Oleh: Mustamin Raga
Penulis Buku “Suara Dari Pelukan Kabut”
SulawesiPos.com – Daeng Lewa tidak pernah bercita-cita menjadi pengambil sampah. Ia lahir di Parangloe — sebuah kampung yang bukan hanya subur, tapi juga kaya raya. Di sanalah Bendungan Bili-Bili berdiri megah, menjadi penentu hidup dan mati bagi ribuan hektar sawah di Gowa, Takalar, dan Makassar. Di sanalah Sungai Jenebarang mengalir deras membawa rezeki: pasir, batu kali, chipping, dan sirtu yang menjadi bahan utama pembangunan kota. Tanah yang mestinya menumbuhkan kemakmuran, justru menumbuhkan ironi bagi anak-anaknya sendiri.
Kini sudah dua puluh tahun Dg Lewa bekerja sebagai petugas kebersihan di Kompleks Gerhana Alauddin. Dua puluh tahun sejak kompleks itu baru dihuni beberapa rumah hingga kini menjadi pemukiman padat yang ramai dan mapan.
Ia bekerja tanpa banyak bicara, dengan gaji pas-pasan yang bahkan lebih sering kurang daripada cukup. Tapi setiap pagi, sebelum matahari naik, Dg Lewa sudah berkeliling dari rumah ke rumah, menjemput sampah rumah tangga. Ia mengangkat, menata, dan membawa semua sisa kehidupan itu dengan tangan sendiri.
Dulu, ia menarik gerobak kayu kecil yang dipenuhi bau busuk dan debu jalan. Jarak dari kompleks ke tempat pembuangan sementara cukup jauh, tapi ia jalani tanpa keluh. Hanya sesekali berhenti untuk mengatur napas, lalu kembali menarik gerobaknya seperti menarik nasibnya sendiri: berat, tapi tak boleh berhenti.
Baru sepuluh tahun terakhir, warga kompleks berinisiatif membelikan motor sampah untuknya — agar pekerjaannya lebih ringan. Motor itu memang mempermudah gerak, tapi tak mampu meringankan beban hidup yang kian berat. Mesin boleh membantu, tapi nasib tetap ia pikul sendiri.
Di antara warga kompleks, ada yang sudah sangat mengenal Dg Lewa. Mereka tahu latar belakangnya, tahu ia berasal dari Parangloe, kampung di kaki gunung tempat Bendungan Bili-Bili berdiri. Mereka tahu istrinya pernah sakit lama, tahu anaknya gagal sekolah karena biaya, tahu betapa kerasnya hidup yang dijalani Dg Lewa dengan tubuh yang semakin renta. Dari merekalah kadang datang kepedulian kecil: sekarung beras, sedikit uang saat Dg Lewa sakit, atau sekedar perhatian tulus yang menghangatkan hatinya. Jumlah mereka tak banyak — hanya segelintir yang masih menyisakan ruang empati di tengah tembok kesibukan kota.
Namun, ada pula warga yang sekedar tahu bahwa Dg Lewa adalah petugas pengambil sampah. Tak lebih. Mereka meletakkan kantong sampah di depan pagar tanpa perlu menatap wajahnya, tanpa perlu mengucap salam. Dg Lewa bagi mereka hanyalah bagian dari sistem layanan kebersihan, bukan manusia yang punya cerita. Dan bahkan lebih ironis lagi, ada penghuni yang sama sekali tak mengenalnya — tak tahu siapa nama lelaki yang setiap pagi menjaga halaman rumah mereka tetap bersih, seolah kebersihan itu datang begitu saja, bukan dari keringat seseorang yang diam-diam berjuang untuk hidup.
Dg Lewa tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya mengerti bahwa begitulah kehidupan di kota: semakin bersih lingkungannya, semakin jauh jarak antarhati manusianya. Di kota, orang bisa tahu jadwal pengangkutan sampah lebih pasti daripada nama petugas yang mengangkutnya.
Namun ironi sejati tidak terletak di jalan-jalan dan rumah kompleks yang ia bersihkan. Ironi sejati berdiam di kampungnya sendiri — Parangloe, tanah kaya yang tak mampu menghidupi anaknya. Kampung yang menjadi tumpuan bendungan terbesar di Sulawesi Selatan, tapi justru menyaksikan anak-anak mudanya pergi jauh mencari penghidupan.
Kampung yang memasok pasir dan batu bagi gedung-gedung tinggi Makassar, tapi rumah-rumah di tepinya tetap sederhana, dan warganya tetap bergelut dengan keterbatasan.
Dg Lewa tahu benar bagaimana Sungai Jenebarang mengantarkan kekayaan alam yang tiada habisnya. Setiap truk pengangkut pasir, setiap alat berat yang menggerus tebing, adalah saksi bahwa kampungnya memberi banyak tapi menerima sedikit. Para pemodal dari luar datang membawa izin, alat, dan janji kesejahteraan. Tapi pada akhirnya, yang mereka ambil hanyalah keuntungan, sementara yang tersisa bagi warga hanyalah debu, kebisingan, dan air sungai yang makin keruh.
Ia pernah bertanya pada dirinya sendiri: Mengapa aku harus meninggalkan tanah yang kaya untuk bekerja di kota dengan gaji tak seberapa?
Tapi ia tak menemukan jawaban, selain bahwa di kampungnya, kekayaan bukan milik mereka yang lahir di sana. Kekayaan sudah punya tuan, sudah ada sistem yang rapi mengatur siapa yang berhak menikmati hasil bumi, dan siapa yang hanya boleh menatap dari jauh.
Inilah wajah kecil dari sistem kapitalisme lokal skala kecil yang rakus tapi canggih dalam menyembunyikan ketidakadilan. Para pemodal hidup dari hasil bumi Parangloe, sementara Dg Lewa — anak kampungnya sendiri — menjemput sampah di kota yang dibangun dari batu dan pasir tanah kelahirannya.
Betapa getir nasib yang harus ia telan. Ketika batu dari Parangloe menjadi pondasi rumah mewah, sementara ia hanya menjadi pengambil sampah di halaman rumah itu. Ketika air dari Bendungan Bili-Bili mengalir jernih ke kolam renang orang kota, tapi di gubuk yang ia tinggali air jauh dari jangkauannya. Ketika material dari Sungai Jenebarang membangun tembok kemakmuran, tapi dirinya justru menjadi simbol keterpinggiran.
Ia mungkin tidak mengenal istilah “ketimpangan struktural”, tapi ia memahami rasanya menjadi korban dari sistem yang tak adil. Ia tahu betul makna kehilangan. Ia tahu rasanya menjadi buruh yang bekerja di atas hasil jerih leluhurnya sendiri, tapi tak diizinkan menikmatinya. Ia tak punya tanah, tak punya akses, tak punya suara. Ia hanya punya tenaga, dan tenaga itulah yang ia jual setiap hari agar dapurnya tetap berasap di kampung.
Kadang, saat motor sampahnya berhenti di ujung kompleks, Dg Lewa duduk sebentar melepas lelah. Ia menatap daun-daun kering yang beterbangan, mungkin mengingatkan pada hari-hari di Parangloe: aroma sungai, suara batu digerus air, dan bayangan gunung yang dulu hijau kini berdebu. Ada rindu yang tak pernah padam, tapi ia tahu ia tak bisa kembali seenaknya. Dan lagian Kampungnya kini bukan lagi kampung yang ia kenal dahulu. Gunungnya terbelah, sungainya surut, dan sawahnya berubah menjadi tambang terbuka. Ia tahu, yang tersisa hanyalah nama dan kenangan.
Dg Lewa memilih tetap bekerja di kota, bukan karena kota lebih baik, tapi karena kampung sudah kehilangan makna. Ia memilih menjemput sampah, karena di situlah ia masih bisa merasa berguna. Setiap karung yang ia angkat adalah bentuk tanggung jawab, setiap tetes keringatnya adalah pengingat bahwa martabat tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan, tapi oleh kejujuran dalam menjalaninya.
Dan mungkin, justru di situlah letak kemuliaan Dg Lewa. Ia tak kaya, tapi ia tak mencuri. Ia tak berpendidikan tinggi, tapi ia memahami keadilan lebih dalam dari banyak sarjana. Ia tak berpidato, tapi hidupnya sendiri adalah pernyataan keras tentang ketimpangan sosial yang terus dibiarkan. Ia adalah saksi hidup dari bagaimana kekayaan bisa berubah menjadi kutukan bila dikuasai oleh segelintir orang saja.
Maka setiap kali kita melihat motor sampah melintas di pagi hari, mungkin ada baiknya kita ingat Dg Lewa — bukan sekedar sebagai pengambil sampah, tapi sebagai pengingat tentang ironi negeri yang terbalik: di mana yang miskin membersihkan sisa kekayaan yang dulu berasal dari tanahnya sendiri.
Dg Lewa adalah kisah tentang Parangloe — tanah kaya yang tak mampu menyejahterakan anaknya. Tentang sungai yang memberi kehidupan bagi kota, tapi membiarkan kampungnya sendiri merana. Tentang negeri yang sibuk menghitung volume tambang dan debit air, tapi lupa menghitung manusia.
Dan di antara semua itu, Dg Lewa tetap bekerja. Menjemput sampah setiap pagi, membersihkan sisa kehidupan kompleks yang dibangun dari batu, pasir, dan air tanah kelahirannya sendiri — Parangloe, yang indah namun pahit.*

