Pengamat: Diskresi DPP Golkar untuk IAS Tak Ubah Peta Dukungan Musda Sulsel

SulawesiPos.com – Keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar memberikan diskresi kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) untuk maju dalam Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) dinilai tidak akan mengubah peta dukungan pemilik suara. Mayoritas Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II saat ini disebut tetap solid mendukung Munafri Arifuddin (Appi).

​Pengamat politik, Arief Wicaksono, menjelaskan bahwa diskresi tersebut sekadar jalan masuk bagi IAS agar memenuhi syarat pencalonan. Hal ini berkaitan dengan aturan internal partai, yakni Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela (PDLT), mengingat IAS pernah berpindah haluan dari Golkar ke Partai Demokrat.

​”Diskresi itu dikeluarkan untuk orang-orang yang sesungguhnya tidak memenuhi syarat atau memiliki catatan masa lalu. Tanpa diskresi, dia (IAS) tidak bisa ikut Musda karena terkendala syarat PDLT,” ujar dosen FISIP Universitas Bosowa, Jumat, (26/6/2026).

​Menurut Arief, DPP Golkar memberikan kelonggaran tersebut karena memandang Musda Sulsel sebagai momentum penting bagi perkembangan partai. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemberian diskresi bukan berarti jaminan restu penuh untuk menang.

BACA JUGA:  Efisiensi Anggaran Jadi Prioritas, Wali Kota Makassar Putuskan Tak Beli Mobil Dinas Baru

​Arief menilai peluang IAS dalam kontestasi ini masih menghadapi tantangan berat. Pasalnya, peta kekuatan saat ini menunjukkan dominasi dukungan kepada kandidat lain.

​”Peluang Pak IAS sebetulnya sudah kelihatan dari solidnya dukungan 22 DPD kepada Pak Munafri Arifuddin. Artinya dukungan kepada Pak IAS relatif rendah,” jelasnya.

​Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa turunnya diskresi dari Ketua Umum Bahlil Lahadalia tidak serta-merta mampu menggeser pilihan para kader di daerah. Tradisi pemberian diskresi lebih dari satu kandidat juga pernah terjadi pada Musda-Musda Golkar sebelumnya.

​”Bagi yang memahami dinamika Golkar, diskresi itu tidak berarti apa-apa selain memberikan akses untuk ikut maju. Jangan langsung diartikan bahwa yang mendapatkan diskresi pasti akan terpilih,” pungkas Arief.

Terkait terbitnya diskresi Ketum Bahlil, salah satu dari 21 Ketua DPD II pendukung Munafri (Appi), Ketua DPD II Tana Toraja, Victor Datuan Batara, menegaskan kubunya tidak terpengaruh dengan surat sakti bagi IAS untuk maju di Musda. Kubu Appi siap menunggu IAS di Musda yang akan digelar awal Juli nanti.

BACA JUGA:  Cuaca Ekstrem Masih Berlangsung, Dampak Banjir di Makassar Justru Makin Mengecil

“Loyalis Appi, 21 DPD II se-Sulsel tidak ada yang lari, mayoritas DPD II, minus Bone, Barru, dan Parepare, masih menghendaki Appi maju di Musda Golkar,” tutup Victor.

SulawesiPos.com – Keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar memberikan diskresi kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) untuk maju dalam Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) dinilai tidak akan mengubah peta dukungan pemilik suara. Mayoritas Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II saat ini disebut tetap solid mendukung Munafri Arifuddin (Appi).

​Pengamat politik, Arief Wicaksono, menjelaskan bahwa diskresi tersebut sekadar jalan masuk bagi IAS agar memenuhi syarat pencalonan. Hal ini berkaitan dengan aturan internal partai, yakni Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela (PDLT), mengingat IAS pernah berpindah haluan dari Golkar ke Partai Demokrat.

​”Diskresi itu dikeluarkan untuk orang-orang yang sesungguhnya tidak memenuhi syarat atau memiliki catatan masa lalu. Tanpa diskresi, dia (IAS) tidak bisa ikut Musda karena terkendala syarat PDLT,” ujar dosen FISIP Universitas Bosowa, Jumat, (26/6/2026).

​Menurut Arief, DPP Golkar memberikan kelonggaran tersebut karena memandang Musda Sulsel sebagai momentum penting bagi perkembangan partai. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemberian diskresi bukan berarti jaminan restu penuh untuk menang.

BACA JUGA:  DPRD Makassar Apresiasi Penetapan Kepala Sekolah Definitif, Akhiri Era Plt Bertahun-tahun

​Arief menilai peluang IAS dalam kontestasi ini masih menghadapi tantangan berat. Pasalnya, peta kekuatan saat ini menunjukkan dominasi dukungan kepada kandidat lain.

​”Peluang Pak IAS sebetulnya sudah kelihatan dari solidnya dukungan 22 DPD kepada Pak Munafri Arifuddin. Artinya dukungan kepada Pak IAS relatif rendah,” jelasnya.

​Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa turunnya diskresi dari Ketua Umum Bahlil Lahadalia tidak serta-merta mampu menggeser pilihan para kader di daerah. Tradisi pemberian diskresi lebih dari satu kandidat juga pernah terjadi pada Musda-Musda Golkar sebelumnya.

​”Bagi yang memahami dinamika Golkar, diskresi itu tidak berarti apa-apa selain memberikan akses untuk ikut maju. Jangan langsung diartikan bahwa yang mendapatkan diskresi pasti akan terpilih,” pungkas Arief.

Terkait terbitnya diskresi Ketum Bahlil, salah satu dari 21 Ketua DPD II pendukung Munafri (Appi), Ketua DPD II Tana Toraja, Victor Datuan Batara, menegaskan kubunya tidak terpengaruh dengan surat sakti bagi IAS untuk maju di Musda. Kubu Appi siap menunggu IAS di Musda yang akan digelar awal Juli nanti.

BACA JUGA:  Efisiensi Anggaran Jadi Prioritas, Wali Kota Makassar Putuskan Tak Beli Mobil Dinas Baru

“Loyalis Appi, 21 DPD II se-Sulsel tidak ada yang lari, mayoritas DPD II, minus Bone, Barru, dan Parepare, masih menghendaki Appi maju di Musda Golkar,” tutup Victor.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru