Mengenal Taon-taon, Julang Papua Penjaga Regenerasi Hutan yang Diteliti Tim Ekspedisi Patriot Unhas

SulawesiPos.com – Taon-taon atau Julang Papua merupakan burung rangkong besar dengan nama ilmiah Rhyticeros plicatus yang hidup di kanopi hutan Papua dan kawasan Melanesia. Burung ini dikenal melalui paruh besar bercula, suara kepakan yang keras, serta perannya menyebarkan biji tumbuhan di dalam ekosistem hutan.

Di Papua Barat, keberadaan Julang Papua menjadi salah satu perhatian konservasi di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak.

Tim-4 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (TEP Unhas) dan Resor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Fakfak menjajaki penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk memantau habitat, mengedukasi masyarakat, melibatkan warga, dan mengembangkan ekowisata berbasis konservasi.

Pertemuan tersebut berlangsung di Kantor Resor BKSDA Fakfak pada Senin (12/10/2026). Tim-4 yang diketuai Dr Ahmad Bahar ST MSi diterima Kepala Resor BKSDA Fakfak Isack B Samory.

Dalam konteks Papua, burung ini disebut Taon-taon atau Julang Papua. Literatur ornithologi internasional mengenalnya sebagai Blyth’s Hornbill atau Papuan Hornbill, sedangkan nama ilmiahnya adalah Rhyticeros plicatus.

Nama ilmiah tersebut sebelumnya banyak ditulis sebagai Aceros plicatus. Julang Papua termasuk keluarga Bucerotidae, kelompok burung yang di Indonesia juga mencakup rangkong, enggang, julang, dan kangkareng.

Julang Papua tidak hanya ditemukan di Papua. Persebaran spesies ini mencakup New Guinea, Kepulauan Maluku, Kepulauan Bismarck, hingga Kepulauan Solomon, dengan beberapa subspesies memiliki wilayah sebaran masing-masing.

Meski begitu, Julang Papua dikenal sebagai satu-satunya jenis rangkong asli New Guinea. Subspesies Rhyticeros plicatus ruficollis tercatat memiliki sebaran di Maluku Utara dan New Guinea bagian barat, termasuk wilayah yang secara biogeografis berkaitan dengan Papua Barat.

Ciri Fisik Taon-taon yang Mudah Dikenali

Julang Papua termasuk burung berukuran besar. Panjang tubuhnya dapat mencapai sekitar 91 sentimeter.

Jantan dewasa umumnya memiliki bulu dominan hitam, kepala berwarna keemasan atau jingga-kecokelatan, tenggorokan putih, dan ekor putih. Betina berukuran lebih kecil dengan warna tubuh yang sebagian besar hitam, tetapi tetap memiliki tenggorokan dan ekor putih.

Kedua jenis kelamin memiliki paruh besar berwarna seperti tanduk dan casque atau cula di pangkal paruh. Pada burung dewasa, casque dapat memiliki hingga delapan lipatan yang bertambah sesuai usia, sedangkan burung muda belum memiliki lipatan tersebut.

Bagian kulit di sekitar mata berwarna biru pucat, sementara irisnya berwarna cokelat kemerahan. Kombinasi paruh besar, casque, warna kepala, dan ekor putih membuat burung ini mudah dibedakan dari banyak jenis burung hutan lainnya.

BACA JUGA:  Peneliti Unhas Gandeng BKSDA Fakfak Lestarikan Burung Taon-Taon di Weri-Saharey

Julang Papua juga memiliki suara yang khas ketika terbang. Kepakan sayapnya menghasilkan suara deras dan keras yang dalam literatur perburungan dibandingkan dengan bunyi uap yang keluar dari lokomotif.

Selain suara kepakan, burung ini mengeluarkan panggilan berupa suara parau, geraman, dan tawa yang dapat terdengar dari kejauhan di dalam hutan.

Habitat Julang Papua Berada di Kanopi Hutan

Julang Papua menghuni hutan dataran rendah, mulai dari permukaan laut hingga sekitar 1.200-1.500 meter di atas permukaan laut. Burung ini banyak beraktivitas di kanopi dan bergantung pada hutan hujan yang menyediakan pohon pakan serta tempat bersarang.

Wilayah jelajahnya meliputi Kepulauan Maluku, New Guinea, Kepulauan Bismarck, dan sebagian Kepulauan Solomon. Birds of the World dari Cornell Lab of Ornithology mencatat sebaran sejumlah subspesies, termasuk R. p. ruficollis di Maluku Utara dan New Guinea bagian barat.

Kebutuhan terhadap pohon besar membuat keberadaan hutan menjadi penting bagi kelangsungan hidup Julang Papua. Burung ini menggunakan lubang pohon berukuran besar untuk berkembang biak, sehingga hilangnya pohon tua dapat mengurangi tempat bersarang yang tersedia.

Di Weri-Saharey, pihak BKSDA menempatkan kawasan tersebut sebagai daerah penyangga konservasi Pegunungan Fakfak. Keberadaan habitat Julang Papua di wilayah itu menjadi alasan perlindungan satwa liar dan ekosistem perlu dilakukan secara bersama.

Kepala Resor BKSDA Fakfak Isack B. Samory menyampaikan dukungan terhadap kehadiran TEP Unhas dan rencana pengembangan Julang Papua sebagai daya tarik ekowisata.

“Kami sangat mendukung kehadiran Tim Ekspedisi Patriot di Weri-Saharey, Fakfak Timur, karena itu memang daerah penyangga konservasi Pegunungan Fakfak dan merupakan habitat Julang Papua atau rangkong,” ungkap Isack B. Samory.

Strategi Berkembang Biak yang Unik

Julang Papua bersarang di lubang pohon besar pada ketinggian sekitar 18-30 meter dari permukaan tanah. Pola berkembang biaknya memperlihatkan pembagian peran yang kuat antara induk jantan dan betina.

Betina masuk ke dalam lubang pohon ketika masa mengeram dan merawat anak. Lubang tersebut kemudian ditutup sebagian menggunakan campuran ampas buah dan kayu lapuk sehingga hanya menyisakan celah sempit.

Melalui celah itu, jantan menyuplai makanan untuk betina dan anak-anaknya. Betina tetap berada di dalam lubang selama masa pengeraman dan awal pemeliharaan anak, sementara jantan mencari makanan di luar sarang.

Jumlah telur dalam satu sarang umumnya sekitar dua butir. Ketergantungan pada lubang pohon besar membuat keberhasilan berkembang biak sangat berkaitan dengan kondisi hutan dan ketersediaan pohon sarang.

BACA JUGA:  Peneliti Unhas Gandeng BKSDA Fakfak Lestarikan Burung Taon-Taon di Weri-Saharey

Pemakan Buah dan Petani Hutan

Makanan utama Julang Papua berupa buah, terutama buah ara atau jenis-jenis Ficus. Burung ini juga dapat memakan serangga dan hewan kecil sebagai tambahan.

Ketika berpindah dari satu pohon ke pohon lain, biji dari buah yang dimakannya dapat ikut tersebar di kawasan hutan. Peran itu membuat rangkong sering disebut sebagai petani hutan karena membantu regenerasi tumbuhan.

Burung Indonesia mencatat rangkong memiliki peran penting dalam penyebaran biji dan berkaitan erat dengan kesehatan hutan. Di Indonesia, terdapat sekitar 13 jenis rangkong, termasuk Julang Papua yang tercatat berada di Papua.

Peran sebagai penyebar biji juga membuat keberadaan Julang Papua penting bagi ekosistem, bukan hanya sebagai kekayaan satwa. Perubahan komposisi hutan dan berkurangnya pohon pakan dapat memengaruhi ketersediaan makanan serta pola pergerakannya.

Apakah Taon-taon Termasuk Burung Langka?

Secara global, Rhyticeros plicatus berstatus Least Concern atau Berisiko Rendah dalam penilaian IUCN yang dirujuk dari asesmen 2020. Status tersebut berarti spesies ini belum masuk kategori terancam secara global, bukan berarti setiap populasinya aman di seluruh wilayah.

Julang Papua juga tercantum dalam Appendix II CITES. Ketentuan ini menempatkan perdagangan internasional spesies tersebut dalam pengawasan agar pemanfaatannya tidak mengancam kelangsungan populasi di alam.

Sejumlah sumber konservasi mencatat tekanan terhadap Julang Papua tetap ada. Di beberapa bagian New Guinea, burung ini diburu untuk diambil bulu dan paruhnya sebagai bahan hiasan, sedangkan bagian bawah paruhnya pernah dimanfaatkan sebagai ujung tombak.

Tekanan berburu dapat menjadi lebih serius ketika disertai kerusakan hutan. Hilangnya pohon besar, pembukaan lahan, dan berkurangnya pohon berbuah dapat mengurangi tempat makan maupun lokasi sarang.

Karena itu, menyebut Julang Papua berstatus Berisiko Rendah tidak tepat jika diterjemahkan sebagai bebas ancaman. Status global perlu dibaca bersama kondisi habitat dan tekanan lokal di setiap kawasan.

Julang Papua juga perlu dibedakan dari Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix). Julang Sulawesi merupakan jenis yang berkaitan dengan Sulawesi, sedangkan Julang Papua memiliki sebaran utama di New Guinea dan wilayah Melanesia di sekitarnya.

Konservasi Weri-Saharey Disiapkan Berbasis Masyarakat

Penjajakan TEP Unhas dan BKSDA Fakfak diarahkan pada penyusunan PKS. Rencana kerja sama mencakup identifikasi serta pemantauan habitat rangkong, edukasi dan sosialisasi konservasi, pelibatan masyarakat lokal, serta pengembangan Julang Papua sebagai objek daya tarik ekowisata.

BACA JUGA:  Peneliti Unhas Gandeng BKSDA Fakfak Lestarikan Burung Taon-Taon di Weri-Saharey

Identifikasi habitat diperlukan untuk mengetahui lokasi kemunculan, pohon pakan, dan kemungkinan pohon sarang. Pemantauan juga dapat menjadi dasar bagi pengelolaan kawasan dan evaluasi perubahan habitat dari waktu ke waktu.

Edukasi ditujukan kepada masyarakat agar perlindungan satwa liar berjalan bersama dengan pemanfaatan kawasan. Warga tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pihak yang dapat terlibat dalam pemantauan, pengelolaan lingkungan, dan layanan ekowisata.

Penjajakan ini melanjutkan kegiatan TEP Unhas di Weri-Saharey. Tim-4 sebelumnya membentuk Kelompok Sadar Wisata di Kampung Weri yang melibatkan pemuda dan tokoh masyarakat, kemudian memberikan pelatihan pengelolaan desa wisata, promosi digital, konservasi biodiversitas, pengembangan UMKM, dan pembukuan.

Pokdarwis Kampung Weri disebut beranggotakan 20 orang dengan Jufri Ubay sebagai ketua. Penguatan kelembagaan lokal tersebut menjadi modal sosial untuk mengembangkan ekowisata yang menempatkan Julang Papua dan habitatnya sebagai bagian dari daya tarik kawasan.

Pengembangan Weri-Saharey juga berkaitan dengan penguatan ekonomi kampung. Tim lain dalam Ekspedisi Patriot Unhas melakukan pembahasan mengenai revitalisasi BUMKam, uji pasar produk lokal, hilirisasi pala, serta pemetaan kebun pala secara digital.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa konservasi Julang Papua sedang dijajaki dalam kerangka pembangunan kawasan yang menghubungkan perlindungan keanekaragaman hayati, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan wisata, dan penguatan ekonomi lokal.

Fakta Singkat Taon-taon atau Julang Papua

• Nama lokal dalam konteks Papua Barat: Taon-taon atau Julang Papua.
• Nama ilmiah: Rhyticeros plicatus.
• Nama Inggris: Blyth’s Hornbill atau Papuan Hornbill.
• Keluarga: Bucerotidae.
• Panjang tubuh: dapat mencapai sekitar 91 sentimeter.
• Habitat: hutan dataran rendah hingga sekitar 1.200-1.500 meter di atas permukaan laut.
• Makanan: buah, terutama buah ara, serta serangga dan hewan kecil.
• Sarang: lubang pohon besar pada ketinggian sekitar 18-30 meter.
• Ciri reproduksi: betina berada di dalam sarang yang ditutup sebagian, sedangkan jantan menyuplai makanan melalui celah.
• Peran ekologis: membantu penyebaran biji dan regenerasi hutan.
• Status IUCN yang dirujuk: Least Concern atau Berisiko Rendah.
• Status perdagangan internasional: tercantum dalam Appendix II CITES.
• Fokus konservasi di Fakfak: pemantauan habitat, edukasi, pelibatan masyarakat, dan ekowisata berbasis konservasi.

 

SulawesiPos.com – Taon-taon atau Julang Papua merupakan burung rangkong besar dengan nama ilmiah Rhyticeros plicatus yang hidup di kanopi hutan Papua dan kawasan Melanesia. Burung ini dikenal melalui paruh besar bercula, suara kepakan yang keras, serta perannya menyebarkan biji tumbuhan di dalam ekosistem hutan.

Di Papua Barat, keberadaan Julang Papua menjadi salah satu perhatian konservasi di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak.

Tim-4 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (TEP Unhas) dan Resor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Fakfak menjajaki penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk memantau habitat, mengedukasi masyarakat, melibatkan warga, dan mengembangkan ekowisata berbasis konservasi.

Pertemuan tersebut berlangsung di Kantor Resor BKSDA Fakfak pada Senin (12/10/2026). Tim-4 yang diketuai Dr Ahmad Bahar ST MSi diterima Kepala Resor BKSDA Fakfak Isack B Samory.

Dalam konteks Papua, burung ini disebut Taon-taon atau Julang Papua. Literatur ornithologi internasional mengenalnya sebagai Blyth’s Hornbill atau Papuan Hornbill, sedangkan nama ilmiahnya adalah Rhyticeros plicatus.

Nama ilmiah tersebut sebelumnya banyak ditulis sebagai Aceros plicatus. Julang Papua termasuk keluarga Bucerotidae, kelompok burung yang di Indonesia juga mencakup rangkong, enggang, julang, dan kangkareng.

Julang Papua tidak hanya ditemukan di Papua. Persebaran spesies ini mencakup New Guinea, Kepulauan Maluku, Kepulauan Bismarck, hingga Kepulauan Solomon, dengan beberapa subspesies memiliki wilayah sebaran masing-masing.

Meski begitu, Julang Papua dikenal sebagai satu-satunya jenis rangkong asli New Guinea. Subspesies Rhyticeros plicatus ruficollis tercatat memiliki sebaran di Maluku Utara dan New Guinea bagian barat, termasuk wilayah yang secara biogeografis berkaitan dengan Papua Barat.

Ciri Fisik Taon-taon yang Mudah Dikenali

Julang Papua termasuk burung berukuran besar. Panjang tubuhnya dapat mencapai sekitar 91 sentimeter.

Jantan dewasa umumnya memiliki bulu dominan hitam, kepala berwarna keemasan atau jingga-kecokelatan, tenggorokan putih, dan ekor putih. Betina berukuran lebih kecil dengan warna tubuh yang sebagian besar hitam, tetapi tetap memiliki tenggorokan dan ekor putih.

Kedua jenis kelamin memiliki paruh besar berwarna seperti tanduk dan casque atau cula di pangkal paruh. Pada burung dewasa, casque dapat memiliki hingga delapan lipatan yang bertambah sesuai usia, sedangkan burung muda belum memiliki lipatan tersebut.

Bagian kulit di sekitar mata berwarna biru pucat, sementara irisnya berwarna cokelat kemerahan. Kombinasi paruh besar, casque, warna kepala, dan ekor putih membuat burung ini mudah dibedakan dari banyak jenis burung hutan lainnya.

BACA JUGA:  Peneliti Unhas Gandeng BKSDA Fakfak Lestarikan Burung Taon-Taon di Weri-Saharey

Julang Papua juga memiliki suara yang khas ketika terbang. Kepakan sayapnya menghasilkan suara deras dan keras yang dalam literatur perburungan dibandingkan dengan bunyi uap yang keluar dari lokomotif.

Selain suara kepakan, burung ini mengeluarkan panggilan berupa suara parau, geraman, dan tawa yang dapat terdengar dari kejauhan di dalam hutan.

Habitat Julang Papua Berada di Kanopi Hutan

Julang Papua menghuni hutan dataran rendah, mulai dari permukaan laut hingga sekitar 1.200-1.500 meter di atas permukaan laut. Burung ini banyak beraktivitas di kanopi dan bergantung pada hutan hujan yang menyediakan pohon pakan serta tempat bersarang.

Wilayah jelajahnya meliputi Kepulauan Maluku, New Guinea, Kepulauan Bismarck, dan sebagian Kepulauan Solomon. Birds of the World dari Cornell Lab of Ornithology mencatat sebaran sejumlah subspesies, termasuk R. p. ruficollis di Maluku Utara dan New Guinea bagian barat.

Kebutuhan terhadap pohon besar membuat keberadaan hutan menjadi penting bagi kelangsungan hidup Julang Papua. Burung ini menggunakan lubang pohon berukuran besar untuk berkembang biak, sehingga hilangnya pohon tua dapat mengurangi tempat bersarang yang tersedia.

Di Weri-Saharey, pihak BKSDA menempatkan kawasan tersebut sebagai daerah penyangga konservasi Pegunungan Fakfak. Keberadaan habitat Julang Papua di wilayah itu menjadi alasan perlindungan satwa liar dan ekosistem perlu dilakukan secara bersama.

Kepala Resor BKSDA Fakfak Isack B. Samory menyampaikan dukungan terhadap kehadiran TEP Unhas dan rencana pengembangan Julang Papua sebagai daya tarik ekowisata.

“Kami sangat mendukung kehadiran Tim Ekspedisi Patriot di Weri-Saharey, Fakfak Timur, karena itu memang daerah penyangga konservasi Pegunungan Fakfak dan merupakan habitat Julang Papua atau rangkong,” ungkap Isack B. Samory.

Strategi Berkembang Biak yang Unik

Julang Papua bersarang di lubang pohon besar pada ketinggian sekitar 18-30 meter dari permukaan tanah. Pola berkembang biaknya memperlihatkan pembagian peran yang kuat antara induk jantan dan betina.

Betina masuk ke dalam lubang pohon ketika masa mengeram dan merawat anak. Lubang tersebut kemudian ditutup sebagian menggunakan campuran ampas buah dan kayu lapuk sehingga hanya menyisakan celah sempit.

Melalui celah itu, jantan menyuplai makanan untuk betina dan anak-anaknya. Betina tetap berada di dalam lubang selama masa pengeraman dan awal pemeliharaan anak, sementara jantan mencari makanan di luar sarang.

Jumlah telur dalam satu sarang umumnya sekitar dua butir. Ketergantungan pada lubang pohon besar membuat keberhasilan berkembang biak sangat berkaitan dengan kondisi hutan dan ketersediaan pohon sarang.

BACA JUGA:  Peneliti Unhas Gandeng BKSDA Fakfak Lestarikan Burung Taon-Taon di Weri-Saharey

Pemakan Buah dan Petani Hutan

Makanan utama Julang Papua berupa buah, terutama buah ara atau jenis-jenis Ficus. Burung ini juga dapat memakan serangga dan hewan kecil sebagai tambahan.

Ketika berpindah dari satu pohon ke pohon lain, biji dari buah yang dimakannya dapat ikut tersebar di kawasan hutan. Peran itu membuat rangkong sering disebut sebagai petani hutan karena membantu regenerasi tumbuhan.

Burung Indonesia mencatat rangkong memiliki peran penting dalam penyebaran biji dan berkaitan erat dengan kesehatan hutan. Di Indonesia, terdapat sekitar 13 jenis rangkong, termasuk Julang Papua yang tercatat berada di Papua.

Peran sebagai penyebar biji juga membuat keberadaan Julang Papua penting bagi ekosistem, bukan hanya sebagai kekayaan satwa. Perubahan komposisi hutan dan berkurangnya pohon pakan dapat memengaruhi ketersediaan makanan serta pola pergerakannya.

Apakah Taon-taon Termasuk Burung Langka?

Secara global, Rhyticeros plicatus berstatus Least Concern atau Berisiko Rendah dalam penilaian IUCN yang dirujuk dari asesmen 2020. Status tersebut berarti spesies ini belum masuk kategori terancam secara global, bukan berarti setiap populasinya aman di seluruh wilayah.

Julang Papua juga tercantum dalam Appendix II CITES. Ketentuan ini menempatkan perdagangan internasional spesies tersebut dalam pengawasan agar pemanfaatannya tidak mengancam kelangsungan populasi di alam.

Sejumlah sumber konservasi mencatat tekanan terhadap Julang Papua tetap ada. Di beberapa bagian New Guinea, burung ini diburu untuk diambil bulu dan paruhnya sebagai bahan hiasan, sedangkan bagian bawah paruhnya pernah dimanfaatkan sebagai ujung tombak.

Tekanan berburu dapat menjadi lebih serius ketika disertai kerusakan hutan. Hilangnya pohon besar, pembukaan lahan, dan berkurangnya pohon berbuah dapat mengurangi tempat makan maupun lokasi sarang.

Karena itu, menyebut Julang Papua berstatus Berisiko Rendah tidak tepat jika diterjemahkan sebagai bebas ancaman. Status global perlu dibaca bersama kondisi habitat dan tekanan lokal di setiap kawasan.

Julang Papua juga perlu dibedakan dari Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix). Julang Sulawesi merupakan jenis yang berkaitan dengan Sulawesi, sedangkan Julang Papua memiliki sebaran utama di New Guinea dan wilayah Melanesia di sekitarnya.

Konservasi Weri-Saharey Disiapkan Berbasis Masyarakat

Penjajakan TEP Unhas dan BKSDA Fakfak diarahkan pada penyusunan PKS. Rencana kerja sama mencakup identifikasi serta pemantauan habitat rangkong, edukasi dan sosialisasi konservasi, pelibatan masyarakat lokal, serta pengembangan Julang Papua sebagai objek daya tarik ekowisata.

BACA JUGA:  Peneliti Unhas Gandeng BKSDA Fakfak Lestarikan Burung Taon-Taon di Weri-Saharey

Identifikasi habitat diperlukan untuk mengetahui lokasi kemunculan, pohon pakan, dan kemungkinan pohon sarang. Pemantauan juga dapat menjadi dasar bagi pengelolaan kawasan dan evaluasi perubahan habitat dari waktu ke waktu.

Edukasi ditujukan kepada masyarakat agar perlindungan satwa liar berjalan bersama dengan pemanfaatan kawasan. Warga tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pihak yang dapat terlibat dalam pemantauan, pengelolaan lingkungan, dan layanan ekowisata.

Penjajakan ini melanjutkan kegiatan TEP Unhas di Weri-Saharey. Tim-4 sebelumnya membentuk Kelompok Sadar Wisata di Kampung Weri yang melibatkan pemuda dan tokoh masyarakat, kemudian memberikan pelatihan pengelolaan desa wisata, promosi digital, konservasi biodiversitas, pengembangan UMKM, dan pembukuan.

Pokdarwis Kampung Weri disebut beranggotakan 20 orang dengan Jufri Ubay sebagai ketua. Penguatan kelembagaan lokal tersebut menjadi modal sosial untuk mengembangkan ekowisata yang menempatkan Julang Papua dan habitatnya sebagai bagian dari daya tarik kawasan.

Pengembangan Weri-Saharey juga berkaitan dengan penguatan ekonomi kampung. Tim lain dalam Ekspedisi Patriot Unhas melakukan pembahasan mengenai revitalisasi BUMKam, uji pasar produk lokal, hilirisasi pala, serta pemetaan kebun pala secara digital.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa konservasi Julang Papua sedang dijajaki dalam kerangka pembangunan kawasan yang menghubungkan perlindungan keanekaragaman hayati, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan wisata, dan penguatan ekonomi lokal.

Fakta Singkat Taon-taon atau Julang Papua

• Nama lokal dalam konteks Papua Barat: Taon-taon atau Julang Papua.
• Nama ilmiah: Rhyticeros plicatus.
• Nama Inggris: Blyth’s Hornbill atau Papuan Hornbill.
• Keluarga: Bucerotidae.
• Panjang tubuh: dapat mencapai sekitar 91 sentimeter.
• Habitat: hutan dataran rendah hingga sekitar 1.200-1.500 meter di atas permukaan laut.
• Makanan: buah, terutama buah ara, serta serangga dan hewan kecil.
• Sarang: lubang pohon besar pada ketinggian sekitar 18-30 meter.
• Ciri reproduksi: betina berada di dalam sarang yang ditutup sebagian, sedangkan jantan menyuplai makanan melalui celah.
• Peran ekologis: membantu penyebaran biji dan regenerasi hutan.
• Status IUCN yang dirujuk: Least Concern atau Berisiko Rendah.
• Status perdagangan internasional: tercantum dalam Appendix II CITES.
• Fokus konservasi di Fakfak: pemantauan habitat, edukasi, pelibatan masyarakat, dan ekowisata berbasis konservasi.

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru