Mentan Amran Gandeng UNESA Kembangkan Kedelai, 56 Hektare Disiapkan Jadi Sentra Benih Berkualitas

Skema tersebut merupakan tindak lanjut sinergi Kementan dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Mentan Amran membuka kesempatan bagi perguruan tinggi lain untuk bekerja sama dalam pengembangan komoditas maupun teknologi dan peralatan pertanian.

“Kami sudah MoU dengan Pak Mendiktisaintek. Siapa yang berminat pada komoditas pertanian, termasuk peralatan pertanian, itu bisa langsung MoU dengan kita. Daripada membeli produk-produk dari luar negeri, kita harus bangga dengan produk-produk perguruan tinggi kita sendiri,” tegasnya.

Mentan Amran menyebut kolaborasi tersebut sebagai implementasi nyata konsep triple helix, dengan pemerintah memberikan dukungan kebijakan, akademisi menghasilkan inovasi dan teknologi, sementara dunia usaha menjadi penggerak kegiatan ekonomi.

“Kalau triple helix dijalankan dengan baik, pemerintah sebagai regulator, industri sebagai pengusaha, kemudian akademisi menciptakan inovasi baru, negara ini kuat. Sangat kuat,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Mentan Amran memberikan combine harvester kepada Hasan, salah satu mahasiswa yang diwisuda.

Ia berharap alsintan tersebut tidak sekadar menjadi sarana praktik, tetapi dikelola secara produktif memperoleh pengalaman langsung menjadi wirausaha pertanian.

BACA JUGA:  Peternak Angkat Jempol! Mentan Amran Tahan Kenaikan Harga Pakan, Genjot Penyerapan Telur

“Kita berharap dia menjadi pengusaha yang tangguh. Insya Allah kami berikan combine. Pendapatannya bisa minimal Rp2 juta per hari. Kalau Rp2 juta, berarti Rp60 juta per bulan. Itu bahkan lebih tinggi dari gaji menteri yang sekitar Rp19 juta,” ujarnya.

Menurut Mentan Amran, pendekatan tersebut penting untuk mengubah wajah pertanian dari sektor yang identik dengan pekerjaan manual menjadi sektor usaha modern yang produktif dan menarik bagi generasi muda.

Dukungan alsintan akan dibarengi pembinaan agar mahasiswa mampu mengelolanya sebagai unit usaha.

Modernisasi juga menjadi kunci untuk mengejar produktivitas yang lebih tinggi dengan biaya yang semakin efisien.

Mekanisasi memungkinkan proses pengolahan tanah, penanaman hingga panen dilakukan lebih cepat sehingga petani memiliki peluang meningkatkan intensitas pertanaman.

“Pertanian modern adalah semua alat pengolahan tanah menggunakan alat dan mesin pertanian. Tujuannya apa? Planting index naik dari satu kali menjadi tiga kali, produktivitas juga naik, dan biaya bisa turun sampai 60 persen. Itulah pertanian modern,” tegas Mentan Amran.

BACA JUGA:  Stok Cukup, Harga Stabil, Lebaran 2026/1447 H Dilalui dengan Kemenangan untuk Semua

Melalui kolaborasi tersebut, Mentan Amran ingin kekuatan akademik perguruan tinggi tidak berhenti di laboratorium dan ruang kuliah.

Lahan, riset, teknologi, dosen, dan mahasiswa didorong masuk dalam ekosistem produksi pertanian sehingga inovasi kampus dapat langsung menjawab kebutuhan pangan nasional.

Skema tersebut merupakan tindak lanjut sinergi Kementan dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Mentan Amran membuka kesempatan bagi perguruan tinggi lain untuk bekerja sama dalam pengembangan komoditas maupun teknologi dan peralatan pertanian.

“Kami sudah MoU dengan Pak Mendiktisaintek. Siapa yang berminat pada komoditas pertanian, termasuk peralatan pertanian, itu bisa langsung MoU dengan kita. Daripada membeli produk-produk dari luar negeri, kita harus bangga dengan produk-produk perguruan tinggi kita sendiri,” tegasnya.

Mentan Amran menyebut kolaborasi tersebut sebagai implementasi nyata konsep triple helix, dengan pemerintah memberikan dukungan kebijakan, akademisi menghasilkan inovasi dan teknologi, sementara dunia usaha menjadi penggerak kegiatan ekonomi.

“Kalau triple helix dijalankan dengan baik, pemerintah sebagai regulator, industri sebagai pengusaha, kemudian akademisi menciptakan inovasi baru, negara ini kuat. Sangat kuat,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Mentan Amran memberikan combine harvester kepada Hasan, salah satu mahasiswa yang diwisuda.

Ia berharap alsintan tersebut tidak sekadar menjadi sarana praktik, tetapi dikelola secara produktif memperoleh pengalaman langsung menjadi wirausaha pertanian.

BACA JUGA:  Stok Cukup, Harga Stabil, Lebaran 2026/1447 H Dilalui dengan Kemenangan untuk Semua

“Kita berharap dia menjadi pengusaha yang tangguh. Insya Allah kami berikan combine. Pendapatannya bisa minimal Rp2 juta per hari. Kalau Rp2 juta, berarti Rp60 juta per bulan. Itu bahkan lebih tinggi dari gaji menteri yang sekitar Rp19 juta,” ujarnya.

Menurut Mentan Amran, pendekatan tersebut penting untuk mengubah wajah pertanian dari sektor yang identik dengan pekerjaan manual menjadi sektor usaha modern yang produktif dan menarik bagi generasi muda.

Dukungan alsintan akan dibarengi pembinaan agar mahasiswa mampu mengelolanya sebagai unit usaha.

Modernisasi juga menjadi kunci untuk mengejar produktivitas yang lebih tinggi dengan biaya yang semakin efisien.

Mekanisasi memungkinkan proses pengolahan tanah, penanaman hingga panen dilakukan lebih cepat sehingga petani memiliki peluang meningkatkan intensitas pertanaman.

“Pertanian modern adalah semua alat pengolahan tanah menggunakan alat dan mesin pertanian. Tujuannya apa? Planting index naik dari satu kali menjadi tiga kali, produktivitas juga naik, dan biaya bisa turun sampai 60 persen. Itulah pertanian modern,” tegas Mentan Amran.

BACA JUGA:  Mentan Amran Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026

Melalui kolaborasi tersebut, Mentan Amran ingin kekuatan akademik perguruan tinggi tidak berhenti di laboratorium dan ruang kuliah.

Lahan, riset, teknologi, dosen, dan mahasiswa didorong masuk dalam ekosistem produksi pertanian sehingga inovasi kampus dapat langsung menjawab kebutuhan pangan nasional.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru