Kendati nama penyalin, lokasi pembuatan, bahan kertas, dan tahun penyelesaian yang pasti tidak disebutkan dalam laporan SPA, ciri kaligrafi, dekorasi, struktur halaman, serta bahan yang digunakan dapat menjadi petunjuk penting dalam penelitian paleografi dan kodikologi Islam.
Dari Gua Hira Menuju Ruang Pendidikan Digital
Pemilihan Makkah sebagai tempat pameran memberi manuskrip ini makna tambahan karena Museum Al-Qur’an berada di kaki Jabal Nur, kawasan yang menaungi Gua Hira sebagai tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama melalui Malaikat Jibril.
Distrik Kebudayaan Hira menghubungkan peninggalan sejarah dengan teknologi pendidikan modern melalui Museum Al-Qur’an dan Pameran Wahyu yang menyajikan kisah turunnya wahyu menggunakan pertunjukan audio, visual, dan perangkat interaktif.

Kawasan tersebut terus berkembang sebagai tujuan pendidikan bagi pengunjung domestik dan internasional, sekaligus memperluas pengalaman ziarah dari kegiatan ritual menuju pembelajaran sejarah, bahasa Arab, seni Islam, serta perjalanan transmisi Al-Qur’an.
SPA pada 31 Juli 2026 juga melaporkan bahwa Museum Al-Qur’an dan Pameran Wahyu memperpanjang layanan menjadi 24 jam setiap hari, kecuali Jumat ketika keduanya tutup sementara pada pukul 07.00–15.30 waktu setempat, guna mengakomodasi pertumbuhan kunjungan.
Pameran manuskrip berusia sekitar tiga abad itu menjadi pengingat bahwa pelestarian Al-Qur’an tidak hanya berlangsung melalui hafalan dan transmisi lisan, tetapi juga melalui kerja ilmiah para penyalin, pemeriksa teks, kaligrafer, pembuat pigmen, penjilid, serta konservator naskah.
Di tengah percepatan digitalisasi, keberadaan manuskrip asli tetap penting karena bentuk huruf, jenis tinta, tekstur kertas, lapisan emas, bekas koreksi, dan pola kerusakannya menyimpan informasi sejarah yang tidak seluruhnya dapat digantikan oleh salinan digital.
Melalui pameran tersebut, Museum Al-Qur’an di Hira tidak sekadar menghadirkan benda tua bernilai artistik, tetapi membuka jendela pengetahuan tentang bagaimana umat Islam selama berabad-abad memadukan iman, ilmu, teknologi zamannya, dan keindahan untuk menjaga serta memuliakan firman Allah. (Ali)

