Sikap AS Dinilai Inkonsisten, Kemarin Ingin Damai Sekarang Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran

SulawesiPos.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai berubah arah.

Dalam pidato primetime pada Rabu (1/4/2026) malam, Trump menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran tidak hanya berlanjut, tetapi juga akan ditingkatkan dalam waktu dekat.

“Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan; kami akan membawa mereka kembali ke zaman batu,” ujarnya, dikutip dari JawaPos, Kamis (2/4/2026).

Pernyataan ini langsung menuai sorotan karena bertolak belakang dengan narasi sebelumnya yang menyebut konflik akan segera mereda dan tidak bertujuan mengganti rezim di Iran.

Trump secara terbuka menyebut fasilitas energi Iran sebagai target berikutnya jika tidak tercapai kesepakatan damai.

“Jika tidak ada kesepakatan, kami akan menyerang setiap pembangkit listrik mereka secara bersamaan,” katanya.

Langkah ini dinilai sejumlah pakar berpotensi melanggar hukum internasional, karena menyasar infrastruktur sipil vital yang berdampak langsung pada masyarakat.

BACA JUGA: 
32 WNI yang Dievakuasi dari Iran Tiba di Indonesia Hari Ini

Meski demikian, Trump tetap menyatakan bahwa tujuan utama Amerika Serikat bukan perubahan rezim, meskipun ia mengklaim perubahan tersebut “secara efektif sudah terjadi”.

Di sisi lain, Masoud Pezeshkian membantah adanya negosiasi aktif dengan Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya, ia memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur vital Iran akan berdampak luas.

“Menyerang infrastruktur vital Iran berarti menyerang rakyatnya. Ini bukan hanya kejahatan perang, tapi juga akan memperluas instabilitas global,” tegasnya

Dampak Global Kian Terasa

Konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan kini memasuki fase krusial, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan energi dunia.

Dampaknya mulai terasa secara global, termasuk di Amerika Serikat, di mana harga bahan bakar telah melampaui USD 4 per galon, level tertinggi sejak 2022.

Meski demikian, Trump tetap optimistis situasi akan segera membaik.

“Begitu konflik selesai, Selat Hormuz akan terbuka secara alami. Harga gas akan turun, dan pasar saham akan kembali naik,” ujarnya.

BACA JUGA: 
Airlangga Terkejut Tarif Global 10 Persen dari Trump, RI Tunggu Pengumuman Lanjutan dari Gedung Putih

Ketidakpastian dan Risiko Perluasan Konflik

Trump tidak menyinggung secara rinci kemungkinan pengerahan pasukan darat, termasuk opsi strategis seperti penguasaan Pulau Kharg atau pengamanan fasilitas nuklir Iran.

Namun, laporan menyebut opsi tersebut masih menjadi bagian dari perhitungan militer Amerika Serikat.

Di akhir pidatonya, Trump menegaskan ambisi besar negaranya dalam konflik ini.

“Kami berada di ambang mengakhiri ancaman Iran terhadap dunia,” katanya.

Namun, perubahan sikap yang cepat, dari membuka peluang damai menjadi ancaman serangan besar, dinilai sejumlah pengamat justru memperbesar ketidakpastian dan berpotensi memperpanjang konflik dengan dampak global yang lebih luas.

SulawesiPos.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai berubah arah.

Dalam pidato primetime pada Rabu (1/4/2026) malam, Trump menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran tidak hanya berlanjut, tetapi juga akan ditingkatkan dalam waktu dekat.

“Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan; kami akan membawa mereka kembali ke zaman batu,” ujarnya, dikutip dari JawaPos, Kamis (2/4/2026).

Pernyataan ini langsung menuai sorotan karena bertolak belakang dengan narasi sebelumnya yang menyebut konflik akan segera mereda dan tidak bertujuan mengganti rezim di Iran.

Trump secara terbuka menyebut fasilitas energi Iran sebagai target berikutnya jika tidak tercapai kesepakatan damai.

“Jika tidak ada kesepakatan, kami akan menyerang setiap pembangkit listrik mereka secara bersamaan,” katanya.

Langkah ini dinilai sejumlah pakar berpotensi melanggar hukum internasional, karena menyasar infrastruktur sipil vital yang berdampak langsung pada masyarakat.

BACA JUGA: 
WFH Jadi Senjata Hemat Energi, Pemerintah Bidik BBM Turun 20 Persen

Meski demikian, Trump tetap menyatakan bahwa tujuan utama Amerika Serikat bukan perubahan rezim, meskipun ia mengklaim perubahan tersebut “secara efektif sudah terjadi”.

Di sisi lain, Masoud Pezeshkian membantah adanya negosiasi aktif dengan Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya, ia memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur vital Iran akan berdampak luas.

“Menyerang infrastruktur vital Iran berarti menyerang rakyatnya. Ini bukan hanya kejahatan perang, tapi juga akan memperluas instabilitas global,” tegasnya

Dampak Global Kian Terasa

Konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan kini memasuki fase krusial, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan energi dunia.

Dampaknya mulai terasa secara global, termasuk di Amerika Serikat, di mana harga bahan bakar telah melampaui USD 4 per galon, level tertinggi sejak 2022.

Meski demikian, Trump tetap optimistis situasi akan segera membaik.

“Begitu konflik selesai, Selat Hormuz akan terbuka secara alami. Harga gas akan turun, dan pasar saham akan kembali naik,” ujarnya.

BACA JUGA: 
32 WNI yang Dievakuasi dari Iran Tiba di Indonesia Hari Ini

Ketidakpastian dan Risiko Perluasan Konflik

Trump tidak menyinggung secara rinci kemungkinan pengerahan pasukan darat, termasuk opsi strategis seperti penguasaan Pulau Kharg atau pengamanan fasilitas nuklir Iran.

Namun, laporan menyebut opsi tersebut masih menjadi bagian dari perhitungan militer Amerika Serikat.

Di akhir pidatonya, Trump menegaskan ambisi besar negaranya dalam konflik ini.

“Kami berada di ambang mengakhiri ancaman Iran terhadap dunia,” katanya.

Namun, perubahan sikap yang cepat, dari membuka peluang damai menjadi ancaman serangan besar, dinilai sejumlah pengamat justru memperbesar ketidakpastian dan berpotensi memperpanjang konflik dengan dampak global yang lebih luas.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru