Maruli: Dari Mata Air Hingga Tatami

Belajar Jatuh untuk Selalu Bangkit

oleh: Egy Massadiah

Dalam judo, pelajaran pertama bukanlah bagaimana membanting lawan. Seorang judoka justru terlebih dahulu diajarkan bagaimana jatuh dengan benar.

Namanya ukemi. Menerima benturan tanpa kehilangan kendali. Jatuh, memahami keadaan, lalu bangkit kembali.

Barangkali dari filosofi itulah kita bisa membaca perjalanan Jenderal TNI Maruli Simanjuntak.

Jumat, 11 September 2026, Kepala Staf Angkatan Darat itu kembali dipercaya secara aklamasi memimpin Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PB PJSI) periode 2026–2030.

Munas XX PJSI di Balai Kartini, Jakarta, yang diikuti perwakilan 27 Pengprov, sebelumnya menerima laporan pertanggungjawaban kepengurusan Maruli periode 2021–2026.

Aklamasi tentu bukan sekadar tidak adanya tangan lain yang terangkat. Ia adalah bahasa kepercayaan. Sekaligus mandat untuk membawa judo Indonesia lebih melenting.

Maruli bukan pendatang yang baru mengenal tatami setelah menjadi jenderal. Jauh sebelum empat bintang bertengger di pundaknya, perwira Akmil 92 Korps Baret Merah itu sudah berkeringat, jatuh dan bangkit di atas matras.

Pada Pangab Cup 1994, Maruli meraih emas kelas 70 kilogram dan perak kelas bebas. Ia kemudian meraih sejumlah medali pada kejuaraan militer dan nasional. Saat menjadi Dantim Yon 12 Grup 1 Kopassus, Lettu Inf Maruli Simanjuntak menjuarai Kejuaraan Judo Militer ASEAN di Filipina pada kelas 71 kilogram dan dinobatkan sebagai atlet terbaik.

Dari masa itulah lahir sebuah kisah yang kemudian menjadi bagian menarik perjalanan hidupnya.

Prabowo Subianto, ketika itu atasannya di Kopassus, pernah menjanjikan akan menggendong Maruli jika perwira mudanya itu berhasil menjadi juara judo Asia Tenggara.

Maruli menang. Sang komandan pun menunaikan janji: Prabowo menggendong Maruli. Adegan sederhana itu seperti menyimpan sebuah simbol tentang tentara dan olahraga: penghargaan kepada mereka yang berani bertarung sampai tuntas.

BACA JUGA:  Menkeu Purbaya Sebut THR Akan Cair Awal Puasa, Besarannya Menyesuaikan

Puluhan tahun berlalu. Perwira muda itu menjadi Kepala Staf Angkatan Darat. Tatami yang dahulu menjadi tempatnya mengejar kemenangan pribadi, kini menjadi tempat ia menyiapkan kemenangan orang lain.

Hasilnya mulai terlihat. Di bawah kepemimpinan Maruli periode 2021–2026, judo Indonesia kembali ke Olimpiade setelah absen sejak London 2012. Maryam March Maharani lolos ke Olimpiade Paris 2024 di kelas -52 kilogram melalui kuota kontinental Asia. Sebelum itu, Maharani meraih perunggu Warsaw European Open 2024. Di Paris, ia bahkan dipercaya menjadi pembawa bendera Merah Putih pada upacara pembukaan Olimpiade.

Itu bukan prestasi kecil. Setelah dua belas tahun, judogi Indonesia kembali terlihat di panggung olahraga terbesar dunia. Di level Asia Tenggara, pembinaan juga bergerak. SEA Games Kamboja 2023 menghasilkan satu emas dan lima perunggu, dengan emas dipersembahkan Dewa Kadek Rama Warma Putra di kelas 66 kilogram putra.

Pada Southeast Asia Judo Championships 2024 di Bali, Indonesia menjadi runner-up dengan koleksi 47 medali: sembilan emas, 14 perak dan 24 perunggu. Kejuaraan itu sendiri menjadi bagian dari upaya Indonesia kembali aktif menjadi tuan rumah kompetisi internasional.

Puncak periode pertama itu terasa pada SEA Games Thailand 2025. Judo Indonesia yang semula ditargetkan meraih dua emas justru membawa pulang empat emas, dua perak dan medali perunggu, serta menempati posisi kedua cabang judo. Target bukan hanya tercapai, tetapi terlampaui.

Di bawah Maruli, kompetisi domestik juga diperbesar sebagai kawah pembibitan. Kasad Cup XV 2024 diikuti lebih dari 700 peserta. Dua tahun kemudian, Kejurnas Judo Piala Kasad XVI 2026 melonjak menjadi 1.424 atlet, rekor peserta sepanjang penyelenggaraan kejuaraan tersebut.

BACA JUGA:  Mobil Rantis Maung TNI Tabrak Tembok Pembatas Jalan di Exit Tol Slipi, Dua Penumpang Terluka

Angka-angka itu penting. Tetapi olahraga tidak hidup dari statistik saja. Yang sedang dibangun sesungguhnya adalah ekosistem keberanian: kompetisi diperbanyak, atlet muda diberi pengalaman, pelatnas diperkuat, dan kesempatan berlatih serta bertanding ke luar negeri dibuka.

Maruli bahkan menjajaki kerja sama latihan dengan negara-negara kuat judo Asia seperti Kazakhstan dan Uzbekistan. Di titik itulah dunia judo seperti bertemu dengan perjalanan Maruli sebagai prajurit.
Ia tumbuh dari Korps Komando, lingkungan yang mengajarkan bahwa kesulitan bukan alasan berhenti. Tetapi ada sisi lain yang menarik dari prajurit pasukan khusus ini.

Bapak Air

Ketika menjabat Pangdam IX/Udayana, Maruli melihat masyarakat di wilayah kering Nusa Tenggara harus bersusah payah memperoleh air. Maka tentara tidak hanya datang membawa seragam. Mereka mencari sumber air, memasang pompa hidram, membangun jaringan dan mengalirkannya menuju perkampungan. Dahaga rakyatpun terbayar.

Dari sana berkembang gagasan yang kemudian dikenal luas sebagai TNI AD Manunggal Air.

Ada paradoks yang indah: seorang prajurit cakra yang ditempa untuk menghadapi kerasnya pertempuran justru dikenang pula karena mengalirkan air.

Air dan judo kemudian seperti dua tanda dalam perjalanan Maruli.

Air tidak berdebat dengan batu. Ia mencari jalan. Judo pun tidak selalu mengajarkan melawan tenaga dengan tenaga. Seorang judoka membaca keseimbangan, momentum dan tenaga lawan, lalu mengubahnya menjadi peluang.
Keduanya membutuhkan kecerdikan.

Mungkin itu pula yang menjelaskan gaya Maruli dalam memimpin. Baik sebagai Kasad maupun Ketua Umum PB PJSI, persoalan baginya harus berujung pada pekerjaan nyata. Kreativitas kepemimpinan bukan diukur dari panjangnya rapat, tetapi dari jalan keluar yang ditemukan.

BACA JUGA:  Sugiono: Indonesia Menuntut PBB untuk Investigasi Menyeluruh atas Serangan di Lebanon

Sebagai Kasad, tataminya tentu jauh lebih luas. Ia memimpin organisasi besar bernama TNI Angkatan Darat, menjaga kesiapan prajurit sekaligus mendorong tentara hadir di tengah kesulitan rakyat.

Sebagai Ketua PJSI, ranah bergelutnya berbeda. Yang harus dilawan adalah keterbatasan pembinaan, minimnya jam terbang internasional, regenerasi atlet, kualitas pelatih, sports science, serta jarak panjang menuju podium dunia.

Kini, periode kedua 2026–2030 bukan hadiah. Ia justru tantangan.
Sebab mempertahankan prestasi sering kali lebih sulit daripada merebutnya. Setelah kembali ke Olimpiade, tantangannya sekarang bukan lagi sekadar hadir di Olimpiade.

Indonesia harus mulai bermimpi menang di sana. Pada akhirnya, judo memang bukan cerita tentang manusia yang tidak pernah jatuh. Judo adalah cerita tentang manusia yang mengetahui bagaimana caranya bangkit.

Maruli pernah merasakan dibanting. Pernah membanting. Pernah menjadi juara. Pernah pula digendong Prabowo karena kemenangan itu. Kini sejarah membalik posisinya.

Dahulu seorang komandan menggendong Maruli yang baru menjadi juara. Hari ini, sebagai Kasad dan Ketua Umum PB PJSI, justru Maruli yang harus menggendong mimpi ribuan judoka Indonesia menuju podium dunia.

Dan mungkin pelajaran terpenting dari perjalanan seorang judoka bernama Maruli Simanjuntak adalah ini: Jangan takut jatuh.
Sebab tanah bukan selalu tempat berakhir. Bagi mereka yang memiliki keberanian, disiplin dan daya juang, tanah adalah tempat menjejakkan kaki — untuk bangkit lebih tinggi.

Selamat bekerja Brader Maruli untuk kepengurusan Judo 2026-2030. (*)

 

Belajar Jatuh untuk Selalu Bangkit

oleh: Egy Massadiah

Dalam judo, pelajaran pertama bukanlah bagaimana membanting lawan. Seorang judoka justru terlebih dahulu diajarkan bagaimana jatuh dengan benar.

Namanya ukemi. Menerima benturan tanpa kehilangan kendali. Jatuh, memahami keadaan, lalu bangkit kembali.

Barangkali dari filosofi itulah kita bisa membaca perjalanan Jenderal TNI Maruli Simanjuntak.

Jumat, 11 September 2026, Kepala Staf Angkatan Darat itu kembali dipercaya secara aklamasi memimpin Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PB PJSI) periode 2026–2030.

Munas XX PJSI di Balai Kartini, Jakarta, yang diikuti perwakilan 27 Pengprov, sebelumnya menerima laporan pertanggungjawaban kepengurusan Maruli periode 2021–2026.

Aklamasi tentu bukan sekadar tidak adanya tangan lain yang terangkat. Ia adalah bahasa kepercayaan. Sekaligus mandat untuk membawa judo Indonesia lebih melenting.

Maruli bukan pendatang yang baru mengenal tatami setelah menjadi jenderal. Jauh sebelum empat bintang bertengger di pundaknya, perwira Akmil 92 Korps Baret Merah itu sudah berkeringat, jatuh dan bangkit di atas matras.

Pada Pangab Cup 1994, Maruli meraih emas kelas 70 kilogram dan perak kelas bebas. Ia kemudian meraih sejumlah medali pada kejuaraan militer dan nasional. Saat menjadi Dantim Yon 12 Grup 1 Kopassus, Lettu Inf Maruli Simanjuntak menjuarai Kejuaraan Judo Militer ASEAN di Filipina pada kelas 71 kilogram dan dinobatkan sebagai atlet terbaik.

Dari masa itulah lahir sebuah kisah yang kemudian menjadi bagian menarik perjalanan hidupnya.

Prabowo Subianto, ketika itu atasannya di Kopassus, pernah menjanjikan akan menggendong Maruli jika perwira mudanya itu berhasil menjadi juara judo Asia Tenggara.

Maruli menang. Sang komandan pun menunaikan janji: Prabowo menggendong Maruli. Adegan sederhana itu seperti menyimpan sebuah simbol tentang tentara dan olahraga: penghargaan kepada mereka yang berani bertarung sampai tuntas.

BACA JUGA:  Presiden Prabowo Panggil Pimpinan TNI ke Istana, Ini Isi Pertemuannya

Puluhan tahun berlalu. Perwira muda itu menjadi Kepala Staf Angkatan Darat. Tatami yang dahulu menjadi tempatnya mengejar kemenangan pribadi, kini menjadi tempat ia menyiapkan kemenangan orang lain.

Hasilnya mulai terlihat. Di bawah kepemimpinan Maruli periode 2021–2026, judo Indonesia kembali ke Olimpiade setelah absen sejak London 2012. Maryam March Maharani lolos ke Olimpiade Paris 2024 di kelas -52 kilogram melalui kuota kontinental Asia. Sebelum itu, Maharani meraih perunggu Warsaw European Open 2024. Di Paris, ia bahkan dipercaya menjadi pembawa bendera Merah Putih pada upacara pembukaan Olimpiade.

Itu bukan prestasi kecil. Setelah dua belas tahun, judogi Indonesia kembali terlihat di panggung olahraga terbesar dunia. Di level Asia Tenggara, pembinaan juga bergerak. SEA Games Kamboja 2023 menghasilkan satu emas dan lima perunggu, dengan emas dipersembahkan Dewa Kadek Rama Warma Putra di kelas 66 kilogram putra.

Pada Southeast Asia Judo Championships 2024 di Bali, Indonesia menjadi runner-up dengan koleksi 47 medali: sembilan emas, 14 perak dan 24 perunggu. Kejuaraan itu sendiri menjadi bagian dari upaya Indonesia kembali aktif menjadi tuan rumah kompetisi internasional.

Puncak periode pertama itu terasa pada SEA Games Thailand 2025. Judo Indonesia yang semula ditargetkan meraih dua emas justru membawa pulang empat emas, dua perak dan medali perunggu, serta menempati posisi kedua cabang judo. Target bukan hanya tercapai, tetapi terlampaui.

Di bawah Maruli, kompetisi domestik juga diperbesar sebagai kawah pembibitan. Kasad Cup XV 2024 diikuti lebih dari 700 peserta. Dua tahun kemudian, Kejurnas Judo Piala Kasad XVI 2026 melonjak menjadi 1.424 atlet, rekor peserta sepanjang penyelenggaraan kejuaraan tersebut.

BACA JUGA:  Kemhan Sebut 1 Prajurit TNI Tewas dalam Misi UNIFIL Usai Serangan Israel ke Lebanon

Angka-angka itu penting. Tetapi olahraga tidak hidup dari statistik saja. Yang sedang dibangun sesungguhnya adalah ekosistem keberanian: kompetisi diperbanyak, atlet muda diberi pengalaman, pelatnas diperkuat, dan kesempatan berlatih serta bertanding ke luar negeri dibuka.

Maruli bahkan menjajaki kerja sama latihan dengan negara-negara kuat judo Asia seperti Kazakhstan dan Uzbekistan. Di titik itulah dunia judo seperti bertemu dengan perjalanan Maruli sebagai prajurit.
Ia tumbuh dari Korps Komando, lingkungan yang mengajarkan bahwa kesulitan bukan alasan berhenti. Tetapi ada sisi lain yang menarik dari prajurit pasukan khusus ini.

Bapak Air

Ketika menjabat Pangdam IX/Udayana, Maruli melihat masyarakat di wilayah kering Nusa Tenggara harus bersusah payah memperoleh air. Maka tentara tidak hanya datang membawa seragam. Mereka mencari sumber air, memasang pompa hidram, membangun jaringan dan mengalirkannya menuju perkampungan. Dahaga rakyatpun terbayar.

Dari sana berkembang gagasan yang kemudian dikenal luas sebagai TNI AD Manunggal Air.

Ada paradoks yang indah: seorang prajurit cakra yang ditempa untuk menghadapi kerasnya pertempuran justru dikenang pula karena mengalirkan air.

Air dan judo kemudian seperti dua tanda dalam perjalanan Maruli.

Air tidak berdebat dengan batu. Ia mencari jalan. Judo pun tidak selalu mengajarkan melawan tenaga dengan tenaga. Seorang judoka membaca keseimbangan, momentum dan tenaga lawan, lalu mengubahnya menjadi peluang.
Keduanya membutuhkan kecerdikan.

Mungkin itu pula yang menjelaskan gaya Maruli dalam memimpin. Baik sebagai Kasad maupun Ketua Umum PB PJSI, persoalan baginya harus berujung pada pekerjaan nyata. Kreativitas kepemimpinan bukan diukur dari panjangnya rapat, tetapi dari jalan keluar yang ditemukan.

BACA JUGA:  Mobil Rantis Maung TNI Tabrak Tembok Pembatas Jalan di Exit Tol Slipi, Dua Penumpang Terluka

Sebagai Kasad, tataminya tentu jauh lebih luas. Ia memimpin organisasi besar bernama TNI Angkatan Darat, menjaga kesiapan prajurit sekaligus mendorong tentara hadir di tengah kesulitan rakyat.

Sebagai Ketua PJSI, ranah bergelutnya berbeda. Yang harus dilawan adalah keterbatasan pembinaan, minimnya jam terbang internasional, regenerasi atlet, kualitas pelatih, sports science, serta jarak panjang menuju podium dunia.

Kini, periode kedua 2026–2030 bukan hadiah. Ia justru tantangan.
Sebab mempertahankan prestasi sering kali lebih sulit daripada merebutnya. Setelah kembali ke Olimpiade, tantangannya sekarang bukan lagi sekadar hadir di Olimpiade.

Indonesia harus mulai bermimpi menang di sana. Pada akhirnya, judo memang bukan cerita tentang manusia yang tidak pernah jatuh. Judo adalah cerita tentang manusia yang mengetahui bagaimana caranya bangkit.

Maruli pernah merasakan dibanting. Pernah membanting. Pernah menjadi juara. Pernah pula digendong Prabowo karena kemenangan itu. Kini sejarah membalik posisinya.

Dahulu seorang komandan menggendong Maruli yang baru menjadi juara. Hari ini, sebagai Kasad dan Ketua Umum PB PJSI, justru Maruli yang harus menggendong mimpi ribuan judoka Indonesia menuju podium dunia.

Dan mungkin pelajaran terpenting dari perjalanan seorang judoka bernama Maruli Simanjuntak adalah ini: Jangan takut jatuh.
Sebab tanah bukan selalu tempat berakhir. Bagi mereka yang memiliki keberanian, disiplin dan daya juang, tanah adalah tempat menjejakkan kaki — untuk bangkit lebih tinggi.

Selamat bekerja Brader Maruli untuk kepengurusan Judo 2026-2030. (*)

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru