SulawesiPos.com – Trump Media & Technology Group (TMTG), perusahaan pemilik Truth Social yang terafiliasi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, membukukan rugi bersih US$238,1 juta atau sekitar Rp3,8 triliun selama kuartal kedua yang berakhir pada 30 Juni 2026 di tengah anjloknya nilai aset kripto, sehingga manajemen pada Senin (10/8/2026) memutuskan menghentikan sebagian besar ekspansi dan memusatkan kembali bisnis pada media sosial, lisensi data, serta rencana penggabungan usaha energi fusi nuklir.Demikian laporan, Associated Press (AP) pada 10 Agustus 2026.
Kerugian tersebut melonjak lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan rugi sekitar US$20 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan rugi per saham membengkak dari 8 sen menjadi 86 sen.
Pendapatan perusahaan memang meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$1,7 juta, bukan US$1,7 miliar sebagaimana tertulis keliru dalam naskah sumber yang diberikan, tetapi nilainya tetap sangat kecil dibandingkan kerugian bersihnya yang mencapai sekitar 140 kali pendapatan.
Laporan resmi perusahaan menyebut sebagian besar kerugian berasal dari penurunan nilai nonkas atau kerugian yang belum direalisasikan atas bitcoin, token Cronos, aset digital yang dijaminkan, serta investasi terkait kripto.
Namun, setelah unsur kerugian nilai aset, pajak, bunga, dan pos lainnya dikeluarkan, kerugian operasional yang disesuaikan tetap membengkak menjadi sekitar US$164 juta dari US$44 juta setahun sebelumnya, yang menunjukkan persoalan perusahaan tidak semata-mata disebabkan oleh gejolak harga kripto.
Ekspansi Dihentikan, Truth Social Kembali Menjadi Andalan
Kevin McGurn, pemimpin baru yang dalam publikasi perusahaan disebut sebagai CEO sementara, mengatakan TMTG telah mengambil keputusan disiplin untuk mengubah arah dan mengalokasikan lebih banyak waktu serta sumber daya pada program yang dianggap paling penting.
Perusahaan menghentikan rencana pembentukan perusahaan perbendaharaan Cronos bersama Crypto.com dan Yorkville Acquisition Corp karena pasar pengelolaan aset kripto dinilai semakin padat, meskipun produk bursa bermerek Truth Social Funds tetap dipertahankan.
TMTG juga mengurangi ambisi membangun sendiri layanan pasar prediksi atau taruhan daring dan memilih berperan sebagai mitra pemasaran, distribusi, serta penyedia data bagi operator yang sudah memiliki infrastruktur.
Poros utama strategi baru itu adalah Truth API, layanan antarmuka data yang memberikan pelanggan berbayar akses sangat cepat terhadap unggahan akun-akun berpengaruh di Truth Social, termasuk pernyataan Trump yang dapat menggerakkan harga saham, minyak, mata uang, dan instrumen keuangan lain.
Layanan tersebut mengenakan tarif antara US$60.000 dan US$100.000 per bulan serta telah memperoleh lebih dari 10 pelanggan, terutama perusahaan perdagangan berfrekuensi tinggi yang menggunakan algoritma untuk membeli atau menjual aset dalam hitungan milidetik.
Apabila sepuluh pelanggan membayar dalam kisaran tarif tersebut selama setahun penuh, Truth API secara teoretis dapat menghasilkan sekitar US$7,2 juta hingga US$12 juta per tahun, meskipun angka itu masih berupa potensi pendapatan dan bukan penerimaan yang telah dicatat dalam laporan kuartal kedua.
McGurn menilai pasar Truth API dapat diperluas ke pusat data, organisasi pemberitaan, pengembang model bahasa besar, serta platform pasar prediksi yang memerlukan aliran informasi publik secara langsung dan terstruktur.
Informasi Presiden Dijual, Konflik Kepentingan Menguat
Kemampuan pelanggan memperoleh unggahan Trump beberapa detik lebih cepat daripada masyarakat umum memicu kekhawatiran etis karena kebijakan mengenai tarif, perang, diplomasi, dan energi yang diumumkan seorang presiden dapat langsung memengaruhi pasar sekaligus meningkatkan nilai komersial layanan milik perusahaan yang terhubung dengannya.
Senator Demokrat Mark Warner mengusulkan peraturan untuk menjamin akses bebas dan setara terhadap pengumuman pejabat pemerintah, sedangkan Elizabeth Warren dan Adam Schiff meminta otoritas pasar modal Amerika Serikat menyelidiki dugaan pemanfaatan jabatan presiden untuk kepentingan pribadi, sebagaimana diberitakan AFP pada 5 Agustus 2026.
McGurn menolak tudingan tersebut dengan menyatakan bahwa penjualan lisensi data publik secara waktu nyata melalui API telah lama menjadi praktik komersial dalam industri teknologi, media, dan informasi keuangan.
Dari sudut ilmu ekonomi informasi, selisih waktu beberapa detik dapat memiliki nilai sangat besar dalam perdagangan algoritmik karena mesin mampu membaca berita, memperkirakan dampaknya, dan mengeksekusi transaksi sebelum investor biasa sempat melihat pengumuman yang sama.
Fusi Nuklir Dipertahankan sebagai Harapan Jangka Panjang
Di tengah pemangkasan bisnis kripto dan pasar prediksi, TMTG tetap melanjutkan rencana merger dengan perusahaan energi fusi TAE Technologies karena proyek itu dinilai manajemen sebagai penggerak nilai jangka panjang terpenting bagi perusahaan.
Fusi nuklir meniru proses pembentukan energi di Matahari dengan menggabungkan inti atom ringan dan secara teoretis dapat menghasilkan energi rendah karbon tanpa emisi langsung, tetapi teknologi tersebut belum mencapai pemanfaatan komersial luas karena masih menghadapi tantangan kestabilan plasma, biaya, material, dan efisiensi energi.
TMTG berharap menyelesaikan merger dengan TAE Technologies sebelum akhir 2026, meskipun keberhasilan ilmiah dan nilai ekonominya tetap bergantung pada kemampuan teknologi fusi berkembang dari tahap eksperimen menuju pembangkit yang stabil dan kompetitif.
Posisi keuangan perusahaan pada akhir Juni masih mencakup lebih dari US$400 juta dalam bentuk kas dan investasi jangka pendek serta sekitar US$1,2 miliar dalam bitcoin dan aset terkait, tetapi ketergantungan pada aset volatil membuat neracanya rentan terhadap perubahan tajam pasar kripto.
Perusahaan juga memiliki utang sekitar US$1 miliar melalui surat utang konversi yang jatuh tempo pada 2028, sementara pemberi pinjaman mempunyai opsi meminta pencairan pada November 2026 sehingga berpotensi menimbulkan tekanan likuiditas apabila opsi tersebut digunakan.
Saham Trump Media turun 8 persen dalam perdagangan reguler dan kembali melemah tipis setelah laporan keuangan diumumkan, mencerminkan kegelisahan investor terhadap kerugian besar, perubahan strategi berulang, risiko tata kelola, serta belum terbuktinya kemampuan perusahaan mengubah pengaruh politik menjadi bisnis digital yang berkelanjutan. (Ali)

