Profesor Jiang Xueqin: Perang Iran Akan Menjadi Titik Balik Kekalahan Amerika

SulawesiPos.com – Sebuah pernyataan tajam mengguncang ruang diskusi geopolitik global ketika Jiang Xueqin dalam wawancara di kanal YouTube Breaking Points pada 3 Maret 2026 menyatakan dengan tegas bahwa Amerika Serikat akan kalah dalam perang melawan Iran dan kekalahan itu akan mengubah tatanan dunia secara permanen.

Wawancara yang dipandu oleh jurnalis independen Amerika Serikat, yang menjadi host kanal tersebut, mengangkat kembali tiga prediksi besar Jiang yang ia sampaikan sejak 2024, yakni Donald Trump akan memenangkan pemilu, Amerika akan berperang dengan Iran, dan Amerika akan kalah dalam perang tersebut.

Dalam tayangan berjudul “Professor Jiang Predicts: US WILL LOSE Iran War”, Jiang menyatakan bahwa dua prediksi awalnya telah terwujud, sementara prediksi ketiga—kekalahan Amerika—sedang bergerak menuju realisasi melalui dinamika perang yang menurutnya tidak menguntungkan Washington.

Berbasis di Beijing, Jiang yang dikenal sebagai pendiri kanal YouTube Predictive History, menjelaskan bahwa analisisnya bertumpu pada teori permainan, sejarah struktural, serta pendekatan prediktif yang terinspirasi dari konsep “psychohistory” fiktif karya Isaac Asimov, yang berupaya membaca pola besar sejarah untuk memetakan masa depan geopolitik.

BACA JUGA: 
Iran Tawarkan Hadiah untuk Tangkap Pilot AS, Eskalasi Konflik Kian Memanas

Ia menilai konflik saat ini bukan sekadar konfrontasi militer konvensional, melainkan perang atrisi jangka panjang yang telah dipersiapkan Iran selama dua dekade, baik dalam kerangka militer maupun ideologis.

Menurut Jiang, Iran telah melakukan “simulasi perang” melalui konflik-konflik sebelumnya, termasuk konfrontasi terbatas dengan Israel, yang memberinya kesempatan menguji kemampuan serangan dan respons pertahanan Amerika serta sekutunya.

Ia menekankan bahwa strategi Teheran tidak hanya menyasar target militer, melainkan juga infrastruktur energi dan ekonomi kawasan Teluk yang menjadi fondasi sistem petrodolar.

Dalam analisanya, negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) merupakan simpul utama yang menopang sirkulasi petrodolar kembali ke ekonomi Amerika melalui investasi besar, termasuk pada sektor kecerdasan buatan dan pembangunan pusat data.

Jika infrastruktur vital seperti fasilitas desalinasi air atau jalur distribusi energi lumpuh, kata Jiang, maka dampaknya bukan hanya krisis regional, melainkan gangguan sistemik terhadap stabilitas ekonomi global.

Ia juga menyoroti ketimpangan biaya dalam perang modern, di mana drone murah bernilai puluhan ribu dolar dapat memaksa Amerika menembakkan interceptor bernilai jutaan dolar, sebuah model yang dinilainya tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

BACA JUGA: 
Sikap AS Dinilai Inkonsisten, Kemarin Ingin Damai Sekarang Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran

Menurut Jiang, struktur militer Amerika dirancang untuk perang era Perang Dingin yang mengandalkan teknologi mahal dan superioritas simbolik, bukan untuk perang asimetris abad ke-21 yang menuntut efisiensi dan daya tahan logistik.

Ia melihat konflik ini sebagai awal dari runtuhnya aura invinsibilitas Amerika pasca runtuhnya Uni Soviet dan sebagai sinyal pergeseran menuju dunia multipolar.

Ketika ditanya kemungkinan pengerahan pasukan darat, Jiang menyatakan bahwa sejarah menunjukkan perubahan rezim tidak pernah berhasil hanya melalui kekuatan udara, sehingga tekanan politik dari sekutu Teluk dan Israel dapat mendorong Washington pada keputusan yang lebih dalam dan berisiko.

Dalam bagian yang paling kontroversial, Jiang mengemukakan tiga faktor utama yang menurutnya mendorong perang tersebut, yakni faktor kesombongan imperial (hubris), kalkulasi politik domestik Presiden Trump, serta faktor eskatologis yang ia kaitkan dengan jejaring kekuasaan global yang diyakininya berpengaruh dalam kebijakan luar negeri.

Ia menyebut adanya kepentingan finansial dan politik yang mengaitkan elite Amerika dengan Arab Saudi dan Israel, serta potensi penggunaan situasi perang untuk memperluas kekuasaan darurat presiden.

Terlepas dari kontroversi tersebut, wawancara ini menegaskan reputasi Jiang sebagai analis yang berani mengajukan proyeksi jangka panjang berdasarkan pembacaan struktural terhadap sejarah dan dinamika kekuasaan global.

BACA JUGA: 
Donald Trump Serang Kanselir Friedrich Merz, Hubungan AS–Jerman Memanas soal Perang Iran

Lahir pada 1976, Jiang Xueqin adalah seorang pendidik dan pemikir geopolitik Tiongkok-Kanada yang dikenal luas atas kontribusinya dalam reformasi pendidikan di Tiongkok dengan mendorong kreativitas, berpikir kritis, dan kewargaan global.

Melalui kanal Predictive History, ia secara konsisten mempublikasikan analisis mengenai konflik besar dunia dengan pendekatan historis-struktural dan teori permainan, yang membuatnya memiliki basis pengikut internasional yang signifikan.

Wawancara di Breaking Points tersebut kini menjadi salah satu tayangan geopolitik yang paling banyak diperbincangkan, karena bukan hanya memuat prediksi dramatis tentang kekalahan Amerika, tetapi juga menyodorkan kerangka analisis yang mempertanyakan fondasi hegemoni global yang telah bertahan lebih dari tiga dekade.

Jika prediksi Jiang terbukti, maka perang ini bukan sekadar konflik regional, melainkan momen redefinisi tatanan dunia abad ke-21.

Wawancara lengkap Profesor Jiang Xueqin yang memicu perdebatan global tersebut dapat disaksikan melalui tayangan resmi di kanal YouTube Breaking Points pada tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=4Ql24Z8SIeE .  (ali)

SulawesiPos.com – Sebuah pernyataan tajam mengguncang ruang diskusi geopolitik global ketika Jiang Xueqin dalam wawancara di kanal YouTube Breaking Points pada 3 Maret 2026 menyatakan dengan tegas bahwa Amerika Serikat akan kalah dalam perang melawan Iran dan kekalahan itu akan mengubah tatanan dunia secara permanen.

Wawancara yang dipandu oleh jurnalis independen Amerika Serikat, yang menjadi host kanal tersebut, mengangkat kembali tiga prediksi besar Jiang yang ia sampaikan sejak 2024, yakni Donald Trump akan memenangkan pemilu, Amerika akan berperang dengan Iran, dan Amerika akan kalah dalam perang tersebut.

Dalam tayangan berjudul “Professor Jiang Predicts: US WILL LOSE Iran War”, Jiang menyatakan bahwa dua prediksi awalnya telah terwujud, sementara prediksi ketiga—kekalahan Amerika—sedang bergerak menuju realisasi melalui dinamika perang yang menurutnya tidak menguntungkan Washington.

Berbasis di Beijing, Jiang yang dikenal sebagai pendiri kanal YouTube Predictive History, menjelaskan bahwa analisisnya bertumpu pada teori permainan, sejarah struktural, serta pendekatan prediktif yang terinspirasi dari konsep “psychohistory” fiktif karya Isaac Asimov, yang berupaya membaca pola besar sejarah untuk memetakan masa depan geopolitik.

BACA JUGA: 
Konflik dengan Trump Memanas, Paus Leo XIV Kembali Kecam “Diplomasi Kekuatan” dan “Gairah Perang”

Ia menilai konflik saat ini bukan sekadar konfrontasi militer konvensional, melainkan perang atrisi jangka panjang yang telah dipersiapkan Iran selama dua dekade, baik dalam kerangka militer maupun ideologis.

Menurut Jiang, Iran telah melakukan “simulasi perang” melalui konflik-konflik sebelumnya, termasuk konfrontasi terbatas dengan Israel, yang memberinya kesempatan menguji kemampuan serangan dan respons pertahanan Amerika serta sekutunya.

Ia menekankan bahwa strategi Teheran tidak hanya menyasar target militer, melainkan juga infrastruktur energi dan ekonomi kawasan Teluk yang menjadi fondasi sistem petrodolar.

Dalam analisanya, negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) merupakan simpul utama yang menopang sirkulasi petrodolar kembali ke ekonomi Amerika melalui investasi besar, termasuk pada sektor kecerdasan buatan dan pembangunan pusat data.

Jika infrastruktur vital seperti fasilitas desalinasi air atau jalur distribusi energi lumpuh, kata Jiang, maka dampaknya bukan hanya krisis regional, melainkan gangguan sistemik terhadap stabilitas ekonomi global.

Ia juga menyoroti ketimpangan biaya dalam perang modern, di mana drone murah bernilai puluhan ribu dolar dapat memaksa Amerika menembakkan interceptor bernilai jutaan dolar, sebuah model yang dinilainya tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

BACA JUGA: 
Donald Trump Serang Kanselir Friedrich Merz, Hubungan AS–Jerman Memanas soal Perang Iran

Menurut Jiang, struktur militer Amerika dirancang untuk perang era Perang Dingin yang mengandalkan teknologi mahal dan superioritas simbolik, bukan untuk perang asimetris abad ke-21 yang menuntut efisiensi dan daya tahan logistik.

Ia melihat konflik ini sebagai awal dari runtuhnya aura invinsibilitas Amerika pasca runtuhnya Uni Soviet dan sebagai sinyal pergeseran menuju dunia multipolar.

Ketika ditanya kemungkinan pengerahan pasukan darat, Jiang menyatakan bahwa sejarah menunjukkan perubahan rezim tidak pernah berhasil hanya melalui kekuatan udara, sehingga tekanan politik dari sekutu Teluk dan Israel dapat mendorong Washington pada keputusan yang lebih dalam dan berisiko.

Dalam bagian yang paling kontroversial, Jiang mengemukakan tiga faktor utama yang menurutnya mendorong perang tersebut, yakni faktor kesombongan imperial (hubris), kalkulasi politik domestik Presiden Trump, serta faktor eskatologis yang ia kaitkan dengan jejaring kekuasaan global yang diyakininya berpengaruh dalam kebijakan luar negeri.

Ia menyebut adanya kepentingan finansial dan politik yang mengaitkan elite Amerika dengan Arab Saudi dan Israel, serta potensi penggunaan situasi perang untuk memperluas kekuasaan darurat presiden.

Terlepas dari kontroversi tersebut, wawancara ini menegaskan reputasi Jiang sebagai analis yang berani mengajukan proyeksi jangka panjang berdasarkan pembacaan struktural terhadap sejarah dan dinamika kekuasaan global.

BACA JUGA: 
Presiden Prabowo Bertolak ke Amerika Serikat, Ini Tujuannya

Lahir pada 1976, Jiang Xueqin adalah seorang pendidik dan pemikir geopolitik Tiongkok-Kanada yang dikenal luas atas kontribusinya dalam reformasi pendidikan di Tiongkok dengan mendorong kreativitas, berpikir kritis, dan kewargaan global.

Melalui kanal Predictive History, ia secara konsisten mempublikasikan analisis mengenai konflik besar dunia dengan pendekatan historis-struktural dan teori permainan, yang membuatnya memiliki basis pengikut internasional yang signifikan.

Wawancara di Breaking Points tersebut kini menjadi salah satu tayangan geopolitik yang paling banyak diperbincangkan, karena bukan hanya memuat prediksi dramatis tentang kekalahan Amerika, tetapi juga menyodorkan kerangka analisis yang mempertanyakan fondasi hegemoni global yang telah bertahan lebih dari tiga dekade.

Jika prediksi Jiang terbukti, maka perang ini bukan sekadar konflik regional, melainkan momen redefinisi tatanan dunia abad ke-21.

Wawancara lengkap Profesor Jiang Xueqin yang memicu perdebatan global tersebut dapat disaksikan melalui tayangan resmi di kanal YouTube Breaking Points pada tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=4Ql24Z8SIeE .  (ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru