“Kalau krisis ekonomi kita masih bisa bertahan. Tetapi kalau terjadi krisis pangan, dampaknya bisa meluas menjadi krisis sosial dan politik. Karena itu negara harus hadir lebih cepat,” ujarnya.
Amran juga menjawab pertanyaan mahasiswa mengenai tingginya usia petani Indonesia.
Menurut dia, regenerasi petani hanya akan berhasil apabila sektor pertanian mampu memberikan keuntungan yang layak bagi pelakunya.
Ia mengatakan berbagai kebijakan pemerintah diarahkan untuk meningkatkan pendapatan petani melalui penyederhanaan regulasi, peningkatan produktivitas, modernisasi alat dan mesin pertanian, serta perlindungan terhadap petani dari praktik mafia pangan dan mafia pupuk.
Reformasi Pupuk dan Respons Cepat untuk Mahasiswa
Menanggapi pertanyaan mengenai harga pupuk, Amran mengungkapkan pemerintah berhasil melakukan reformasi besar dalam tata kelola pupuk bersubsidi.
“Harga pupuk turun sekitar 20 persen. Ini pertama kali terjadi sejak Republik Indonesia berdiri. Regulasi yang sebelumnya berlapis-lapis kami sederhanakan sehingga distribusi menjadi lebih cepat langsung ke petani,” katanya.
Selain melakukan deregulasi, pemerintah juga menindak tegas praktik penyimpangan distribusi pupuk yang selama ini merugikan petani.
“Kami diperintahkan Bapak Presiden untuk memberantas mafia pupuk dan korupsi. Kasus-kasus yang ditemukan langsung kami serahkan kepada aparat penegak hukum. Petani harus dilindungi,” tegasnya.
Saat seorang mahasiswa asal Rembang mengeluhkan keterbatasan sumber air untuk sawah, Amran langsung memerintahkan jajarannya menyiapkan bantuan pompa air dan melakukan pengecekan lapangan.
Sementara kepada mahasiswa asal Lombok yang menceritakan perjuangan orang tuanya sebagai petani dengan lahan terbatas, ia langsung memerintahkan pemberian bantuan traktor agar produktivitas usaha tani meningkat.
Suasana dialog juga diwarnai pertanyaan mengenai peluang bisnis bagi generasi muda. Amran mendorong mahasiswa berani memanfaatkan perkembangan teknologi dan transformasi industri.

