Makassar Ribut Pemilahan Sampah, Ini Sistem di Jepang dan Australia: Ketat dari Rumah, Tetapi Jalurnya Berbeda

Pemerintah lokal lalu menjadi ujung tombak pengangkutan, pemrosesan, dan edukasi, termasuk upaya menekan kontaminasi atau tercampurnya sampah yang salah ke dalam bin tertentu.

Laporan nasional Australia untuk tahun keuangan 2022-23 mencatat sekitar 9,9 juta ton sampah dikumpulkan pemerintah lokal melalui layanan kerbside, termasuk sampah residu, daur ulang kering, dan organik.

Pada periode itu, sekitar 53 persen penduduk tercatat memiliki akses ke layanan organik di tepi jalan. Namun pembaruan resmi DCCEEW yang lebih baru menunjukkan percepatan yang cukup tajam: mayoritas warga Australia kini disebut telah memiliki akses ke layanan pengumpulan organik rumah tangga, dengan angka mencapai 77 persen.

Kenaikan itu penting karena pemerintah Australia menempatkan sisa makanan dan sampah kebun sebagai salah satu titik masalah besar. Dalam penjelasan resminya, DCCEEW menyebut limbah makanan rumah tangga masih mencapai jutaan ton per tahun dan menekan biaya ekonomi sekaligus emisi.

Karena itu, perluasan FOGO dipakai bukan hanya untuk mengurangi sampah ke landfill, tetapi juga untuk mengalihkan material organik menjadi kompos atau pemrosesan lain yang lebih bernilai.

BACA JUGA:  Gempa M 7,1 Guncang Kyushu Jepang, Sejumlah Orang Terluka dan Bangunan Ambruk

Dua Negara, Dua Cara Membentuk Disiplin

Perbedaan paling menonjol dari Jepang dan Australia ada pada cara keduanya membentuk disiplin warga. Jepang menekannya melalui rincian kategori yang lebih ketat, jadwal buang yang spesifik, dan tanggung jawab rumah tangga yang sangat detail.

Australia justru menyederhanakan perilaku warga lewat pembagian bin yang lebih mudah dipahami, lalu memperkuatnya dengan layanan pengangkutan berkala dan ekspansi bin organik.

Meski jalurnya berbeda, keduanya sama-sama menempatkan rumah tangga sebagai titik awal. Sampah tidak lagi diperlakukan sebagai satu aliran campuran yang baru dipilah di hilir, melainkan sebagai material yang harus dipisahkan sejak keluar dari dapur, halaman, dan ruang konsumsi warga.

Di titik inilah Jepang dan Australia kerap dijadikan rujukan ketika kota-kota lain mulai mencari model pengelolaan sampah yang lebih tertib dan lebih ringan bagi tempat pembuangan akhir.

Pemerintah lokal lalu menjadi ujung tombak pengangkutan, pemrosesan, dan edukasi, termasuk upaya menekan kontaminasi atau tercampurnya sampah yang salah ke dalam bin tertentu.

Laporan nasional Australia untuk tahun keuangan 2022-23 mencatat sekitar 9,9 juta ton sampah dikumpulkan pemerintah lokal melalui layanan kerbside, termasuk sampah residu, daur ulang kering, dan organik.

Pada periode itu, sekitar 53 persen penduduk tercatat memiliki akses ke layanan organik di tepi jalan. Namun pembaruan resmi DCCEEW yang lebih baru menunjukkan percepatan yang cukup tajam: mayoritas warga Australia kini disebut telah memiliki akses ke layanan pengumpulan organik rumah tangga, dengan angka mencapai 77 persen.

Kenaikan itu penting karena pemerintah Australia menempatkan sisa makanan dan sampah kebun sebagai salah satu titik masalah besar. Dalam penjelasan resminya, DCCEEW menyebut limbah makanan rumah tangga masih mencapai jutaan ton per tahun dan menekan biaya ekonomi sekaligus emisi.

Karena itu, perluasan FOGO dipakai bukan hanya untuk mengurangi sampah ke landfill, tetapi juga untuk mengalihkan material organik menjadi kompos atau pemrosesan lain yang lebih bernilai.

BACA JUGA:  Bone Berprestasi! Usai Raih Adipura, Pemkab Diganjar Insentif Rp50 Juta dari Pemprov Sulsel

Dua Negara, Dua Cara Membentuk Disiplin

Perbedaan paling menonjol dari Jepang dan Australia ada pada cara keduanya membentuk disiplin warga. Jepang menekannya melalui rincian kategori yang lebih ketat, jadwal buang yang spesifik, dan tanggung jawab rumah tangga yang sangat detail.

Australia justru menyederhanakan perilaku warga lewat pembagian bin yang lebih mudah dipahami, lalu memperkuatnya dengan layanan pengangkutan berkala dan ekspansi bin organik.

Meski jalurnya berbeda, keduanya sama-sama menempatkan rumah tangga sebagai titik awal. Sampah tidak lagi diperlakukan sebagai satu aliran campuran yang baru dipilah di hilir, melainkan sebagai material yang harus dipisahkan sejak keluar dari dapur, halaman, dan ruang konsumsi warga.

Di titik inilah Jepang dan Australia kerap dijadikan rujukan ketika kota-kota lain mulai mencari model pengelolaan sampah yang lebih tertib dan lebih ringan bagi tempat pembuangan akhir.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru