80 Persen Rudal Pencegat Utama AS telah Digunakan dalam Perang dengan Iran

Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine sebelumnya juga memperingatkan bahwa penggunaan amunisi dalam jumlah besar dapat menurunkan kemampuan Amerika menghadapi krisis lain secara bersamaan.

Rudal Serang Jarak Jauh Ikut Menipis

Tekanan tidak hanya terjadi pada sistem pertahanan karena Reuters pada 4 Agustus 2026 melaporkan militer Amerika telah menggunakan hampir seluruh persediaan operasional senjata presisi jarak jauhnya, terutama Army Tactical Missile System (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM).

Hampir separuh persediaan rudal jelajah Tomahawk juga disebut telah digunakan, meningkat tajam dibandingkan laporan CNN pada April 2026 yang memperkirakan penggunaannya masih sekitar 30 persen.

Penyusutan ini menimbulkan persoalan strategis karena Patriot, THAAD, Tomahawk, ATACMS, dan PrSM merupakan bagian penting dari rencana kontingensi Amerika untuk menghadapi konflik dengan China, Rusia, atau Korea Utara.

Ancaman pesawat nirawak murah juga menciptakan ketimpangan biaya karena satu serangan berbiaya rendah dapat memaksa pasukan Amerika menembakkan rudal pencegat canggih yang nilainya mencapai jutaan dolar.

BACA JUGA:  Prabowo Temui Ulama dan Ormas Islam di Istana, Ahmad Muzani: Presiden Membuka Diri Terhadap Masukan

Dalam perang berkepanjangan, keberhasilan pertahanan karena itu tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh perbandingan antara jumlah sasaran, persediaan pencegat, biaya setiap peluncuran, dan kecepatan industri menghasilkan pengganti.

Industri Pertahanan Berpacu Melawan Waktu

Pentagon saat ini dilaporkan hanya menerima sekitar 15 Tomahawk dan 20 Patriot baru setiap bulan, sedangkan CSIS memperkirakan pemulihan persediaan THAAD ke tingkat sebelum perang memerlukan sedikitnya tiga tahun.

Amerika Serikat kemudian menandatangani kesepakatan bernilai lebih dari US$3 miliar dengan Lockheed Martin dan Northrop Grumman untuk memperluas produksi komponen Patriot PAC-3 dan THAAD, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 3 Agustus 2026.

Kesepakatan tersebut ditargetkan melipatgandakan kapasitas produksi Patriot menjadi tiga kali dan THAAD menjadi empat kali, sekaligus menciptakan sumber tambahan bagi pembuatan motor roket berbahan bakar padat PAC-3.

Angkatan Darat Amerika sebelumnya juga memberikan kontrak jangka panjang bernilai maksimal US$58,6 miliar kepada Lockheed Martin untuk memproduksi Patriot PAC-3 MSE hingga tahun fiskal 2032, meskipun realisasinya tetap bergantung pada pembiayaan Kongres.

BACA JUGA:  Iran Ungkap Serangan Udara Israel di Teheran Tewaskan Ali Larijani

Juru Bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan militer Amerika masih memiliki kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan operasi sesuai keputusan presiden, sedangkan Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly menyatakan persediaan amunisi cukup untuk memenuhi tujuan strategis Trump.

Namun, perbedaan antara jaminan resmi pemerintah dan peringatan internal para komandan menunjukkan bahwa perang modern bukan sekadar perlombaan menghancurkan sasaran, melainkan juga ujian daya tahan industri, logistik, ekonomi, diplomasi, dan kemampuan mencegah konflik berubah menjadi siklus serangan balasan tanpa akhir. (Ali)

Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine sebelumnya juga memperingatkan bahwa penggunaan amunisi dalam jumlah besar dapat menurunkan kemampuan Amerika menghadapi krisis lain secara bersamaan.

Rudal Serang Jarak Jauh Ikut Menipis

Tekanan tidak hanya terjadi pada sistem pertahanan karena Reuters pada 4 Agustus 2026 melaporkan militer Amerika telah menggunakan hampir seluruh persediaan operasional senjata presisi jarak jauhnya, terutama Army Tactical Missile System (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM).

Hampir separuh persediaan rudal jelajah Tomahawk juga disebut telah digunakan, meningkat tajam dibandingkan laporan CNN pada April 2026 yang memperkirakan penggunaannya masih sekitar 30 persen.

Penyusutan ini menimbulkan persoalan strategis karena Patriot, THAAD, Tomahawk, ATACMS, dan PrSM merupakan bagian penting dari rencana kontingensi Amerika untuk menghadapi konflik dengan China, Rusia, atau Korea Utara.

Ancaman pesawat nirawak murah juga menciptakan ketimpangan biaya karena satu serangan berbiaya rendah dapat memaksa pasukan Amerika menembakkan rudal pencegat canggih yang nilainya mencapai jutaan dolar.

BACA JUGA:  AS Kirim Negosiator ke Pakistan, Konflik Iran di Selat Hormuz Kian Memanas

Dalam perang berkepanjangan, keberhasilan pertahanan karena itu tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh perbandingan antara jumlah sasaran, persediaan pencegat, biaya setiap peluncuran, dan kecepatan industri menghasilkan pengganti.

Industri Pertahanan Berpacu Melawan Waktu

Pentagon saat ini dilaporkan hanya menerima sekitar 15 Tomahawk dan 20 Patriot baru setiap bulan, sedangkan CSIS memperkirakan pemulihan persediaan THAAD ke tingkat sebelum perang memerlukan sedikitnya tiga tahun.

Amerika Serikat kemudian menandatangani kesepakatan bernilai lebih dari US$3 miliar dengan Lockheed Martin dan Northrop Grumman untuk memperluas produksi komponen Patriot PAC-3 dan THAAD, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 3 Agustus 2026.

Kesepakatan tersebut ditargetkan melipatgandakan kapasitas produksi Patriot menjadi tiga kali dan THAAD menjadi empat kali, sekaligus menciptakan sumber tambahan bagi pembuatan motor roket berbahan bakar padat PAC-3.

Angkatan Darat Amerika sebelumnya juga memberikan kontrak jangka panjang bernilai maksimal US$58,6 miliar kepada Lockheed Martin untuk memproduksi Patriot PAC-3 MSE hingga tahun fiskal 2032, meskipun realisasinya tetap bergantung pada pembiayaan Kongres.

BACA JUGA:  Militer AS Akui Kesulitan Hadapi Armada Drone Iran, Harga Senjata Miliaran Dolar Jadi Tantangan

Juru Bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan militer Amerika masih memiliki kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan operasi sesuai keputusan presiden, sedangkan Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly menyatakan persediaan amunisi cukup untuk memenuhi tujuan strategis Trump.

Namun, perbedaan antara jaminan resmi pemerintah dan peringatan internal para komandan menunjukkan bahwa perang modern bukan sekadar perlombaan menghancurkan sasaran, melainkan juga ujian daya tahan industri, logistik, ekonomi, diplomasi, dan kemampuan mencegah konflik berubah menjadi siklus serangan balasan tanpa akhir. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru