SulawesiPos.com – Kebijakan pemerintah menerapkan work from home (WFH) setiap hari Jumat mulai 1 April 2026 dinilai sebagai langkah strategis dalam menahan lonjakan harga energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Padjadjaran, Bonti Wiradinata, menyebut kebijakan ini sebagai pendekatan manajemen permintaan energi yang lebih aman dibandingkan menaikkan harga BBM.
“Kebijakan WFH Nasional setiap Jumat merupakan langkah strategis. Pemerintah terlihat memilih jalur manajemen permintaan daripada menaikkan harga subsidi yang berisiko memicu inflasi dan gejolak politik,” ujarnya, dikutip dari JawaPos, Sabtu (3/4/2026).
Bonti menjelaskan, kebijakan ini berpotensi menurunkan konsumsi energi secara signifikan, terutama dari operasional gedung perkantoran dan mobilitas harian.
Ia memperkirakan beban listrik di gedung-gedung perkantoran di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan dapat berkurang hingga 15–20 persen.
Selain itu, sektor transportasi yang menyumbang sekitar 46 persen konsumsi energi nasional juga berpotensi ditekan, seiring berkurangnya mobilitas pekerja.
“Penghematan terjadi pada dua titik utama, yaitu operasional gedung dan konsumsi bahan bakar kendaraan,” jelasnya.
Dari sisi produktivitas, kebijakan WFH satu hari dalam sepekan dinilai tidak akan berdampak signifikan terhadap kinerja organisasi.
Menurut Bonti, dengan dukungan infrastruktur digital yang memadai, sistem kerja hybrid justru dapat meningkatkan efisiensi.
“Kuncinya bukan pada lokasi kerja, melainkan pada infrastruktur digital sebagai backbone manajemen birokrasi,” katanya.
Rasional di Tengah Krisis Energi
Pandangan serupa disampaikan pakar kebijakan publik dari Universitas Katolik Parahyangan, Kristian Widya Wicaksono.
Ia menilai kebijakan WFH sebagai langkah rasional dalam menekan konsumsi energi tanpa menambah beban fiskal negara.
“Kebijakan ini merupakan bentuk intervensi di sisi permintaan untuk menekan konsumsi energi tanpa harus menaikkan harga BBM atau subsidi,” ujarnya.
Efek Penghematan Tidak Sepenuhnya Linier
Meski demikian, Kristian mengingatkan bahwa dampak penghematan energi tidak sepenuhnya linier.
Pengurangan konsumsi BBM di sektor transportasi bisa diimbangi dengan peningkatan konsumsi energi di rumah tangga selama WFH.
Namun secara keseluruhan, kebijakan ini tetap dinilai sebagai langkah positif dalam menghadapi tekanan krisis energi global.

