Lagi Tren di China: Anak-anak Kota Dikirim ke Kamp Pedesaan untuk Bertani

Menurut staf itu, reaksi haru tersebut kerap berujung pada rekomendasi dari mulut ke mulut kepada orang tua lain.

Seorang pria bermarga Gao dari Provinsi Sichuan mengirim putrinya yang baru duduk di tahun pertama sekolah menengah ke salah satu kamp.

Ia mengaku terkejut karena putrinya tetap menikmati pekerjaan pertanian itu meski terus-menerus mengeluh.

Orang tua lain dari Shanghai mengirim putrinya yang berusia tujuh tahun ke kamp selama 10 hari.

Ia mengatakan putrinya masih mempertahankan kebiasaan malas dan pilih-pilih makanan.

Meski begitu, ia tetap puas karena anaknya sudah keluar dari zona nyaman dan merasakan gaya hidup yang berbeda.

Minat terhadap kamp semacam ini terlihat pula di kolom komentar video-video yang beredar.

Banyak orang bertanya bagaimana cara mendaftarkan anak mereka ke program tersebut.

“Apa yang dialami anak-anak kita di kamp musim panas ini mencerminkan kesulitan nyata yang pernah dihadapi generasi kita. Kita ingin memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka, tetapi mungkin tanpa sadar telah memanjakan mereka. Mungkin menghadapi kesulitan adalah hal penting agar anak-anak bisa menghargai kehidupan nyaman yang mereka miliki,” komentar seorang warganet.

BACA JUGA:  Mentan Amran Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026

Namun, tidak semua tanggapan bernada dukungan.

“Banyak anak hanya menerima pendidikan di ruang kelas perkotaan. Pekerjaan fisik yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap perkembangan fisik dan mental mereka,” ujar warganet lainnya.

Menurut staf itu, reaksi haru tersebut kerap berujung pada rekomendasi dari mulut ke mulut kepada orang tua lain.

Seorang pria bermarga Gao dari Provinsi Sichuan mengirim putrinya yang baru duduk di tahun pertama sekolah menengah ke salah satu kamp.

Ia mengaku terkejut karena putrinya tetap menikmati pekerjaan pertanian itu meski terus-menerus mengeluh.

Orang tua lain dari Shanghai mengirim putrinya yang berusia tujuh tahun ke kamp selama 10 hari.

Ia mengatakan putrinya masih mempertahankan kebiasaan malas dan pilih-pilih makanan.

Meski begitu, ia tetap puas karena anaknya sudah keluar dari zona nyaman dan merasakan gaya hidup yang berbeda.

Minat terhadap kamp semacam ini terlihat pula di kolom komentar video-video yang beredar.

Banyak orang bertanya bagaimana cara mendaftarkan anak mereka ke program tersebut.

“Apa yang dialami anak-anak kita di kamp musim panas ini mencerminkan kesulitan nyata yang pernah dihadapi generasi kita. Kita ingin memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka, tetapi mungkin tanpa sadar telah memanjakan mereka. Mungkin menghadapi kesulitan adalah hal penting agar anak-anak bisa menghargai kehidupan nyaman yang mereka miliki,” komentar seorang warganet.

BACA JUGA:  Petani Sawit Senang Sambut Langkah Cepat Mentan Amran Pulihkan Harga TBS Kelapa Sawit

Namun, tidak semua tanggapan bernada dukungan.

“Banyak anak hanya menerima pendidikan di ruang kelas perkotaan. Pekerjaan fisik yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap perkembangan fisik dan mental mereka,” ujar warganet lainnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru