Soroti Kondisi Geopolitik, Megawati Soekarnoputri Usulkan Konferensi Asia Afrika Jilid II dan Reformasi Total PBB

SulawesiPos.com – Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik global dalam beberapa waktu terakhir.

Ia mengusulkan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika (KAA) Jilid II sebagai forum strategis untuk mencari solusi atas berbagai krisis global.

Menurutnya, dunia saat ini membutuhkan pendekatan baru dalam mewujudkan perdamaian dan keadilan antarbangsa.

“Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika Jilid II sangat relevan. Di sinilah pemikiran geopolitik Bung Karno menjadi kompas bagi masa depan bangsa dan dunia,” ujar Megawati, dikutip dari JawaPos, Sabtu (18/4/2026).

Gagasan ini sejalan dengan dorongan untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas Asia-Afrika yang lahir dari KAA 1955.

Megawati menilai bahwa praktik neokolonialisme dan imperialisme masih berlangsung hingga saat ini, meski dalam bentuk yang berbeda dari masa lalu.

Karena itu, ia memandang KAA Jilid II sebagai momentum penting untuk menjaga kedaulatan negara-negara berkembang, khususnya di kawasan Asia dan Afrika.

Dalam berbagai forum sebelumnya, gagasan ini juga dikaitkan dengan upaya merespons ketimpangan global dan konflik internasional yang terus berlangsung.

BACA JUGA: 
Kecupan Sayang Prananda dan Puan untuk Megawati Soekarnoputri di HUT ke-53 PDIP

Selain mendorong KAA Jilid II, Megawati juga menyerukan reformasi menyeluruh terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ia menilai struktur PBB saat ini sudah tidak relevan karena dibentuk berdasarkan konfigurasi pasca-Perang Dunia II.

Salah satu poin utama yang disorot adalah keberadaan hak veto negara-negara besar yang dianggap menciptakan ketimpangan dalam sistem global.

Megawati bahkan mengusulkan perubahan Piagam PBB dengan memasukkan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan internasional.

Dorong Perubahan Struktur Global

Lebih lanjut, ia juga mengusulkan perubahan pada struktur Dewan Keamanan PBB, termasuk pemindahan markas besar organisasi tersebut ke negara yang lebih netral.

Menurutnya, langkah ini penting agar PBB tidak terjebak dalam kepentingan geopolitik negara besar.

Megawati menilai reformasi tersebut menjadi semakin mendesak di tengah meningkatnya konflik global, seperti dinamika di Venezuela dan ketegangan terhadap Iran.

Dalam pandangannya, gagasan Presiden pertama RI, Soekarno, tetap relevan dalam menghadapi tantangan global saat ini.

Ia menegaskan bahwa kesetaraan antarbangsa merupakan agenda besar yang harus terus diperjuangkan dalam sistem internasional.

BACA JUGA: 
PDI Perjuangan Tetapkan 21 Rekomendasi Eksternal Pada Rakernas 2026

“Bung Karno menyerukan reformasi atau re-tooling PBB. Kesetaraan antarbangsa menjadi agenda terbesar Bung Karno,” imbuhnya.

SulawesiPos.com – Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik global dalam beberapa waktu terakhir.

Ia mengusulkan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika (KAA) Jilid II sebagai forum strategis untuk mencari solusi atas berbagai krisis global.

Menurutnya, dunia saat ini membutuhkan pendekatan baru dalam mewujudkan perdamaian dan keadilan antarbangsa.

“Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika Jilid II sangat relevan. Di sinilah pemikiran geopolitik Bung Karno menjadi kompas bagi masa depan bangsa dan dunia,” ujar Megawati, dikutip dari JawaPos, Sabtu (18/4/2026).

Gagasan ini sejalan dengan dorongan untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas Asia-Afrika yang lahir dari KAA 1955.

Megawati menilai bahwa praktik neokolonialisme dan imperialisme masih berlangsung hingga saat ini, meski dalam bentuk yang berbeda dari masa lalu.

Karena itu, ia memandang KAA Jilid II sebagai momentum penting untuk menjaga kedaulatan negara-negara berkembang, khususnya di kawasan Asia dan Afrika.

Dalam berbagai forum sebelumnya, gagasan ini juga dikaitkan dengan upaya merespons ketimpangan global dan konflik internasional yang terus berlangsung.

BACA JUGA: 
KPK Dalami Dugaan Aliran Uang ke Ketua PDIP Jabar Ono Surono

Selain mendorong KAA Jilid II, Megawati juga menyerukan reformasi menyeluruh terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ia menilai struktur PBB saat ini sudah tidak relevan karena dibentuk berdasarkan konfigurasi pasca-Perang Dunia II.

Salah satu poin utama yang disorot adalah keberadaan hak veto negara-negara besar yang dianggap menciptakan ketimpangan dalam sistem global.

Megawati bahkan mengusulkan perubahan Piagam PBB dengan memasukkan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan internasional.

Dorong Perubahan Struktur Global

Lebih lanjut, ia juga mengusulkan perubahan pada struktur Dewan Keamanan PBB, termasuk pemindahan markas besar organisasi tersebut ke negara yang lebih netral.

Menurutnya, langkah ini penting agar PBB tidak terjebak dalam kepentingan geopolitik negara besar.

Megawati menilai reformasi tersebut menjadi semakin mendesak di tengah meningkatnya konflik global, seperti dinamika di Venezuela dan ketegangan terhadap Iran.

Dalam pandangannya, gagasan Presiden pertama RI, Soekarno, tetap relevan dalam menghadapi tantangan global saat ini.

Ia menegaskan bahwa kesetaraan antarbangsa merupakan agenda besar yang harus terus diperjuangkan dalam sistem internasional.

BACA JUGA: 
PDI Perjuangan Tetapkan 21 Rekomendasi Eksternal Pada Rakernas 2026

“Bung Karno menyerukan reformasi atau re-tooling PBB. Kesetaraan antarbangsa menjadi agenda terbesar Bung Karno,” imbuhnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru