SulawesiPos.com – Dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi menuju China dan India terpaksa berbalik arah di Laut Merah pada Selasa (21/7/2026) setelah kelompok Houthi Yaman mengeluarkan peringatan dan mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi, sehingga kapal-kapal tersebut memilih berlayar menuju Terusan Suez daripada melintasi kawasan Bab el-Mandeb di dekat pesisir Yaman. Peristiwa ini berpotensi memicu gangguan baru terhadap rantai pasok energi global yang sebelumnya telah terguncang akibat penutupan Selat Hormuz selama konflik kawasan.
Kapal tanker Xin Long Yang yang membawa sekitar dua juta barel minyak mentah dari Pelabuhan Yanbu untuk tujuan China tercatat membalik arah dan menuju Terusan Suez berdasarkan data pelacakan pelayaran.
Kapal tanker Rodos yang mengangkut sekitar 700 ribu barel minyak mentah Arab Saudi menuju India juga melakukan manuver serupa pada hari yang sama.
Perubahan rute kedua kapal tersebut memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran perusahaan pelayaran terhadap ancaman keamanan di jalur Laut Merah setelah eskalasi konflik regional.
Pada Senin (20/7/2026), Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi dan memperingatkan seluruh perusahaan pelayaran agar tidak melakukan aktivitas bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan Saudi.
Kelompok tersebut menegaskan kapal yang memuat atau membongkar barang di pelabuhan Arab Saudi dapat menjadi sasaran serangan di lokasi mana pun.
Bab el-Mandeb Kini Menjadi Titik Tekanan Baru Energi Dunia
Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk pesisir yang menghadap Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Sejak Selat Hormuz tidak dapat dilalui akibat konflik bersenjata di kawasan Teluk Persia, Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah menjadi jalur utama alternatif ekspor minyak Arab Saudi menuju pasar internasional.
Pelabuhan tersebut selama ini memungkinkan pengiriman jutaan barel minyak setiap hari tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Perubahan situasi keamanan di Bab el-Mandeb kini mengancam jalur alternatif tersebut sehingga meningkatkan risiko terhadap pasokan energi dunia.
Sumber industri asuransi maritim menyatakan premi asuransi risiko perang untuk kapal yang menuju pelabuhan Arab Saudi mulai meningkat dalam 24 jam terakhir.
Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, menyarankan kapal-kapal yang hendak singgah di pelabuhan Arab Saudi untuk mempertimbangkan kembali pelayaran melalui Laut Merah serta menerapkan langkah mitigasi keamanan tambahan.
Ambrey menilai kapal yang terkait dengan pelabuhan Arab Saudi kini berada pada tingkat risiko tinggi.
Kapal tanker New Prime yang dijadwalkan memuat minyak di Yanbu pada pekan ini juga dilaporkan berbalik arah di dekat Oman sebelum memasuki Laut Merah.
Sementara itu, beberapa kapal tanker lain yang telah berada di Laut Merah atau memasuki kawasan melalui Terusan Suez masih tetap melanjutkan pelayaran menuju Yanbu.
Data pelacakan menunjukkan kapal tanker Olympic Luck termasuk di antara kapal yang masih menuju pelabuhan tersebut.
Rantai Pasok Energi Global Terancam Semakin Terguncang
Apabila kapal tanker dipaksa menggunakan jalur Terusan Suez dan menghindari Bab el-Mandeb, waktu pengiriman minyak menuju pelanggan di Asia dapat bertambah hingga beberapa pekan.
Kondisi tersebut mengharuskan kapal berlayar melalui Laut Tengah sebelum mengitari Benua Afrika untuk mencapai tujuan akhir.
Perusahaan pialang pelayaran Clarksons menilai penerapan blokade laut secara penuh membutuhkan sumber daya militer yang besar sehingga peluangnya masih terbatas.
Meski demikian, Clarksons mengingatkan peningkatan intensitas konflik dapat mendorong Houthi menargetkan kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi ketika melintasi Bab el-Mandeb.
Dalam kondisi normal, sekitar sepuluh kapal tanker minyak mentah melintasi selat tersebut setiap hari sehingga setiap gangguan akan segera memengaruhi perdagangan energi internasional.
Clarksons memperkirakan apabila ancaman keamanan terus meningkat, sebagian ekspor minyak dari Yanbu akan dialihkan ke pasar Eropa sebagai langkah penyesuaian logistik.
Kapal tanker jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) yang bermuatan penuh juga tidak dapat melewati Terusan Suez secara langsung sehingga sebagian muatannya harus dipindahkan melalui jaringan pipa SUMED menuju Laut Tengah sebelum kembali dimuat ke kapal.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa tekanan geopolitik di Asia Barat tidak lagi terbatas pada Selat Hormuz, melainkan telah meluas ke Laut Merah dan Bab el-Mandeb, dua jalur strategis yang bersama-sama menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Para analis menilai stabilitas kedua jalur tersebut sangat menentukan ketahanan pasokan minyak dunia, biaya logistik internasional, serta laju inflasi energi yang berdampak langsung terhadap perekonomian banyak negara. (Ali)


