Menkes Jawab Kekhawatiran Penularan TBC lewat Ompreng MBG, Tekankan Risiko Utama Ada di Droplet

SulawesiPos.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjawab kekhawatiran soal potensi penularan tuberkulosis atau TBC lewat ompreng dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyusul usulannya agar pasien TBC masuk sebagai penerima manfaat. Menurut Budi, dukungan gizi penting diberikan kepada pasien TBC untuk memperkuat kondisi fisik dan mempercepat pemulihan selama masa pengobatan.

Usulan itu sebelumnya menuai sorotan dari kalangan DPR, salah satunya terkait kemungkinan risiko penularan melalui wadah makan yang dipakai bergantian dalam distribusi MBG. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris mempertanyakan efektivitas skema tersebut sekaligus menyoroti aspek distribusi dan higienitas di lapangan.

Menjawab kritik itu, Budi menekankan bahwa kebutuhan utama pasien TBC adalah penguatan asupan gizi selama masa terapi yang dapat berlangsung enam hingga 12 bulan. Menurut dia, pasien TBC umumnya mengalami kondisi fisik yang lemah sehingga intervensi gizi dinilai dapat membantu keberhasilan pengobatan.

Dilansir dari Detikcom, Budi menyebut usulan memasukkan pasien TBC ke dalam penerima MBG didasarkan pada hasil riset internasional dan praktik di sejumlah negara lain. Ia mengatakan tambahan asupan gizi dapat memperkuat kondisi tubuh pasien dan membantu mempercepat pemulihan.

BACA JUGA:  Pengacara Klaim Sony Sonjaya Setor 26 Nama Terkait Dugaan Korupsi Program MBG di Eksekutif-Yudikatif

“Dari hasil penelitian jurnal-jurnal internasional dan sudah diterapkan juga di India dan China, orang yang penderita TBC diobati kan selama enam bulan sampai 12 bulan itu daya tahan kondisi fisiknya itu lemah. Sehingga kalau dia bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup atau sedikit lebih, itu akan memperkuat dan mempercepat pemulihannya ya,” kata Budi di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Budi juga menegaskan bahwa TBC masih menjadi penyakit menular yang mematikan di Indonesia. Ia menyebut angka kematian akibat TBC masih tinggi sehingga pemerintah perlu memperkuat intervensi dari sisi pengobatan maupun pemenuhan gizi.

Sementara itu, penjelasan Kementerian Kesehatan dalam berbagai materi edukasi resminya menyebut penularan TBC umumnya terjadi melalui udara, terutama saat penderita TBC aktif batuk atau bersin dan mengeluarkan percikan dahak. Penularan itu terutama terjadi di ruang tertutup dengan ventilasi buruk dan paparan kontak erat yang berlangsung terus-menerus.

Dengan penjelasan tersebut, kekhawatiran soal penularan lewat ompreng ditempatkan dalam konteks bahwa risiko utama TBC berasal dari droplet, bukan semata dari wadah makanan. Meski begitu, aspek higienitas dan tata kelola distribusi makanan tetap menjadi perhatian dalam pelaksanaan program MBG.

BACA JUGA:  BGN Coret 76 Sekolah Mampu di Pulau Jawa dari Daftar Prioritas Penerima MBG

Sebelumnya, Charles Honoris mengingatkan bahwa penggunaan ompreng yang berputar di program MBG berpotensi menimbulkan persoalan baru bila tidak dikelola secara ketat. Ia juga menilai penyaluran bantuan gizi bagi pasien TBC bisa dipertimbangkan melalui fasilitas kesehatan seperti puskesmas agar lebih tepat sasaran.

Perdebatan itu menunjukkan usulan memasukkan pasien TBC ke dalam skema MBG masih membutuhkan pembahasan lanjutan, baik dari sisi teknis distribusi maupun pengawasan. Namun dari sisi kesehatan, pemerintah menilai dukungan gizi tetap menjadi bagian penting dalam upaya menekan angka kematian akibat TBC di Indonesia.

SulawesiPos.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjawab kekhawatiran soal potensi penularan tuberkulosis atau TBC lewat ompreng dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyusul usulannya agar pasien TBC masuk sebagai penerima manfaat. Menurut Budi, dukungan gizi penting diberikan kepada pasien TBC untuk memperkuat kondisi fisik dan mempercepat pemulihan selama masa pengobatan.

Usulan itu sebelumnya menuai sorotan dari kalangan DPR, salah satunya terkait kemungkinan risiko penularan melalui wadah makan yang dipakai bergantian dalam distribusi MBG. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris mempertanyakan efektivitas skema tersebut sekaligus menyoroti aspek distribusi dan higienitas di lapangan.

Menjawab kritik itu, Budi menekankan bahwa kebutuhan utama pasien TBC adalah penguatan asupan gizi selama masa terapi yang dapat berlangsung enam hingga 12 bulan. Menurut dia, pasien TBC umumnya mengalami kondisi fisik yang lemah sehingga intervensi gizi dinilai dapat membantu keberhasilan pengobatan.

Dilansir dari Detikcom, Budi menyebut usulan memasukkan pasien TBC ke dalam penerima MBG didasarkan pada hasil riset internasional dan praktik di sejumlah negara lain. Ia mengatakan tambahan asupan gizi dapat memperkuat kondisi tubuh pasien dan membantu mempercepat pemulihan.

BACA JUGA:  MBG Serap Hasil Pertanian, Wamentan Sudaryono: Dulu Wortel dan Tomat Banyak Terbuang

“Dari hasil penelitian jurnal-jurnal internasional dan sudah diterapkan juga di India dan China, orang yang penderita TBC diobati kan selama enam bulan sampai 12 bulan itu daya tahan kondisi fisiknya itu lemah. Sehingga kalau dia bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup atau sedikit lebih, itu akan memperkuat dan mempercepat pemulihannya ya,” kata Budi di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Budi juga menegaskan bahwa TBC masih menjadi penyakit menular yang mematikan di Indonesia. Ia menyebut angka kematian akibat TBC masih tinggi sehingga pemerintah perlu memperkuat intervensi dari sisi pengobatan maupun pemenuhan gizi.

Sementara itu, penjelasan Kementerian Kesehatan dalam berbagai materi edukasi resminya menyebut penularan TBC umumnya terjadi melalui udara, terutama saat penderita TBC aktif batuk atau bersin dan mengeluarkan percikan dahak. Penularan itu terutama terjadi di ruang tertutup dengan ventilasi buruk dan paparan kontak erat yang berlangsung terus-menerus.

Dengan penjelasan tersebut, kekhawatiran soal penularan lewat ompreng ditempatkan dalam konteks bahwa risiko utama TBC berasal dari droplet, bukan semata dari wadah makanan. Meski begitu, aspek higienitas dan tata kelola distribusi makanan tetap menjadi perhatian dalam pelaksanaan program MBG.

BACA JUGA:  Pengacara Klaim Sony Sonjaya Setor 26 Nama Terkait Dugaan Korupsi Program MBG di Eksekutif-Yudikatif

Sebelumnya, Charles Honoris mengingatkan bahwa penggunaan ompreng yang berputar di program MBG berpotensi menimbulkan persoalan baru bila tidak dikelola secara ketat. Ia juga menilai penyaluran bantuan gizi bagi pasien TBC bisa dipertimbangkan melalui fasilitas kesehatan seperti puskesmas agar lebih tepat sasaran.

Perdebatan itu menunjukkan usulan memasukkan pasien TBC ke dalam skema MBG masih membutuhkan pembahasan lanjutan, baik dari sisi teknis distribusi maupun pengawasan. Namun dari sisi kesehatan, pemerintah menilai dukungan gizi tetap menjadi bagian penting dalam upaya menekan angka kematian akibat TBC di Indonesia.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru