Salah satu prototipe hanya berbobot 150 mikrogram atau 0,00015 gram dan menghasilkan gaya dorong ke atas secara langsung sehingga dapat meluncur dari permukaan menyerupai roket mini.
Desain lainnya memadukan tiga resonator dengan bilah-bilah kecil yang berputar hingga 13.000 putaran per menit untuk menciptakan gaya angkat aerodinamis stabil seperti helikopter.
Keunggulan utama sistem itu terletak pada ketiadaan motor, baterai penggerak, transmisi mekanis, dan komponen magnetik di dalam kendaraan sehingga bobot serta ukurannya dapat diperkecil secara ekstrem.
Ketiadaan komponen bergerak konvensional juga berpotensi mengurangi kerumitan perakitan, meskipun penerapan praktisnya tetap memerlukan sumber suara eksternal, pengaturan frekuensi yang presisi, serta lingkungan akustik yang terkendali.
Dari Robot Medis hingga Wahana yang Berubah Bentuk
Direktur Laboratorium MICROBS EPFL, Selman Sakar, menjelaskan bahwa penelitian tersebut berbeda dari metode levitasi akustik terdahulu karena resonator pada perangkat secara aktif memanen suara pada frekuensi tertentu untuk menghasilkan daya dorong dan gerakan terkendali.
“Alih-alih sekadar mendorong perangkat menggunakan gelombang suara, kami menciptakan resonator akustik yang disetel untuk memanfaatkan suara pada frekuensi tertentu guna menghasilkan daya dorong terarah dan gerakan terkendali,” ujar Sakar.
Penulis pertama penelitian sekaligus mahasiswa doktoral MICROBS, Junsun Hwang, mengatakan konsep tersebut masih dapat diperkecil untuk menghasilkan rancangan baru yang memperluas batas teknologi robotika dan penerbangan mikro.
Sejumlah struktur peka suara kelak dapat disatukan dalam sebuah perangkat fleksibel, dengan setiap bagian merespons frekuensi berbeda untuk bergerak, menekuk, berputar, atau bergetar secara mandiri.
Konsep itu membuka peluang hadirnya robot aerodinamis yang dapat mengubah bentuk sebagai respons terhadap suara, tetapi manfaat medis, industri, atau lingkungan masih merupakan prospek penelitian dan belum menjadi aplikasi siap pakai.
Dalam jangka panjang, robot berskala sangat kecil semacam ini berpotensi diteliti untuk pemeriksaan ruang sempit, manipulasi objek ringan, pemantauan lingkungan, sistem mikrofluida, dan tugas presisi yang sulit dijangkau mesin konvensional.
Namun, prototipe tersebut masih berada pada tahap pembuktian konsep dengan kemampuan terbang dan mengangkut beban yang sangat terbatas sehingga belum dapat disamakan dengan drone berkamera atau wahana udara komersial.
Terobosan EPFL menegaskan bahwa suara bukan hanya sarana komunikasi yang dapat didengar manusia, melainkan juga bentuk energi mekanik yang bisa direkayasa untuk menghidupkan generasi baru robot tanpa motor berukuran nyaris tak kasatmata. (Ali)

