SulawesiPos.com – Aprida Rapi (49), alumni Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin angkatan 1996, tewas ditembak kelompok bersenjata saat menjalankan tugas bersama rombongan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Kampung Muliama, Papua Pegunungan, Rabu (9/9/2026), hanya sembilan hari sebelum rekan-rekan seangkatannya menggelar reuni tiga dekade di Takalar.
Aprida yang menjabat Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Jayawijaya menjadi satu dari tiga pegawai pemerintah yang meninggal dalam serangan tersebut, bersama Alfonsius Albinus Meha (35) dan Willi Mbuik (25).
Aparat masih menyelidiki pelaku, motif, serta rangkaian kejadian.
Kabar awal menyebut penembakan terjadi sekitar pukul 15.47, sedangkan keterangan resmi kepolisian mencatat peristiwa berlangsung sekitar pukul 15.53 WIT.
Informasi awal yang beredar di kalangan alumni menyebut para korban merupakan petugas bantuan pangan dalam rombongan delapan pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya yang melakukan distribusi ke Distrik Muliama, dengan lima orang dilaporkan selamat dan berlindung di Puskesmas Muliama.
Keterangan berikutnya dari Kodim 1702/Jayawijaya menyebut para korban bersama lima rekan sedang mengantar bantuan berupa bibit babi untuk masyarakat.
Sementara itu, pembaruan resmi Satgas Operasi Damai Cartenz menyatakan ketiganya berada dalam rombongan 11 orang yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Wamena setelah meninjau kegiatan cetak sawah.
Menurut pendalaman awal kepolisian, rombongan diduga dihadang kelompok bersenjata lalu dipisahkan, dengan delapan orang yang merupakan warga asli Papua, termasuk seorang anak kecil, dipisahkan dari tiga pegawai pendatang yang kemudian ditembak.
Aprida mengalami luka tembak pada bagian perut dan meninggal di lokasi, sedangkan Alfonsius mengalami luka di belakang kepala serta tangan kiri dan juga meninggal di tempat kejadian.
Willi mengalami luka tembak pada bagian pinggang kanan, sempat dibawa ke RSUD Wamena dalam kondisi kritis, tetapi kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Pesan tentang Baju Reuni Menjadi Percakapan Terakhir
Kematian Aprida membawa duka bagi grup WhatsApp alumni Unhas, Ikatan Alumni Fakultas Peternakan Unhas, serta komunitas Fapet 96 yang mengenalnya sebagai sosok pendiam.
Rekan-rekan seangkatannya terkejut karena mereka sedang menyiapkan reuni akbar pada 18–19 September 2026 di Takalar.
“Kami merasa sangat kehilangan atas meninggalnya Saudari kami Aprida. Padahal pekan depan kami ingin bertemu,” kata Muh Arsan Fitri, salah seorang rekan Aprida.
Ketua panitia reuni, Muhammad Nasir, mengaku masih berkomunikasi melalui telepon dan pesan dengan Aprida sehari sebelum kabar penembakan diterima.
“Saya chat almarhumah menanyakan ukuran bajunya. Tapi dia menjawab kemungkinan tidak datang karena bulan lalu baru dari Makassar,” kata Nasir.
Nasir kemudian menyimpan tangkapan layar percakapannya dengan Aprida sebagai bukti komunikasi terakhir mengenai rencana reuni.
“Jelang reuni 3 Dekade, kita kehilangan lagi seorang kawan… Akhhh,” tulis Anugrah Oetsman, rekan Aprida lainnya.
Indah Yuliani juga menyampaikan kesedihan setelah melihat foto para korban yang masih tergeletak di lokasi.
“Ya Allah sedihx…smg keluarga tercinta yg ditinggalkan dberi kesabaran, kekuatan dan keikhlasan…,” tulis Indah.
Aparat Buru Pelaku dan Periksa Delapan Saksi
Personel gabungan Satgas Operasi Damai Cartenz dan Polres Jayawijaya bergerak menuju lokasi setelah menerima laporan, kemudian mengamankan area serta menyisir sekitar Puskesmas Muliama dan lokasi penembakan.
Delapan orang yang berada dalam rombongan diamankan sebagai saksi dan dimintai keterangan untuk membantu penyidik menyusun kronologi serta mengidentifikasi pihak yang terlibat.
Pendalaman awal Satgas menduga serangan dilakukan kelompok kriminal bersenjata dari wilayah Nduga, tetapi identitas dan keterlibatan para pelaku masih dalam penyelidikan serta pengumpulan bahan keterangan.
“Kami memastikan proses penyelidikan dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap kronologi, mengidentifikasi para pelaku, serta memastikan mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 Irjen Pol Faizal Ramadhani.
Seluruh jenazah korban telah dievakuasi ke RSUD Wamena, sedangkan laporan awal belum memastikan apakah jenazah Aprida akan dipulangkan ke Sulawesi Selatan untuk dimakamkan.*

