SulawesiPos.com – Menteri Pertanian RI, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., menyinggung soal pihak-pihak yang mengkritik capaian swasembada pangan Indonesia.
Dalam kuliah umum di Universitas Negeri Makassar (UNM), Amran bahkan mempertanyakan apakah pihak yang mendorong impor di tengah capaian swasembada dapat disebut sebagai “antek asing”.
Pernyataan itu disampaikan dalam Kuliah Umum bertajuk Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Mendukung Swasembada Pangan Nasional yang Berkelanjutan di Ballroom Theater Lantai 2 Menara Pinisi UNM, Rabu (3/6/2026).
Di hadapan mahasiswa dan sivitas akademika UNM, Amran mengajak peserta diskusi untuk mengkritisi kebijakan pemerintah secara rasional dan berbasis data.
“Aku ingin tunjukkan arah kebijakan Bapak Presiden, silakan nanti kritisi, silakan nanti menjawab, tidak ada batasan, jangan pakai perasaan, pakai rasio kita berdiskusi,” ujarnya.
Amran kemudian menanggapi kritik yang belakangan muncul terkait klaim swasembada pangan nasional. Menurutnya, kritik merupakan hal yang wajar selama tidak disertai fitnah atau kepentingan tertentu.
“Kemarin dikritik swasembada, ada kritik pengamat ‘sini pengamat kita ke lapangan’ aku ditelepon teman ‘Pak Menteri kok diajak?’ Oh iya yang mengkritik adalah saudara kita, itu top, tapi jangan sebar fitnah karena kamu tersakiti atau kalah dalam pertarungan nggak boleh dong,” kata Amran.
Ia menegaskan bahwa penilaian mengenai capaian swasembada pangan Indonesia bukan berasal dari dirinya pribadi, melainkan lembaga internasional yang memiliki kredibilitas di bidang pangan.
“Akhirnya kami datang, yang mengatakan swasembada bukan saya, adalah FAO, dunia. Dan putra terbaik pertanian dunia ada di FAO. Indonesia lompatannya nomor 2 terbaik dunia hanya dalam waktu satu tahun. Bukan saya yang bilang,” ujarnya.
FAO dan BPS Sebut Produksi Beras Indonesia Meningkat
Amran menjelaskan, berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), produksi beras Indonesia mencapai 35,6 juta ton. Sementara data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mencatat produksi sebesar 34,6 juta ton.
Menurutnya, selisih data kedua lembaga tersebut relatif kecil dan sama-sama menunjukkan peningkatan signifikan produksi pangan nasional.
Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat produksi beras Indonesia mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 4,07 juta ton dibanding tahun sebelumnya.
Ia menyebut capaian swasembada pangan tersebut diraih hanya dalam waktu satu tahun, lebih cepat dari target awal yang diproyeksikan selama empat tahun.
“Baru tiba-tiba ada yang mengamat, bukan bidangnya lagi, muncul, itu salah,” ujarnya.
Amran juga memaparkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) tahun 2026 mencapai 127,73 atau menjadi yang tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
“Bayangkan murid saja mampu menggetarkan dunia dengan produksi pangannya, apalagi guru,” katanya.
Selain itu, stok beras nasional per Juni 2026 disebut telah mencapai 5,36 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

