Oleh: H.Idcham Latief
Pegawai Balai Diklat Keagamaan Makassar
SulawesiPos.com – Perpustakaan tak sekadar gudang tempat menyimpan buku. Ia adalah jantung literasi, ruang tumbuhnya gagasan, dan gerbang terbuka menuju wawasan yang luas.
Namun, di tengah derasnya arus informasi digital dan perubahan kebutuhan masyarakat, perpustakaan kerap kali terdiam, seolah tertinggal oleh waktu.
Koleksi tertata rapi di rak, tetapi ruang itu sepi. Buku tersusun rapi, tetapi jarang disentuh.
Inilah tantangan nyata yang dihadapi banyak perpustakaan saat ini: bukan soal kurangnya bahan bacaan, melainkan lemahnya keterhubungan antara perpustakaan dengan masyarakat yang seharusnya dilayaninya.
Di sinilah peran strategis Sharing Session hadir sebagai jalan pemulihan. Kegiatan pertukaran gagasan, berbagi pengalaman, dan diskusi terbuka ini bukan sekadar acara rutin yang mengisi kekosongan waktu.
Ia adalah upaya nyata merevitalisasi perpustakaan, mengubahnya dari ruang yang sunyi menjadi ruang yang hidup, dari tempat penyimpanan menjadi pusat pertemuan dan pembelajaran bersama.
Melalui sesi berbagi, dinding perpustakaan tak lagi menjadi batas, melainkan jembatan yang menghubungkan pengelola, pemustaka, dan berbagai pemangku kepentingan dalam satu ruang percakapan yang setara.
Budaya literasi tidak lahir dari kewajiban, melainkan tumbuh dari ketertarikan yang dipupuk bersama.
Sharing Session memberi ruang bagi siapa saja untuk berbicara tentang apa yang dibaca, apa yang dipahami, dan apa yang dirasakan.
Ketika seseorang berani membagikan pendapatnya di depan orang lain, ia tidak hanya mengasah kemampuan berpikir kritis, tetapi juga menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Bacaan yang tadinya hanya tersimpan di kepala, kini menjadi wawasan yang dibagikan, diperkaya pandangan orang lain, dan tumbuh menjadi pemahaman yang lebih luas.
Inilah bibit budaya literasi yang sesungguhnya: membaca, merenungkan, lalu menyebarkan manfaatnya.
Lebih dari itu, Sharing Session menjadi sarana mendengar suara para pemustaka secara langsung.
Sering kali pengelola merancang layanan berdasarkan asumsi, bukan kebutuhan nyata.
Lewat pertemuan terbuka ini, masyarakat dapat menyampaikan apa yang mereka butuhkan — buku apa yang dicari, topik apa yang menarik, kendala apa yang dirasakan, hingga harapan-harapan yang ingin dipenuhi.
Ketika pemustaka merasa didengar, mereka tidak lagi sekadar menjadi pengguna layanan, melainkan menjadi bagian dari pembangunan perpustakaan itu sendiri.
Rasa memiliki itu tumbuh, kehadiran menjadi sukarela, dan partisipasi meningkat secara alami.
Revitalisasi perpustakaan tidak harus dimulai dari pembangunan gedung megah atau pembelian koleksi yang tak terjangkau.
Ia dapat dimulai dari hal sederhana: membuka ruang untuk berbicara, memberi kesempatan untuk didengar, dan menjadikan setiap orang merasa berharga di perpustakaan.
Sharing Session adalah langkah awal yang sederhana namun bermakna besar.
Ia mengingatkan kita bahwa perpustakaan yang hebat bukan diukur dari berapa banyak buku yang tersimpan, melainkan dari berapa banyak orang yang tumbuh, terhubung, dan saling menginspirasi di dalamnya.
Mari kita wujudkan perpustakaan bukan hanya sebagai tempat pergi, melainkan tempat ingin pulang — tempat di mana literasi hidup, di mana setiap suara dihargai, dan di mana setiap orang berperan membangun masa depan yang lebih cerdas.


