SulawesiPos.com – Ribuan warga Palestina menghadiri pemakaman massal 100 orang, termasuk sedikitnya 60 anak, di kawasan Al-Zaytoun, Kota Gaza, Palestina, Minggu (6/9/2026), setelah tim Pertahanan Sipil Gaza mengangkat jenazah dan sisa tubuh mereka dari reruntuhan rumah yang hancur akibat serangan Israel lebih dari dua tahun lalu melalui operasi pencarian yang terkendala minimnya alat berat.
Jenazah dan sisa tubuh para korban dibaringkan di dekat reruntuhan rumah, diselimuti bendera Palestina, disalatkan, lalu dibawa untuk dimakamkan setelah keluarga mereka menunggu lebih dari dua tahun untuk memberikan penghormatan terakhir.
Berita mengenai pemakaman massal tersebut dipublikasikan Anadolu Agency pada 6 September 2026, yang melaporkan bahwa sekitar 60 dari 100 korban merupakan anak-anak dan ribuan warga bersama keluarga korban serta tokoh masyarakat mengikuti prosesi tersebut.
Para korban berasal dari keluarga Rahim, Balawi, Malaka, Qanbour, dan Salmi yang menurut otoritas setempat meninggal ketika sejumlah rumah mereka dihantam pasukan Israel sekitar dua setengah tahun sebelumnya.

Direktur Pertahanan Sipil di Kota Gaza, Raed al-Dahshan, mengatakan proses pencarian berlangsung sangat berat karena skala kehancuran yang luas serta minimnya ekskavator dan peralatan berat yang dapat digunakan untuk membuka lapisan beton.
Operasi tersebut merupakan bagian dari tahap kedua proyek pencarian yang dimulai pada 19 Juli 2026 dengan sekitar 800 jam kerja pada 147 rumah yang hancur di Kota Gaza serta wilayah utara dan tengah Jalur Gaza.
Sekitar 1.072 jenazah diperkirakan masih tertimbun pada lokasi-lokasi yang termasuk dalam tahap kedua operasi tersebut, sementara tahap pertama yang dimulai pada akhir November 2025 telah menemukan sekitar 333 jenazah dan sisa tubuh dari 54 rumah dan bangunan.
Dr. Abdurrahim Razak: Reruntuhan Gaza Harus Menggugah Nurani Dunia
Anggota Dewan Pertimbangan MUI Sulawesi Selatan, Dr. Abdurrahim Razak, menilai penemuan dan pengangkatan jenazah warga Gaza setelah lebih dari dua tahun tertimbun bukan sekadar pekerjaan pencarian korban, melainkan perjuangan kemanusiaan untuk memperlihatkan kepada masyarakat internasional besarnya akibat perang terhadap penduduk sipil.

Dalam keterangannya ketika dihubungi jurnalis SulawesiPos.com pada Senin (7/9/2026), Abdurrahim menyebut upaya Pertahanan Sipil dan masyarakat Gaza membongkar reruntuhan sebagai bentuk mujahadah atau perjuangan luar biasa karena dilakukan dalam kondisi keterbatasan peralatan sekaligus trauma berkepanjangan akibat perang.
Menurut dia, setiap jenazah yang ditemukan di bawah reruntuhan membawa pesan kemanusiaan yang jauh melampaui angka statistik korban karena di baliknya terdapat anak, ibu, ayah, dan keluarga yang kehilangan hak untuk menjalani kehidupan secara aman.
Ia menilai penemuan puluhan jenazah anak-anak seharusnya menjadi peringatan moral bagi masyarakat internasional bahwa perlindungan warga sipil tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan politik, militer ataupun persekutuan geopolitik.
Abdurrahim juga mengkritik keras dukungan politik dan militer Amerika Serikat terhadap Israel serta sikap sejumlah pemerintahan di kawasan Arab yang menurut pandangannya belum memberikan tekanan yang cukup kuat untuk melindungi rakyat Palestina dan memastikan kekerasan tidak kembali berulang.
Baginya, tragedi Gaza tidak semestinya dipandang semata-mata melalui pembelahan politik antara pendukung Palestina dan Israel karena kematian anak-anak serta penderitaan penduduk sipil merupakan persoalan kemanusiaan universal.
“Usaha pembongkaran dan penemuan ratusan syuhada warga Gaza setelah lebih dari dua tahun terkubur merupakan pekerjaan mujahadah yang luar biasa untuk menunjukkan kepada dunia besarnya tragedi kemanusiaan yang telah terjadi di Gaza,” kata Abdurrahim, sekaligus Ketua Forum Pembebasan Masjidil Aqsha Palaestina Makassar ini.

