31 C
Makassar
1 March 2026, 13:17 PM WITA

Bill Madden Bongkar Taktik AS-Israel Gunakan Serangan Iran untuk Kubur Kasus Jeffrey Epstein Files

SulawesiPos.com – Sebuah tamparan keras mendarat di wajah otoritas Washington dari salah satu musisi Amerika sendiri.

Bill Madden, musisi dan aktivis kemanusiaan berbasis di New York, melontarkan tuduhan mengguncang yang menghubungkan agresi militer Amerika-Israel ke Republik Islam Iran dengan upaya sistematis menutupi skandal pedofilia kelas atas yang melibatkan elit politik Gedung Putih.

Bom di Iran, Tameng untuk Pedofilia

Melalui unggahan di akun Instagram @maddenifico pada Ahad, 1 Maret 2026, Madden mengunggah sebuah foto Senator Marco Rubio yang tengah membisiki Donald Trump dengan narasi yang sangat provokatif dibuat oleh Madden:

“Seranganmu ke Iran berhasil. Kini tak ada lagi yang bicara tentang dosamu memerkosa anak-anak.”

Pernyataan Madden ini merujuk langsung pada kekhawatiran publik global mengenai Jeffrey Epstein Files, dokumen yang menyeret nama-nama besar dalam jaringan eksploitasi seksual anak di bawah umur.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Bill Madden (@maddenifico)

Menurut Madden, darah warga sipil Iran yang tumpah akibat serangan udara sengaja dijadikan “tirai asap” untuk mengalihkan perhatian dunia dari status para pemimpin tersebut sebagai predator seksual.

“Darah anak-anak di Iran kini menimbun jeritan anak-anak korban Epstein yang menuntut keadilan,” tulis Madden dalam nada penuh amarah.

Profil Bill Madden: Musisi yang Melawan Keangkuhan

Sebagai seorang musisi New York, Bill Madden dikenal bukan karena lagu hiburan biasa, melainkan karena lirik-liriknya yang sarat akan kritik sosial dan lingkungan.

Ia menggunakan platformnya untuk menyerang kemunafikan penguasa. Baginya, keterlibatan Amerika Serikat dalam menghancurkan kedaulatan Iran bukan sekadar urusan militer, melainkan bentuk pelarian moral dari kejahatan domestik yang memuakkan.

Tragedi di Jantung Teheran: Kesyahidan Ayatollah Sayyed Ali Khamenei

Di saat narasi pengalihan isu ini mencuat, Iran tengah berduka sedalam-dalamnya. Pada Sabtu pagi di bulan Ramadhan yang suci, sebuah serangan udara pengecut yang diluncurkan oleh aliansi Amerika-Israel menghantam kompleks kepemimpinan di Teheran.

Ayatollah Syahid Ali Khamenei gugur sebagai martir tepat di meja kerjanya saat menjalankan tugas negara. Kesyahidannya di Bait Rahbari (kantor resmi) menghancurkan perang urat saraf (psychological warfare) Zionis yang selama ini menuduh sang Pemimpin bersembunyi di bunker rahasia karena ketakutan.

Beliau membuktikan keberaniannya dengan tetap berada di tengah rakyatnya hingga titik darah penghabisan.

Pernyataan Resmi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)

Korps Garda Revolusi Islam segera mengeluarkan maklumat tegas bagi seluruh dunia:

“Bismillahir Rahmanir Rahim. Kesyahidan sapaan akrab ‘Imam Umat’ di tangan teroris paling biadab adalah tanda kebenaran perjuangannya. Beliau dijemput Allah dalam kondisi suci di bulan Ramadhan, layaknya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib AS.

Tindakan kriminal pemerintah Amerika yang busuk dan rezim Zionis telah melanggar seluruh norma kemanusiaan. Tangan balas dendam bangsa Iran kini siap memberikan hukuman yang sangat keras, menentukan, dan akan membuat para pembunuh itu menyesal sedalam-dalamnya. Perjuangan Imam Khamenei tidak akan berhenti; ia akan terus berkobar dengan kekuatan yang lebih besar!”

Hari ini, dunia diperhadapkan dua berita besar. Di satu sisi, ada duka besar atas hilangnya seorang pemimpin besar dunia Islam, dan di sisi lain, ada tuduhan serius dari warga Amerika sendiri seperti Bill Madden yang menyebut bahwa perang ini hanyalah cara kotor untuk mencuci tangan dari kotoran skandal Jeffrey Epstein.

Sejarah akan mencatat tanggal 1 Maret 2026 sebagai hari di mana keberanian seorang musisi New York bertemu dengan pengorbanan tertinggi seorang pemimpin agung di Teheran. (Ali)

SulawesiPos.com – Sebuah tamparan keras mendarat di wajah otoritas Washington dari salah satu musisi Amerika sendiri.

Bill Madden, musisi dan aktivis kemanusiaan berbasis di New York, melontarkan tuduhan mengguncang yang menghubungkan agresi militer Amerika-Israel ke Republik Islam Iran dengan upaya sistematis menutupi skandal pedofilia kelas atas yang melibatkan elit politik Gedung Putih.

Bom di Iran, Tameng untuk Pedofilia

Melalui unggahan di akun Instagram @maddenifico pada Ahad, 1 Maret 2026, Madden mengunggah sebuah foto Senator Marco Rubio yang tengah membisiki Donald Trump dengan narasi yang sangat provokatif dibuat oleh Madden:

“Seranganmu ke Iran berhasil. Kini tak ada lagi yang bicara tentang dosamu memerkosa anak-anak.”

Pernyataan Madden ini merujuk langsung pada kekhawatiran publik global mengenai Jeffrey Epstein Files, dokumen yang menyeret nama-nama besar dalam jaringan eksploitasi seksual anak di bawah umur.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Bill Madden (@maddenifico)

Menurut Madden, darah warga sipil Iran yang tumpah akibat serangan udara sengaja dijadikan “tirai asap” untuk mengalihkan perhatian dunia dari status para pemimpin tersebut sebagai predator seksual.

“Darah anak-anak di Iran kini menimbun jeritan anak-anak korban Epstein yang menuntut keadilan,” tulis Madden dalam nada penuh amarah.

Profil Bill Madden: Musisi yang Melawan Keangkuhan

Sebagai seorang musisi New York, Bill Madden dikenal bukan karena lagu hiburan biasa, melainkan karena lirik-liriknya yang sarat akan kritik sosial dan lingkungan.

Ia menggunakan platformnya untuk menyerang kemunafikan penguasa. Baginya, keterlibatan Amerika Serikat dalam menghancurkan kedaulatan Iran bukan sekadar urusan militer, melainkan bentuk pelarian moral dari kejahatan domestik yang memuakkan.

Tragedi di Jantung Teheran: Kesyahidan Ayatollah Sayyed Ali Khamenei

Di saat narasi pengalihan isu ini mencuat, Iran tengah berduka sedalam-dalamnya. Pada Sabtu pagi di bulan Ramadhan yang suci, sebuah serangan udara pengecut yang diluncurkan oleh aliansi Amerika-Israel menghantam kompleks kepemimpinan di Teheran.

Ayatollah Syahid Ali Khamenei gugur sebagai martir tepat di meja kerjanya saat menjalankan tugas negara. Kesyahidannya di Bait Rahbari (kantor resmi) menghancurkan perang urat saraf (psychological warfare) Zionis yang selama ini menuduh sang Pemimpin bersembunyi di bunker rahasia karena ketakutan.

Beliau membuktikan keberaniannya dengan tetap berada di tengah rakyatnya hingga titik darah penghabisan.

Pernyataan Resmi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)

Korps Garda Revolusi Islam segera mengeluarkan maklumat tegas bagi seluruh dunia:

“Bismillahir Rahmanir Rahim. Kesyahidan sapaan akrab ‘Imam Umat’ di tangan teroris paling biadab adalah tanda kebenaran perjuangannya. Beliau dijemput Allah dalam kondisi suci di bulan Ramadhan, layaknya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib AS.

Tindakan kriminal pemerintah Amerika yang busuk dan rezim Zionis telah melanggar seluruh norma kemanusiaan. Tangan balas dendam bangsa Iran kini siap memberikan hukuman yang sangat keras, menentukan, dan akan membuat para pembunuh itu menyesal sedalam-dalamnya. Perjuangan Imam Khamenei tidak akan berhenti; ia akan terus berkobar dengan kekuatan yang lebih besar!”

Hari ini, dunia diperhadapkan dua berita besar. Di satu sisi, ada duka besar atas hilangnya seorang pemimpin besar dunia Islam, dan di sisi lain, ada tuduhan serius dari warga Amerika sendiri seperti Bill Madden yang menyebut bahwa perang ini hanyalah cara kotor untuk mencuci tangan dari kotoran skandal Jeffrey Epstein.

Sejarah akan mencatat tanggal 1 Maret 2026 sebagai hari di mana keberanian seorang musisi New York bertemu dengan pengorbanan tertinggi seorang pemimpin agung di Teheran. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/