Dolar AS Terpuruk Dekati Titik Terendah, Dunia Menanti Rahasia Suku Bunga The Fed

SulawesiPos.com – Dolar Amerika Serikat bergerak di dekat posisi terendah dalam beberapa bulan terhadap mata uang utama pada perdagangan Asia, Rabu (19/8/2026), karena penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahnya data ekonomi mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga, sementara investor menunggu risalah rapat Federal Reserve untuk membaca arah kebijakan moneter berikutnya.

Kondisi tersebut dilaporkan Reuters melalui tulisan Jiaxing Li yang diterbitkan pada 19 Agustus 2026.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap enam mata uang utama turun 0,1 persen menjadi 99,55, memperlihatkan bahwa tekanan terhadap mata uang cadangan dunia itu belum sepenuhnya mereda.

Euro menguat 0,1 persen menjadi 1,1585 dolar AS dan bertahan dekat posisi tertinggi dalam dua bulan yang disentuh pada awal pekan.

Pound sterling bergerak sedikit lebih tinggi menjadi 1,3538 dolar AS dan tetap berada di sekitar level terkuatnya dalam tiga bulan menjelang pengumuman data inflasi Inggris.

Yen Jepang menguat tipis menjadi 159,32 per dolar AS dan menjauh dari batas psikologis 160 yang diawasi ketat karena pelemahan berlebihan dapat kembali memunculkan spekulasi intervensi pemerintah Jepang.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah mata uang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi negaranya, tetapi juga oleh perbandingan tingkat suku bunga, imbal hasil aset, inflasi, risiko geopolitik, dan harapan investor terhadap kebijakan bank sentral.

Imbal Hasil Obligasi Surut, Keunggulan Dolar Menyempit

Tekanan jual pada obligasi pemerintah AS atau US Treasuries terlihat berhenti sementara setelah sebelumnya mendorong imbal hasil surat utang jangka panjang mendekati tingkat tertinggi dalam hampir dua dekade.

BACA JUGA:  Rupiah Dekati Rp17.000, Menkeu Purbaya Prediksi Pelemahan Hanya Sementara

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun menjadi sekitar 4,686 persen, sedangkan obligasi 30 tahun melemah menjadi 5,268 persen setelah sebelumnya menyentuh puncak tertinggi dalam hampir 20 tahun.

Imbal hasil bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi sehingga penurunan imbal hasil berarti harga surat utang menguat ketika investor kembali melakukan pembelian.

Hubungan antara imbal hasil obligasi dan dolar sangat penting karena tingkat pengembalian aset AS yang lebih tinggi biasanya menarik modal global, sedangkan penurunan imbal hasil dapat mengurangi keunggulan dolar dibandingkan mata uang lain.

Kepala Strategi Pendapatan Tetap dan Mata Uang Global Alpine Macro Harvinder Kalirai menilai peluang kenaikan lebih lanjut pada imbal hasil obligasi akan terbatas apabila Federal Reserve tidak menaikkan suku bunga sebagaimana yang sebelumnya diperhitungkan pasar.

Menurut Kalirai, pelemahan pasar tenaga kerja dan melandainya kejutan inflasi biasanya mempersempit keunggulan imbal hasil dolar, yang pada akhirnya dapat menekan nilai mata uang AS.

Data ekonomi Amerika dalam beberapa pekan terakhir memperlihatkan tanda-tanda perlambatan, termasuk hilangnya lapangan pekerjaan secara tidak terduga pada Juli dan kenaikan inflasi yang relatif ringan.

Indikator tersebut membuat pelaku pasar mengurangi spekulasi bahwa Federal Reserve akan kembali memperketat kebijakan moneter pada pertemuan September.

Perangkat CME FedWatch sebelumnya menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun menjadi sekitar 30–35 persen, sedangkan kemungkinan suku bunga dipertahankan berada di kisaran 65–70 persen, meskipun probabilitas tersebut dapat berubah mengikuti perdagangan kontrak berjangka.

BACA JUGA:  Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Risalah The Fed Menjadi Kompas Pasar Global

Federal Reserve dijadwalkan menerbitkan risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC periode 28–29 Juli pada Rabu, 19 Agustus 2026, pukul 14.00 waktu Washington.

Dalam pertemuan Juli tersebut, FOMC mempertahankan target suku bunga federal pada rentang 3,50–3,75 persen melalui keputusan dengan perbandingan suara 9–3.

Risalah rapat dinantikan karena memuat penjelasan lebih terperinci mengenai perdebatan internal, penilaian terhadap inflasi dan ketenagakerjaan, serta pertimbangan para pembuat kebijakan yang tidak seluruhnya terlihat dalam pernyataan singkat seusai pertemuan.

Jika risalah memperlihatkan lebih banyak pejabat mengkhawatirkan pelemahan ekonomi, pasar dapat menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga dan memberikan tekanan tambahan terhadap dolar.

Sebaliknya, penegasan bahwa inflasi masih menjadi ancaman dapat kembali mengangkat ekspektasi pengetatan, menaikkan imbal hasil obligasi, dan memberikan dukungan sementara kepada mata uang AS.

Ketegangan Iran Menghidupkan Kembali Ancaman Inflasi

Pelemahan dolar berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga minyak ke posisi tertinggi dalam lebih dari tiga pekan akibat kebuntuan konflik Amerika Serikat–Iran dan ketidakpastian arus pelayaran melalui Selat Hormuz.

Harga minyak Brent pada perdagangan 19 Agustus naik sekitar 0,5 persen menjadi 91,44 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate menguat sekitar 0,6 persen menjadi 85,45 dolar AS per barel.

Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada pembicaraan yang dijadwalkan dengan Iran dan mengklaim Selat Hormuz tetap terbuka, sedangkan Teheran menegaskan jalur strategis tersebut masih ditutup sampai Washington memenuhi persyaratan kesepakatan sementara.

BACA JUGA:  IHSG Menguat Tipis ke 8.235, Pelaku Pasar Wait and See Data Ekonomi Pekan Depan

Selat Hormuz mempunyai arti luar biasa bagi perekonomian dunia karena jalur sempit tersebut secara historis dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair global sehingga setiap gangguan dapat menaikkan biaya energi, pengiriman, asuransi, dan produksi.

Lonjakan minyak berpotensi memperumit langkah Federal Reserve karena pelemahan lapangan kerja mendorong kebijakan yang lebih longgar, sementara kenaikan energi dapat kembali menyulut inflasi dan menuntut kebijakan yang lebih ketat.

Emas spot bertahan di sekitar 4.337,59 dolar AS per ons setelah merosot hampir dua persen pada perdagangan sebelumnya, dengan pasar logam mulia juga menunggu petunjuk suku bunga dari risalah The Fed.

Dolar Kanada menguat tipis menjadi 1,3880 per dolar AS setelah Trump menunda selama tiga hari penerapan tarif 50 persen terhadap barang-barang Kanada karena kedua negara dilaporkan mencapai kesepakatan sementara.

Bagi negara berkembang termasuk Indonesia, pelemahan dolar global dapat membantu mengurangi tekanan terhadap mata uang domestik dan harga impor, tetapi manfaat tersebut dapat terhapus apabila konflik di Asia Barat mendorong harga minyak, ongkos angkutan, dan kebutuhan subsidi energi semakin tinggi.

Pergerakan dolar pada akhirnya menunjukkan bahwa pasar global sedang berada di antara dua kekuatan besar, yakni perlambatan ekonomi Amerika yang melemahkan alasan menaikkan suku bunga dan risiko minyak serta geopolitik yang tetap menjaga ancaman inflasi tetap hidup. (Ali)

SulawesiPos.com – Dolar Amerika Serikat bergerak di dekat posisi terendah dalam beberapa bulan terhadap mata uang utama pada perdagangan Asia, Rabu (19/8/2026), karena penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahnya data ekonomi mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga, sementara investor menunggu risalah rapat Federal Reserve untuk membaca arah kebijakan moneter berikutnya.

Kondisi tersebut dilaporkan Reuters melalui tulisan Jiaxing Li yang diterbitkan pada 19 Agustus 2026.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap enam mata uang utama turun 0,1 persen menjadi 99,55, memperlihatkan bahwa tekanan terhadap mata uang cadangan dunia itu belum sepenuhnya mereda.

Euro menguat 0,1 persen menjadi 1,1585 dolar AS dan bertahan dekat posisi tertinggi dalam dua bulan yang disentuh pada awal pekan.

Pound sterling bergerak sedikit lebih tinggi menjadi 1,3538 dolar AS dan tetap berada di sekitar level terkuatnya dalam tiga bulan menjelang pengumuman data inflasi Inggris.

Yen Jepang menguat tipis menjadi 159,32 per dolar AS dan menjauh dari batas psikologis 160 yang diawasi ketat karena pelemahan berlebihan dapat kembali memunculkan spekulasi intervensi pemerintah Jepang.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah mata uang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi negaranya, tetapi juga oleh perbandingan tingkat suku bunga, imbal hasil aset, inflasi, risiko geopolitik, dan harapan investor terhadap kebijakan bank sentral.

Imbal Hasil Obligasi Surut, Keunggulan Dolar Menyempit

Tekanan jual pada obligasi pemerintah AS atau US Treasuries terlihat berhenti sementara setelah sebelumnya mendorong imbal hasil surat utang jangka panjang mendekati tingkat tertinggi dalam hampir dua dekade.

BACA JUGA:  Timur Tengah Bergejolak, BEI Imbau Investor Tetap Rasional dalam Berinvestasi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun menjadi sekitar 4,686 persen, sedangkan obligasi 30 tahun melemah menjadi 5,268 persen setelah sebelumnya menyentuh puncak tertinggi dalam hampir 20 tahun.

Imbal hasil bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi sehingga penurunan imbal hasil berarti harga surat utang menguat ketika investor kembali melakukan pembelian.

Hubungan antara imbal hasil obligasi dan dolar sangat penting karena tingkat pengembalian aset AS yang lebih tinggi biasanya menarik modal global, sedangkan penurunan imbal hasil dapat mengurangi keunggulan dolar dibandingkan mata uang lain.

Kepala Strategi Pendapatan Tetap dan Mata Uang Global Alpine Macro Harvinder Kalirai menilai peluang kenaikan lebih lanjut pada imbal hasil obligasi akan terbatas apabila Federal Reserve tidak menaikkan suku bunga sebagaimana yang sebelumnya diperhitungkan pasar.

Menurut Kalirai, pelemahan pasar tenaga kerja dan melandainya kejutan inflasi biasanya mempersempit keunggulan imbal hasil dolar, yang pada akhirnya dapat menekan nilai mata uang AS.

Data ekonomi Amerika dalam beberapa pekan terakhir memperlihatkan tanda-tanda perlambatan, termasuk hilangnya lapangan pekerjaan secara tidak terduga pada Juli dan kenaikan inflasi yang relatif ringan.

Indikator tersebut membuat pelaku pasar mengurangi spekulasi bahwa Federal Reserve akan kembali memperketat kebijakan moneter pada pertemuan September.

Perangkat CME FedWatch sebelumnya menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun menjadi sekitar 30–35 persen, sedangkan kemungkinan suku bunga dipertahankan berada di kisaran 65–70 persen, meskipun probabilitas tersebut dapat berubah mengikuti perdagangan kontrak berjangka.

BACA JUGA:  Rupiah Dekati Rp17.000, Menkeu Purbaya Prediksi Pelemahan Hanya Sementara

Risalah The Fed Menjadi Kompas Pasar Global

Federal Reserve dijadwalkan menerbitkan risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC periode 28–29 Juli pada Rabu, 19 Agustus 2026, pukul 14.00 waktu Washington.

Dalam pertemuan Juli tersebut, FOMC mempertahankan target suku bunga federal pada rentang 3,50–3,75 persen melalui keputusan dengan perbandingan suara 9–3.

Risalah rapat dinantikan karena memuat penjelasan lebih terperinci mengenai perdebatan internal, penilaian terhadap inflasi dan ketenagakerjaan, serta pertimbangan para pembuat kebijakan yang tidak seluruhnya terlihat dalam pernyataan singkat seusai pertemuan.

Jika risalah memperlihatkan lebih banyak pejabat mengkhawatirkan pelemahan ekonomi, pasar dapat menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga dan memberikan tekanan tambahan terhadap dolar.

Sebaliknya, penegasan bahwa inflasi masih menjadi ancaman dapat kembali mengangkat ekspektasi pengetatan, menaikkan imbal hasil obligasi, dan memberikan dukungan sementara kepada mata uang AS.

Ketegangan Iran Menghidupkan Kembali Ancaman Inflasi

Pelemahan dolar berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga minyak ke posisi tertinggi dalam lebih dari tiga pekan akibat kebuntuan konflik Amerika Serikat–Iran dan ketidakpastian arus pelayaran melalui Selat Hormuz.

Harga minyak Brent pada perdagangan 19 Agustus naik sekitar 0,5 persen menjadi 91,44 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate menguat sekitar 0,6 persen menjadi 85,45 dolar AS per barel.

Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada pembicaraan yang dijadwalkan dengan Iran dan mengklaim Selat Hormuz tetap terbuka, sedangkan Teheran menegaskan jalur strategis tersebut masih ditutup sampai Washington memenuhi persyaratan kesepakatan sementara.

BACA JUGA:  Presiden Prabowo Panggil Menteri yang Bidangi Ekonomi ke Hambalang, Seskab Ungkap Isi Pertemuannya

Selat Hormuz mempunyai arti luar biasa bagi perekonomian dunia karena jalur sempit tersebut secara historis dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair global sehingga setiap gangguan dapat menaikkan biaya energi, pengiriman, asuransi, dan produksi.

Lonjakan minyak berpotensi memperumit langkah Federal Reserve karena pelemahan lapangan kerja mendorong kebijakan yang lebih longgar, sementara kenaikan energi dapat kembali menyulut inflasi dan menuntut kebijakan yang lebih ketat.

Emas spot bertahan di sekitar 4.337,59 dolar AS per ons setelah merosot hampir dua persen pada perdagangan sebelumnya, dengan pasar logam mulia juga menunggu petunjuk suku bunga dari risalah The Fed.

Dolar Kanada menguat tipis menjadi 1,3880 per dolar AS setelah Trump menunda selama tiga hari penerapan tarif 50 persen terhadap barang-barang Kanada karena kedua negara dilaporkan mencapai kesepakatan sementara.

Bagi negara berkembang termasuk Indonesia, pelemahan dolar global dapat membantu mengurangi tekanan terhadap mata uang domestik dan harga impor, tetapi manfaat tersebut dapat terhapus apabila konflik di Asia Barat mendorong harga minyak, ongkos angkutan, dan kebutuhan subsidi energi semakin tinggi.

Pergerakan dolar pada akhirnya menunjukkan bahwa pasar global sedang berada di antara dua kekuatan besar, yakni perlambatan ekonomi Amerika yang melemahkan alasan menaikkan suku bunga dan risiko minyak serta geopolitik yang tetap menjaga ancaman inflasi tetap hidup. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru