Ironi Juara Thailand Masters, Adnan–Indah Justru Tak Masuk Daftar All England

Netizen lainnya, Andika, juga menilai adanya perlakuan berbeda terhadap Indah-Adnan dibanding atlet lain di Pelatnas.

Menurutnya, ada pasangan yang minim prestasi justru rutin dikirim ke turnamen besar seperti All England atau China Open.

“Sementara Indah-Adnan sudah beberapa kali juara, tapi malah tidak diberi panggung. Wajar kalau atlet merasa kecewa,” katanya.

Pemerhati bulutangkis di Bone, Nurlis, berharap PBSI belajar dari kasus Sabar-Reza yang memilih keluar dari Pelatnas akibat minim kesempatan bertanding.

Setelah mandiri, pasangan tersebut justru berkembang pesat dan kini diperhitungkan di level dunia.

“Pasangan Indah-Adnan harusnya diberikan lebih banyak kesempatan bermain. Di Indonesia Open super 1000 kemarin, pasangan ini satu-satunya ganda Indonesia yang lolos 8 besar. Kemudian juara lagi di Thailand Master,” kata Nurlis.

Ia juga menyoroti dampak psikologis terhadap atlet. “Pelatih ini pernah jadi atlet, bagaimana perasaannya kalau dibegitukan. Bagaimana anak-anak mau berkembang kalau kariernya dimatikan. Tidak diberikan pengalaman bertanding di kejuaraan bergengsi dunia,” tambahnya.

BACA JUGA: 
Warga Geger, Ular Piton 4 Meter Bersarang di Pipa Pembuangan Rumah

Sementara itu, orang tua Indah, H. Jamil, berharap PBSI lebih objektif dan profesional dalam menyeleksi atlet, tanpa dipengaruhi faktor like and dislike (suka atau tidak suka).

“Memang banyak yang pertanyakan, ada apa di PBSI ini, khususnya di mix double (ganda campuran). Atletnya yang berprestasi malah tidak dikasih peluang lebih maju. Seperti Adnan-Indah ini, berprestasi tapi tidak dikirim ke turnamen besar. Malah atlet di bawahnya yang dikirim. PBSI ini sebenarnya mau cari prestasi atau matikan mental atletnya,” pungkasnya.

Prestasi Indah Cahya Sari Jamil

Netizen lainnya, Andika, juga menilai adanya perlakuan berbeda terhadap Indah-Adnan dibanding atlet lain di Pelatnas.

Menurutnya, ada pasangan yang minim prestasi justru rutin dikirim ke turnamen besar seperti All England atau China Open.

“Sementara Indah-Adnan sudah beberapa kali juara, tapi malah tidak diberi panggung. Wajar kalau atlet merasa kecewa,” katanya.

Pemerhati bulutangkis di Bone, Nurlis, berharap PBSI belajar dari kasus Sabar-Reza yang memilih keluar dari Pelatnas akibat minim kesempatan bertanding.

Setelah mandiri, pasangan tersebut justru berkembang pesat dan kini diperhitungkan di level dunia.

“Pasangan Indah-Adnan harusnya diberikan lebih banyak kesempatan bermain. Di Indonesia Open super 1000 kemarin, pasangan ini satu-satunya ganda Indonesia yang lolos 8 besar. Kemudian juara lagi di Thailand Master,” kata Nurlis.

Ia juga menyoroti dampak psikologis terhadap atlet. “Pelatih ini pernah jadi atlet, bagaimana perasaannya kalau dibegitukan. Bagaimana anak-anak mau berkembang kalau kariernya dimatikan. Tidak diberikan pengalaman bertanding di kejuaraan bergengsi dunia,” tambahnya.

BACA JUGA: 
Jadi Calon Tunggal di Lelang Jabatan, Camat Tanete Riattang Isi Jabatan Plt Kadis Ketapang

Sementara itu, orang tua Indah, H. Jamil, berharap PBSI lebih objektif dan profesional dalam menyeleksi atlet, tanpa dipengaruhi faktor like and dislike (suka atau tidak suka).

“Memang banyak yang pertanyakan, ada apa di PBSI ini, khususnya di mix double (ganda campuran). Atletnya yang berprestasi malah tidak dikasih peluang lebih maju. Seperti Adnan-Indah ini, berprestasi tapi tidak dikirim ke turnamen besar. Malah atlet di bawahnya yang dikirim. PBSI ini sebenarnya mau cari prestasi atau matikan mental atletnya,” pungkasnya.

Prestasi Indah Cahya Sari Jamil

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru