Dua J-20 yang terbang mengawal H-6N menggambarkan konsep perlindungan pesawat pengebom oleh pesawat tempur siluman ketika memasuki wilayah yang dipertahankan sistem radar, pesawat tempur, dan pertahanan udara lawan.
Federation of American Scientists menilai JL-1 kemungkinan merupakan sistem yang sebelumnya disebut Departemen Pertahanan Amerika Serikat sebagai CH-AS-X-13, tetapi rincian jangkauan, akurasi, kesiapan operasional, dan konfigurasi hulu ledaknya masih dirahasiakan.
Lembaga tersebut juga mengingatkan bahwa komponen udara triad nuklir China masih berada pada tahap awal karena baru melibatkan kekuatan terbatas yang sedang mengembangkan taktik, prosedur, infrastruktur, dan konsep operasinya.
Parade 2025 Menjadi Titik Awal
JL-1 pertama kali diperlihatkan kepada masyarakat dalam parade militer besar di Beijing pada September 2025 bersama rudal balistik antarbenua DF-31BJ, DF-61, dan DF-5C serta rudal balistik kapal selam JL-3.
Dalam bahasa Mandarin, singkatan JL pada rudal udara tersebut merujuk pada Jinglei yang berarti “guntur yang mengejutkan”, bukan Julang atau “gelombang besar” yang digunakan pada keluarga rudal balistik kapal selam JL-2 dan JL-3.
China Daily pada 3 September 2025 menyebut parade itu sebagai penampilan terbuka pertama triad nuklir China, sedangkan video terbaru memperlihatkan sistem udaranya dalam gambaran operasi terkoordinasi.
Tayangan yang sama turut menampilkan rudal balistik antikapal bergerak DF-21D, rudal antikapal hipersonik YJ-20 berbasis kapal, dan rudal supersonik luncur udara YJ-12 sebagai bagian dari jaringan serangan terhadap sasaran laut.
Kombinasi rudal berbasis darat, laut, dan udara tersebut memperlihatkan arah pembangunan kemampuan anti-access/area denial, yakni strategi untuk menghambat armada lawan mendekati atau beroperasi bebas di kawasan yang dianggap vital oleh China.
Penangkalan Menguat, Perlombaan Senjata Mengintai
Beijing menyatakan kekuatan nuklirnya ditujukan untuk pertahanan, dipertahankan pada tingkat minimum yang diperlukan bagi keamanan nasional, dan tunduk pada kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir sebagai pihak pertama atau no first use.
Pemerintah China kembali menegaskan prinsip tersebut dalam buku putih pengendalian senjata pada 27 November 2025, sekaligus mendorong negara-negara nuklir lain mengadopsi komitmen serupa.
Meskipun demikian, keterbatasan transparansi mengenai jumlah hulu ledak, tingkat kesiagaan, prosedur komando, dan pemisahan antara sistem konvensional dan nuklir tetap menimbulkan kekhawatiran salah penilaian ketika terjadi krisis.
Sejumlah analisis independen memperkirakan China memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir pada 2025 dan sedang memperluas fasilitas silo, kapal selam rudal balistik, sistem peringatan dini, serta sarana peluncuran udara.

