44 Bupati Siapkan Lahan Bioetanol, Mentan Amran Bidik 1-2 Juta Hektare

SulawesiPos.com – Sebanyak 44 bupati dari 17 provinsi menyatakan kesiapan menyiapkan lahan dan menggerakkan petani untuk mendukung pengembangan bioetanol nasional.

Program yang diarahkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman itu membidik lahan 1-2 juta hektare untuk bahan baku tebu, ubi kayu, dan jagung.

Dukungan tersebut disampaikan dalam Koordinasi Program Khusus Pemerintah untuk Bioethanol di Jakarta, sebagaimana rilis Kementerian Pertanian RI yang terbit Selasa (22/9/2026).

Pertemuan itu dihadiri kepala daerah dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, hingga Papua Selatan, termasuk sejumlah bupati dari Sulawesi Selatan.

Angle utama program ini bukan lagi sekadar rencana pengembangan energi alternatif, melainkan mulai bergeser ke kesiapan daerah menyediakan lahan dan melibatkan petani.

Kementan juga menyatakan akan mendukung daerah melalui benih, alat pertanian, pupuk, serta pendampingan teknis.

Mentan Amran mengatakan pengembangan bioetanol merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

“‘Hari ini kami rapat hubungannya etanol yang sumbernya adalah singkong, tebu, dan jagung. Itu atas arahan Bapak Presiden Republik Indonesia. Bupati-bupati ada 44, sangat mendukung program ini. Insyaallah kita akan mulai bergerak sekarang dan tahun depan mudah-mudahan sudah mulai tanam,’” kata Amran.

BACA JUGA:  Kementan Dorong Modernisasi Pertanian, Petani CSR Kapuas Dilibatkan Operasikan Drone

Ia menyebut kebutuhan lahan untuk program tersebut berada pada skala besar.

“‘Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya, kita gerakkan masif seluruh Indonesia,’” ujarnya.

Komitmen Daerah Mulai Dipetakan

Plt Bupati Muara Enim Sumarni menyatakan daerahnya menyiapkan sekitar 6.000 hektare untuk singkong, jagung, dan tebu. Ia menyebut keterlibatan petani menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan program.

“‘Kami sudah berkomitmen di sini, hadir lebih dari 40 bupati seluruh Indonesia yang menyatakan kesiapan lahan. Kami dari Kabupaten Muara Enim menyiapkan sekitar 6.000 hektare untuk singkong, jagung, dan tebu. Sesuai arahan Pak Menteri, 30 persen harus melibatkan rakyat,’” kata Sumarni.

Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, mengusulkan pengembangan 24.000 hektare jagung dan 5.500 hektare ubi kayu.

Bupati Malaka Stefanus Bria Seran mengatakan mayoritas masyarakat di wilayahnya bekerja sebagai petani.

“‘Mayoritas rakyat kami adalah petani sehingga kami sangat antusias mengikuti program ini,’” ujarnya.

BACA JUGA:  Mentan Amran Bakal Bekali Maba Unismuh Makassar Besok, Bicara Kepemimpinan dan Masa Depan Bangsa

Sementara itu, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyebut daerahnya menyiapkan tambahan sekitar 15.000 hektare jagung dan 15.000 hektare singkong.

Menurut dia, masyarakat Garut telah memiliki kebiasaan menanam dua komoditas tersebut.

“‘Indonesia sudah berhasil dalam ketahanan pangan, berikutnya adalah ketahanan energi. Garut memiliki potensi bahan baku etanol,’” kata Abdusy Syakur.

Konsolidasi tersebut menjadi tahap awal pengembangan bioetanol berbasis tiga komoditas.

Realisasi program selanjutnya bergantung pada kesiapan lahan, pengorganisasian petani, dukungan sarana produksi, dan pembangunan pabrik yang direncanakan pemerintah.

SulawesiPos.com – Sebanyak 44 bupati dari 17 provinsi menyatakan kesiapan menyiapkan lahan dan menggerakkan petani untuk mendukung pengembangan bioetanol nasional.

Program yang diarahkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman itu membidik lahan 1-2 juta hektare untuk bahan baku tebu, ubi kayu, dan jagung.

Dukungan tersebut disampaikan dalam Koordinasi Program Khusus Pemerintah untuk Bioethanol di Jakarta, sebagaimana rilis Kementerian Pertanian RI yang terbit Selasa (22/9/2026).

Pertemuan itu dihadiri kepala daerah dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, hingga Papua Selatan, termasuk sejumlah bupati dari Sulawesi Selatan.

Angle utama program ini bukan lagi sekadar rencana pengembangan energi alternatif, melainkan mulai bergeser ke kesiapan daerah menyediakan lahan dan melibatkan petani.

Kementan juga menyatakan akan mendukung daerah melalui benih, alat pertanian, pupuk, serta pendampingan teknis.

Mentan Amran mengatakan pengembangan bioetanol merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

“‘Hari ini kami rapat hubungannya etanol yang sumbernya adalah singkong, tebu, dan jagung. Itu atas arahan Bapak Presiden Republik Indonesia. Bupati-bupati ada 44, sangat mendukung program ini. Insyaallah kita akan mulai bergerak sekarang dan tahun depan mudah-mudahan sudah mulai tanam,’” kata Amran.

BACA JUGA:  Kementan Dorong Modernisasi Pertanian, Petani CSR Kapuas Dilibatkan Operasikan Drone

Ia menyebut kebutuhan lahan untuk program tersebut berada pada skala besar.

“‘Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya, kita gerakkan masif seluruh Indonesia,’” ujarnya.

Komitmen Daerah Mulai Dipetakan

Plt Bupati Muara Enim Sumarni menyatakan daerahnya menyiapkan sekitar 6.000 hektare untuk singkong, jagung, dan tebu. Ia menyebut keterlibatan petani menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan program.

“‘Kami sudah berkomitmen di sini, hadir lebih dari 40 bupati seluruh Indonesia yang menyatakan kesiapan lahan. Kami dari Kabupaten Muara Enim menyiapkan sekitar 6.000 hektare untuk singkong, jagung, dan tebu. Sesuai arahan Pak Menteri, 30 persen harus melibatkan rakyat,’” kata Sumarni.

Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, mengusulkan pengembangan 24.000 hektare jagung dan 5.500 hektare ubi kayu.

Bupati Malaka Stefanus Bria Seran mengatakan mayoritas masyarakat di wilayahnya bekerja sebagai petani.

“‘Mayoritas rakyat kami adalah petani sehingga kami sangat antusias mengikuti program ini,’” ujarnya.

BACA JUGA:  Mensesneg Sebut Mentan Amran Panglima Pangan, Siap Pacu Bioetanol

Sementara itu, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyebut daerahnya menyiapkan tambahan sekitar 15.000 hektare jagung dan 15.000 hektare singkong.

Menurut dia, masyarakat Garut telah memiliki kebiasaan menanam dua komoditas tersebut.

“‘Indonesia sudah berhasil dalam ketahanan pangan, berikutnya adalah ketahanan energi. Garut memiliki potensi bahan baku etanol,’” kata Abdusy Syakur.

Konsolidasi tersebut menjadi tahap awal pengembangan bioetanol berbasis tiga komoditas.

Realisasi program selanjutnya bergantung pada kesiapan lahan, pengorganisasian petani, dukungan sarana produksi, dan pembangunan pabrik yang direncanakan pemerintah.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru