Tekan Kemiskinan Alor, Mentan Amran Siapkan 4 Strategi dari Beras Murah hingga Kakao 30 Tahun

Pengembangan jagung diproyeksikan memperluas pilihan usaha masyarakat sambil meningkatkan produktivitas lahan yang tersedia, terutama jika dibarengi benih, sarana produksi, dan pendampingan lapangan.

Kakao, Mente, dan Kelapa untuk Puluhan Tahun

Strategi keempat menjadi lapis jangka panjang melalui pengembangan komoditas perkebunan yang dinilai sesuai dengan karakteristik Alor, yakni kakao, jambu mete, dan kelapa.

Menurut Amran, komoditas perkebunan dipilih bukan sekadar untuk panen musiman, melainkan sebagai fondasi pendapatan keluarga petani yang bisa bertahan lintas generasi.

“Jangka panjang adalah ini. Sudah tumbuh. Ini masa depannya Alor. Kakao ini. Ini menteh, ada kakao, ada kelapa,” kata Mentan Amran.

“Ini bisa bertahan untuk menjaga kesejahteraan masyarakat Alor sampai 30 tahun. Tujuan utamanya pengatasan kemiskinan juga,” tegasnya.

Ia menjelaskan kakao membutuhkan waktu lebih panjang untuk mulai berproduksi, tetapi bisa menjadi sumber pendapatan jangka panjang sebagaimana jambu mete yang disebut cocok dengan kondisi wilayah Alor.

“Kalau ini 2,5 tahun berbuah. Mente juga, ini cocok dengan mente. Begitu berbuah, itu bisa panen 40 tahun. Terus mente. Kalau ini 20–30 tahun,” jelas Mentan Amran.

BACA JUGA:  Stok Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton, BULOG Sulselbar Masuk Barisan Terdepan Penopang Nasional

Dengan skema berlapis itu, Kementan menempatkan beras sebagai penopang kebutuhan hari ini, padi sebagai sumber hasil cepat, jagung sebagai pengungkit ekonomi menengah, dan perkebunan sebagai tabungan kesejahteraan jangka panjang.

“Alor ini makmur ke depan,” pungkas Mentan Amran.

Pengembangan jagung diproyeksikan memperluas pilihan usaha masyarakat sambil meningkatkan produktivitas lahan yang tersedia, terutama jika dibarengi benih, sarana produksi, dan pendampingan lapangan.

Kakao, Mente, dan Kelapa untuk Puluhan Tahun

Strategi keempat menjadi lapis jangka panjang melalui pengembangan komoditas perkebunan yang dinilai sesuai dengan karakteristik Alor, yakni kakao, jambu mete, dan kelapa.

Menurut Amran, komoditas perkebunan dipilih bukan sekadar untuk panen musiman, melainkan sebagai fondasi pendapatan keluarga petani yang bisa bertahan lintas generasi.

“Jangka panjang adalah ini. Sudah tumbuh. Ini masa depannya Alor. Kakao ini. Ini menteh, ada kakao, ada kelapa,” kata Mentan Amran.

“Ini bisa bertahan untuk menjaga kesejahteraan masyarakat Alor sampai 30 tahun. Tujuan utamanya pengatasan kemiskinan juga,” tegasnya.

Ia menjelaskan kakao membutuhkan waktu lebih panjang untuk mulai berproduksi, tetapi bisa menjadi sumber pendapatan jangka panjang sebagaimana jambu mete yang disebut cocok dengan kondisi wilayah Alor.

“Kalau ini 2,5 tahun berbuah. Mente juga, ini cocok dengan mente. Begitu berbuah, itu bisa panen 40 tahun. Terus mente. Kalau ini 20–30 tahun,” jelas Mentan Amran.

BACA JUGA:  PSBM XXVI 2026 Siap Digelar di Makassar, Kesiapan Capai 97 Persen dan Hadirkan Tokoh Nasional

Dengan skema berlapis itu, Kementan menempatkan beras sebagai penopang kebutuhan hari ini, padi sebagai sumber hasil cepat, jagung sebagai pengungkit ekonomi menengah, dan perkebunan sebagai tabungan kesejahteraan jangka panjang.

“Alor ini makmur ke depan,” pungkas Mentan Amran.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru