACA JUGA: 
Pantai Kuri Caddi, Wisata Sunyi nan Asri di Maros

“Kami rutin setelah salat berjamaah Isya dan Subuh, imam salat akan memimpin zikir atau maddate’, satu amalan khusus untuk mendekatkan diri kepada Allah,” ujar Ali.

Daya tarik utama Masjid Lompoe terletak pada detail arsitekturnya yang khas. Peziarah dapat mengagumi sistem “dua lapis” dinding yang unik, yang memiliki 21 pintu.

Di sisi luar, memiliki 10 pintu berbentuk segi lima dengan dominasi warna hijau yang segar.

Sedangkan di sisi dalam terdapat 11 pintu berbentuk kubah yang dihiasi ukiran kaligrafi doa yang artistik.

Di depan masjid juga terdapat makam pendiri masjid, Karaeng Turikale ke-4 Andi Sanrima Daeng Parukka, bersama beberapa makam anggota keluarga Karaeng Turikale lainnya.

Meskipun sebagian besar bangunan telah direnovasi untuk kenyamanan jamaah, pengunjung masih bisa melihat beberapa artefak asli yang tetap dipertahankan sejak masa silam.

Salah satunya adalah bedug raksasa yang masih kokoh dan mimbar masjid dengan ornamen berbentuk nanas pada bagian atasnya yang ikonik.

BACA JUGA: 
Kafe Goa Rammang-Rammang Maros, Nongkrong Unik di Dalam Goa Karst dengan Panorama Senja

Disebut juga sebagai Masjid Pasar Tua, lokasi ini mencerminkan tata kota klasik Indonesia di mana pusat ekonomi dan spiritual tumbuh berdampingan.

Bagi pengunjung yang datang dari arah Makassar menuju Taman Nasional Bantimurung, masjid ini menjadi persinggahan sempurna untuk beribadah sekaligus mengagumi sisa-sisa kejayaan masa lalu.

Ali menambahkan, saat ini pihak keturunan keluarga besar Dewan Adat Turikale sedang mengupayakan agar Masjid Lompoe ini masuk dalam daftar bangunan Cagar Budaya, yang pelestariannya ikut didukung pemerintah sesuai UU RI No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

“Saat ini kami telah berkumpul bersama membahas pengusulan Masjid Lompoe didaftar sebagai cagar budaya di Maros, dengan dukungan pemerintah, kami harapkan kelestarian masjid ini tetap terjaga,” tutup Ali.

Masjid Lompoe bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol “simpul kokoh” (Urwatul Wutsqa) yang terus menyiarkan kebaikan melintasi zaman, dari masa Karaeng Turikale ke-4 hingga Karaeng Turikale ke-8. (man abdurrahman)

BACA JUGA: 
Waterboom Grand Mall Maros, Wisata Air Seru Dekat Makassar yang Cocok untuk Keluarga

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru