Bom tersebut dijatuhkan pesawat pengebom B-29 Enola Gay dan meledak sekitar 600 meter di atas kota dengan kekuatan diperkirakan setara 15 kiloton bahan peledak TNT.
Amerika Serikat kemudian menjatuhkan bom plutonium Fat Man ke Nagasaki pada 9 Agustus 1945, sedangkan Jepang mengumumkan penyerahan diri pada 15 Agustus tahun yang sama.
Ledakan, gelombang kejut, radiasi panas, kebakaran, cedera, dan paparan radiasi pengion diperkirakan menewaskan sekitar 140.000 orang di Hiroshima dan 74.000 orang di Nagasaki hingga akhir 1945, dengan mayoritas korban merupakan warga sipil.
Korban yang tidak meninggal seketika menghadapi luka bakar, sindrom radiasi akut, leukemia, kanker, katarak, trauma psikologis, kehilangan keluarga, dan diskriminasi sosial selama puluhan tahun.
Para penyintas yang dikenal sebagai hibakusha kini berjumlah sekitar 91.000 orang dengan usia rata-rata lebih dari 86 tahun, sehingga Jepang menghadapi tantangan besar dalam meneruskan kesaksian langsung kepada generasi mendatang.
Sekitar 50.000 orang menghadiri upacara 2026 bersama perwakilan dari 120 negara menurut catatan AP, meskipun daftar kehadiran yang diumumkan sebelumnya mencakup 127 negara dan wilayah serta Uni Eropa.
Dunia Menyimpan 12.187 Hulu Ledak
Peringatan Hiroshima berlangsung ketika sembilan negara diperkirakan masih menguasai sekitar 12.187 hulu ledak nuklir pada awal 2026, dengan 9.745 unit berada dalam persediaan militer dan sekitar 4.012 telah ditempatkan bersama rudal atau pesawat.
Konferensi Peninjauan NPT 2026 juga gagal menghasilkan dokumen akhir akibat perbedaan kepentingan antarnegara, menjadikannya kegagalan mencapai konsensus untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Meskipun menyerukan penghapusan senjata nuklir, Jepang belum menandatangani atau meratifikasi Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir dan tetap menggantungkan pertahanannya pada payung nuklir Amerika Serikat.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan agar dunia memilih kerja sama daripada konfrontasi dan menjadikan penggunaan senjata nuklir bukan hanya tidak dapat diterima, melainkan juga tidak pernah terpikirkan.
Keengganan menyebut Amerika Serikat memperlihatkan sensitivitas hubungan keamanan Tokyo–Washington, tetapi sejarah tetap mencatat bahwa Hiroshima menjadi kota pertama yang dihancurkan senjata nuklir dalam peperangan.

