Makam Syekh Yusuf di Afrika Selatan juga tetap memiliki hubungan kuat dengan tanah kelahirannya. Dalam kajian Syahril Kila disebutkan, makam tersebut masih ramai dikunjungi orang-orang Makassar dan Bugis, antara lain untuk bernazar maupun melakukan upacara syukuran.
Nelson Mandela Menjadikannya Role Model
Jejak Syekh Yusuf di Afrika Selatan kemudian membuat sosoknya tidak hanya dikenang oleh masyarakat Sulawesi Selatan.
Melansir unggahan Instagram resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela menjadikan Syekh Yusuf sebagai role model dalam perjuangan melawan apartheid.
Nelson Mandela juga menyebut Syekh Yusuf sebagai “Salah Seorang Putra Afrika Terbaik”.
Pemerintah Afrika Selatan kemudian memberikan gelar kepahlawanan kepada Syekh Yusuf pada 23 September 2005.
Pengakuan tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan panjang Syekh Yusuf, yang lahir di Gowa tetapi kemudian meninggalkan jejak sejarah hingga Afrika Selatan.
Namanya Makin Harum Setelah Diasingkan
Menariknya, pengasingan Syekh Yusuf justru membuat namanya semakin dikenal di tanah kelahirannya.
Para pengikutnya yang ikut ditangkap VOC awalnya ditahan di Batavia. Setelah Syekh Yusuf diasingkan ke Sailon, para pengikut tersebut kemudian dipulangkan ke Makassar dan tiba pada 22 Maret 1684.
Mereka lalu menceritakan Syekh Yusuf sebagai seorang ulama yang suci, memiliki pengaruh luas dan dikenal sangat gigih menentang VOC.
Dari cerita para pengikutnya, nama Syekh Yusuf semakin harum di Tanah Makassar.
Bahkan, ketika Syekh Yusuf berada dalam pengasingan, muncul gagasan untuk mengembalikannya ke tanah kelahiran agar dijadikan tokoh pemersatu di Butta Gowa. Namun, rencana tersebut tidak terealisasi karena Pemerintah VOC di Batavia menolaknya.
Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Di Indonesia, jasa Syekh Yusuf juga mendapat pengakuan negara.
Berdasarkan informasi yang dicantumkan dalam unggahan resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto pada 7 Agustus 1995.
Dengan perjalanan hidup yang panjang tersebut, nama Syekh Yusuf kemudian tidak hanya hidup dalam catatan sejarah, tetapi juga melekat pada ruang publik di Sulawesi Selatan.
Jalan Syekh Yusuf di Makassar menjadi salah satu pengingat sosok ulama asal Gowa yang perjalanan hidupnya membentang dari tanah kelahiran, Banten, Sailon, hingga Afrika Selatan.
Syekh Yusuf wafat jauh dari Gowa pada 1699. Namun, namanya tetap dikenang di tanah kelahirannya sebagai Tuanta Salamaka ri Gowa, sekaligus sebagai tokoh yang jejak sejarahnya bahkan melampaui batas Indonesia hingga Afrika Selatan.

