Azteca Runtuh! Inggris Taklukkan 2.241 Meter Ketinggian Ekstrem dan Singkirkan Meksiko 3-2 di Piala Dunia 2026

SulawesiPos.com – Estadio Azteca yang selama ini dikenal sebagai simbol keangkeran dan “neraka” bagi tim tamu akhirnya runtuh pada Senin, 6 Juli 2026.

Melalui pertarungan epik dan penuh drama pada babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026, tim nasional Inggris sukses membungkam tuan rumah Meksiko dengan skor tipis 3-2, sekaligus memastikan langkah mereka ke babak perempat final.

Kemenangan Inggris kali ini terasa jauh lebih besar dari sekadar mengamankan tiket 8 besar.

Skuad Tiga Singa berhasil merobohkan benteng pertahanan psikologis dan aura mistis stadion legendaris yang terletak di Coyoacán, Mexico City tersebut, tepat di hadapan puluhan ribu suporter fanatik El Tri.

Sejarah mencatat bahwa bermain di stadion yang memiliki nama resmi turnamen Mexico City Stadium ini adalah ujian fisik yang luar biasa berat.

Berada di ketinggian ekstrem 2.241 meter di atas permukaan laut dengan kadar oksigen tipis, Azteca direnovasi besar-besaran senilai lebih dari 2 miliar peso Meksiko (€110 juta lebih) menjelang turnamen demi menampung hingga 90.000 penonton.

Namun, kemegahan infrastruktur baru dan intimidasi gema suara tribun yang curam gagal membendung mentalitas baja anak asuh Thomas Tuchel.

Hujan Gol di Tengah Badai dan Drama Kartu Merah

Duel sengit ini sempat mengalami penundaan kick-off selama satu jam akibat cuaca buruk dan badai petir yang melanda sekitar arena. Begitu laga dimulai, Inggris langsung tampil sangat efisien meredam taktik menekan Meksiko.

BACA JUGA:  Laga Panas! Portugal Kalahkan Chile 2-1 Meski Ronaldo Gagal Cetak Gol

Gelandang andalan Real Madrid, Jude Bellingham, menjadi bintang lapangan setelah memborong dua gol kilat pada babak pertama, tepatnya di menit ke-36 dan ke-38, yang seketika membungkam seisi stadion.

Meksiko sempat menghidupkan asa sesaat sebelum turun minum setelah Julián Quiñones mencetak gol balasan pada menit ke-42 untuk mengubah skor menjadi 2-1.

Memasuki paruh kedua, tensi pertandingan semakin mendidih dan emosional.

Petaka menimpa Inggris pada menit ke-54 ketika bek kanan Jarell Quansah diganjar kartu merah langsung oleh wasit usai peninjauan Video Assistant Referee (VAR) akibat tekel kerasnya yang memicu keributan antarpemain di pinggir lapangan.

Meski bermain dengan 10 orang, Inggris menunjukkan ketenangan luar biasa.

Mereka justru berhasil memperlebar jarak menjadi 3-1 pada menit ke-60 melalui eksekusi penalti sang kapten, Harry Kane.

Meksiko yang unggul jumlah pemain langsung memanfaatkan situasi untuk menggempur habis-habisan lini belakang tim tamu.

Striker berpengalaman Raúl Jiménez sempat memperkecil ketertinggalan menjadi 3-2 lewat titik putih pada menit ke-69.

Laga berakhir sangat keras dengan banjir kartu kuning untuk Declan Rice, Marc Guéhi, Nico O’Reilly, serta bek Meksiko Jorge Sánchez. Namun hingga peluit panjang berbunyi, pertahanan rapat Inggris tetap tak goyah.

Pernyataan dari Sisi Lapangan

Seusai laga, pelatih Inggris Thomas Tuchel tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas determinasi anak asuhnya yang bertarung di bawah kondisi alam yang tidak biasa bagi pemain Eropa.

BACA JUGA:  FIFA Soroti Jejak Pemain Liga Indonesia di Piala Dunia 2026, Putros dan Kastaneer Jadi Penanda Sejarah

“Bermain di ketinggian seperti ini (2.241 meter) dengan sepuluh orang sejak menit ke-54 di hadapan 90 ribu suporter lawan adalah ujian karakter terbesar kami. Penundaan karena badai petir sempat mengganggu fokus, tetapi cara Jude (Bellingham) memimpin babak pertama dan kedisiplinan bertahan saat kami kehilangan Quansah membuktikan bahwa tim ini siap menderita demi kemenangan. Kami menghormati sejarah besar Azteca, namun malam ini kami harus membuat sejarah kami sendiri,” ujar Tuchel dalam sesi konferensi pers resmi FIFA.

Di kubu seberang, kekecewaan mendalam tampak menyelimuti skuad tuan rumah. Mewakili tim, kapten Meksiko Edson Álvarez mengakui runtuhnya benteng pertahanan mereka di momen krusial adalah kesalahan fatal.

“Ini adalah malam yang sangat menyakitkan bagi seluruh rakyat Meksiko. Azteca selalu menjadi pelindung kami, dan suporter telah memberikan atmosfer luar biasa luar biasa malam ini. Ketika Inggris mendapat kartu merah, kami merasa momentum itu ada di tangan kami. Namun harus diakui, Inggris sangat klinis dan kami dihukum oleh kelengahan transisi di babak pertama. Kami meminta maaf gagal membawa melangkah lebih jauh di rumah sendiri,” ungkapnya penuh penyesalan di area mixed zone.

Mematahkan Kutukan Stadion Kuil Sepak Bola

Bagi Meksiko, kekalahan ini menutup perjalanan mereka sebagai tuan rumah dengan cara yang paling menyakitkan di markas keramat mereka sendiri.

BACA JUGA:  Lonjakan Harga Tiket Piala Dunia di AS Dipicu Sistem 'Dynamic Pricing', Fans Eropa Melapor ke Uni Eropa

Stadion yang pernah menjadi saksi bisu kejayaan Pelé mengangkat trofi Piala Dunia 1970 dan aksi “Gol Tangan Tuhan” Diego Maradona pada 1986 ini akhirnya gagal menyelamatkan wajah El Tri.

Estadio Azteca. dok/ist
Estadio Azteca setelah direnovasi untuk Piala Dunia 2026. dok/ist

Inggris datang sebagai tim tamu, bertarung melawan tipisnya sirkulasi udara udara pegunungan, menghadapi penundaan badai, bermain dengan 10 orang, namun tetap mampu keluar sebagai pemenang di panggung yang selama ini dinilai mustahil untuk dijinakkan.

Rekor Gila Inggris di Stadion Azteca

Kemenangan 3-2 yang diraih oleh anak asuh Thomas Tuchel tidak hanya mengamankan tiket perempat final, tetapi juga menorehkan tinta emas baru dalam buku sejarah sepak bola dunia. Inggris resmi mencatatkan tiga rekor fantastis berikut:

  • Runtuhkan Dominasi 13 Tahun: Inggris menjadi tim pertama yang mampu mengalahkan Meksiko di Stadion Azteca sejak tahun 2013 silam.
  • Pecahkan Rekor Piala Dunia Sepanjang Masa: Harry Kane dan kolega resmi menjadi tim pertama dalam sejarah yang berhasil menumbangkan Meksiko di Stadion Azteca dalam ajang Piala Dunia sepanjang masa.
  • Tim pertama cetak gol ke Meksiko di Edisi 2026: Inggris juga menjadi tim pertama yang berhasil mengalahkan sekaligus membobol jala gawang Meksiko di sepanjang turnamen Piala Dunia 2026 ini.

Hasil ini membawa Inggris melaju ke perempat final untuk menantang tim kejutan Norwegia, sementara Estadio Azteca kini resmi menjadi saksi runtuhnya keangkuhan benteng sepak bola Amerika Utara.

SulawesiPos.com – Estadio Azteca yang selama ini dikenal sebagai simbol keangkeran dan “neraka” bagi tim tamu akhirnya runtuh pada Senin, 6 Juli 2026.

Melalui pertarungan epik dan penuh drama pada babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026, tim nasional Inggris sukses membungkam tuan rumah Meksiko dengan skor tipis 3-2, sekaligus memastikan langkah mereka ke babak perempat final.

Kemenangan Inggris kali ini terasa jauh lebih besar dari sekadar mengamankan tiket 8 besar.

Skuad Tiga Singa berhasil merobohkan benteng pertahanan psikologis dan aura mistis stadion legendaris yang terletak di Coyoacán, Mexico City tersebut, tepat di hadapan puluhan ribu suporter fanatik El Tri.

Sejarah mencatat bahwa bermain di stadion yang memiliki nama resmi turnamen Mexico City Stadium ini adalah ujian fisik yang luar biasa berat.

Berada di ketinggian ekstrem 2.241 meter di atas permukaan laut dengan kadar oksigen tipis, Azteca direnovasi besar-besaran senilai lebih dari 2 miliar peso Meksiko (€110 juta lebih) menjelang turnamen demi menampung hingga 90.000 penonton.

Namun, kemegahan infrastruktur baru dan intimidasi gema suara tribun yang curam gagal membendung mentalitas baja anak asuh Thomas Tuchel.

Hujan Gol di Tengah Badai dan Drama Kartu Merah

Duel sengit ini sempat mengalami penundaan kick-off selama satu jam akibat cuaca buruk dan badai petir yang melanda sekitar arena. Begitu laga dimulai, Inggris langsung tampil sangat efisien meredam taktik menekan Meksiko.

BACA JUGA:  Manuel Neuer Resmi Pensiun dari Timnas Jerman, Akhiri Karier Internasional usai Piala Dunia 2026

Gelandang andalan Real Madrid, Jude Bellingham, menjadi bintang lapangan setelah memborong dua gol kilat pada babak pertama, tepatnya di menit ke-36 dan ke-38, yang seketika membungkam seisi stadion.

Meksiko sempat menghidupkan asa sesaat sebelum turun minum setelah Julián Quiñones mencetak gol balasan pada menit ke-42 untuk mengubah skor menjadi 2-1.

Memasuki paruh kedua, tensi pertandingan semakin mendidih dan emosional.

Petaka menimpa Inggris pada menit ke-54 ketika bek kanan Jarell Quansah diganjar kartu merah langsung oleh wasit usai peninjauan Video Assistant Referee (VAR) akibat tekel kerasnya yang memicu keributan antarpemain di pinggir lapangan.

Meski bermain dengan 10 orang, Inggris menunjukkan ketenangan luar biasa.

Mereka justru berhasil memperlebar jarak menjadi 3-1 pada menit ke-60 melalui eksekusi penalti sang kapten, Harry Kane.

Meksiko yang unggul jumlah pemain langsung memanfaatkan situasi untuk menggempur habis-habisan lini belakang tim tamu.

Striker berpengalaman Raúl Jiménez sempat memperkecil ketertinggalan menjadi 3-2 lewat titik putih pada menit ke-69.

Laga berakhir sangat keras dengan banjir kartu kuning untuk Declan Rice, Marc Guéhi, Nico O’Reilly, serta bek Meksiko Jorge Sánchez. Namun hingga peluit panjang berbunyi, pertahanan rapat Inggris tetap tak goyah.

Pernyataan dari Sisi Lapangan

Seusai laga, pelatih Inggris Thomas Tuchel tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas determinasi anak asuhnya yang bertarung di bawah kondisi alam yang tidak biasa bagi pemain Eropa.

BACA JUGA:  Inggris Terlibat dalam Operasi AS Menyita Tanker Berbendera Rusia di Atlantik Utara

“Bermain di ketinggian seperti ini (2.241 meter) dengan sepuluh orang sejak menit ke-54 di hadapan 90 ribu suporter lawan adalah ujian karakter terbesar kami. Penundaan karena badai petir sempat mengganggu fokus, tetapi cara Jude (Bellingham) memimpin babak pertama dan kedisiplinan bertahan saat kami kehilangan Quansah membuktikan bahwa tim ini siap menderita demi kemenangan. Kami menghormati sejarah besar Azteca, namun malam ini kami harus membuat sejarah kami sendiri,” ujar Tuchel dalam sesi konferensi pers resmi FIFA.

Di kubu seberang, kekecewaan mendalam tampak menyelimuti skuad tuan rumah. Mewakili tim, kapten Meksiko Edson Álvarez mengakui runtuhnya benteng pertahanan mereka di momen krusial adalah kesalahan fatal.

“Ini adalah malam yang sangat menyakitkan bagi seluruh rakyat Meksiko. Azteca selalu menjadi pelindung kami, dan suporter telah memberikan atmosfer luar biasa luar biasa malam ini. Ketika Inggris mendapat kartu merah, kami merasa momentum itu ada di tangan kami. Namun harus diakui, Inggris sangat klinis dan kami dihukum oleh kelengahan transisi di babak pertama. Kami meminta maaf gagal membawa melangkah lebih jauh di rumah sendiri,” ungkapnya penuh penyesalan di area mixed zone.

Mematahkan Kutukan Stadion Kuil Sepak Bola

Bagi Meksiko, kekalahan ini menutup perjalanan mereka sebagai tuan rumah dengan cara yang paling menyakitkan di markas keramat mereka sendiri.

BACA JUGA:  Jelang Piala Dunia 2026, Timnas Belanda Nikmati Gemerlap Times Square New York

Stadion yang pernah menjadi saksi bisu kejayaan Pelé mengangkat trofi Piala Dunia 1970 dan aksi “Gol Tangan Tuhan” Diego Maradona pada 1986 ini akhirnya gagal menyelamatkan wajah El Tri.

Estadio Azteca. dok/ist
Estadio Azteca setelah direnovasi untuk Piala Dunia 2026. dok/ist

Inggris datang sebagai tim tamu, bertarung melawan tipisnya sirkulasi udara udara pegunungan, menghadapi penundaan badai, bermain dengan 10 orang, namun tetap mampu keluar sebagai pemenang di panggung yang selama ini dinilai mustahil untuk dijinakkan.

Rekor Gila Inggris di Stadion Azteca

Kemenangan 3-2 yang diraih oleh anak asuh Thomas Tuchel tidak hanya mengamankan tiket perempat final, tetapi juga menorehkan tinta emas baru dalam buku sejarah sepak bola dunia. Inggris resmi mencatatkan tiga rekor fantastis berikut:

  • Runtuhkan Dominasi 13 Tahun: Inggris menjadi tim pertama yang mampu mengalahkan Meksiko di Stadion Azteca sejak tahun 2013 silam.
  • Pecahkan Rekor Piala Dunia Sepanjang Masa: Harry Kane dan kolega resmi menjadi tim pertama dalam sejarah yang berhasil menumbangkan Meksiko di Stadion Azteca dalam ajang Piala Dunia sepanjang masa.
  • Tim pertama cetak gol ke Meksiko di Edisi 2026: Inggris juga menjadi tim pertama yang berhasil mengalahkan sekaligus membobol jala gawang Meksiko di sepanjang turnamen Piala Dunia 2026 ini.

Hasil ini membawa Inggris melaju ke perempat final untuk menantang tim kejutan Norwegia, sementara Estadio Azteca kini resmi menjadi saksi runtuhnya keangkuhan benteng sepak bola Amerika Utara.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru