Dalam pertemuan Juli tersebut, FOMC mempertahankan target suku bunga federal pada rentang 3,50–3,75 persen melalui keputusan dengan perbandingan suara 9–3.
Risalah rapat dinantikan karena memuat penjelasan lebih terperinci mengenai perdebatan internal, penilaian terhadap inflasi dan ketenagakerjaan, serta pertimbangan para pembuat kebijakan yang tidak seluruhnya terlihat dalam pernyataan singkat seusai pertemuan.
Jika risalah memperlihatkan lebih banyak pejabat mengkhawatirkan pelemahan ekonomi, pasar dapat menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga dan memberikan tekanan tambahan terhadap dolar.
Sebaliknya, penegasan bahwa inflasi masih menjadi ancaman dapat kembali mengangkat ekspektasi pengetatan, menaikkan imbal hasil obligasi, dan memberikan dukungan sementara kepada mata uang AS.
Ketegangan Iran Menghidupkan Kembali Ancaman Inflasi
Pelemahan dolar berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga minyak ke posisi tertinggi dalam lebih dari tiga pekan akibat kebuntuan konflik Amerika Serikat–Iran dan ketidakpastian arus pelayaran melalui Selat Hormuz.
Harga minyak Brent pada perdagangan 19 Agustus naik sekitar 0,5 persen menjadi 91,44 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate menguat sekitar 0,6 persen menjadi 85,45 dolar AS per barel.
Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada pembicaraan yang dijadwalkan dengan Iran dan mengklaim Selat Hormuz tetap terbuka, sedangkan Teheran menegaskan jalur strategis tersebut masih ditutup sampai Washington memenuhi persyaratan kesepakatan sementara.
Selat Hormuz mempunyai arti luar biasa bagi perekonomian dunia karena jalur sempit tersebut secara historis dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair global sehingga setiap gangguan dapat menaikkan biaya energi, pengiriman, asuransi, dan produksi.
Lonjakan minyak berpotensi memperumit langkah Federal Reserve karena pelemahan lapangan kerja mendorong kebijakan yang lebih longgar, sementara kenaikan energi dapat kembali menyulut inflasi dan menuntut kebijakan yang lebih ketat.
Emas spot bertahan di sekitar 4.337,59 dolar AS per ons setelah merosot hampir dua persen pada perdagangan sebelumnya, dengan pasar logam mulia juga menunggu petunjuk suku bunga dari risalah The Fed.
Dolar Kanada menguat tipis menjadi 1,3880 per dolar AS setelah Trump menunda selama tiga hari penerapan tarif 50 persen terhadap barang-barang Kanada karena kedua negara dilaporkan mencapai kesepakatan sementara.
Bagi negara berkembang termasuk Indonesia, pelemahan dolar global dapat membantu mengurangi tekanan terhadap mata uang domestik dan harga impor, tetapi manfaat tersebut dapat terhapus apabila konflik di Asia Barat mendorong harga minyak, ongkos angkutan, dan kebutuhan subsidi energi semakin tinggi.
Pergerakan dolar pada akhirnya menunjukkan bahwa pasar global sedang berada di antara dua kekuatan besar, yakni perlambatan ekonomi Amerika yang melemahkan alasan menaikkan suku bunga dan risiko minyak serta geopolitik yang tetap menjaga ancaman inflasi tetap hidup. (Ali)

