SulawesiPos.com – Tahun Baru Imlek bukan sekadar perayaan pergantian tahun bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang yang melintasi zaman dan wilayah.
Berikut perjalanan sejarah Imlek dari dunia hingga Indonesia.
Sejarah Imlek bermula di Tiongkok kuno sebagai festival agraris untuk menyambut datangnya musim semi.
Perayaan ini menjadi bentuk syukur atas panen sekaligus harapan bagi hasil pertanian di tahun berikutnya.
Salah satu kisah paling populer adalah legenda monster Nian yang muncul di akhir musim dingin dan meneror desa.
Warga kemudian mengetahui bahwa Nian takut warna merah, suara bising, dan api, hal ini yang kemudian melahirkan tradisi lampion, petasan, dan dekorasi merah.
Pada era Dinasti Han, perayaan mulai terstruktur. Kaisar Han Wudi menetapkan kalender lunar dan menjadikan bulan pertama sebagai awal tahun, sekaligus memasukkan ritual penghormatan leluhur dalam perayaan resmi.
Memasuki Dinasti Tang dan Song, Imlek berubah dari ritual istana menjadi festival rakyat. Tradisi saling berkunjung, permainan, hingga pertunjukan seni mulai meramaikan perayaan.
Perayaan Imlek hadir di Indonesia melalui kedatangan imigran Tionghoa yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal di berbagai wilayah Pecinan.
Pada masa awal kemerdekaan, masyarakat Tionghoa bebas merayakan Imlek.
Bahkan pemerintah menetapkannya sebagai hari raya keagamaan melalui Penetapan Pemerintah No. 2/1946.
Situasi berubah ketika pemerintah Orde Baru mengeluarkan Inpres No. 14/1967 yang membatasi ekspresi budaya Tionghoa di ruang publik.
Perayaan Imlek hanya boleh dilakukan secara tertutup selama puluhan tahun.
Larangan dicabut pada tahun 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), membuka kembali ruang perayaan publik.
Status Imlek diperkuat ketika Presiden Megawati menetapkannya sebagai hari libur nasional mulai 2003, menandai pengakuan penuh terhadap budaya Tionghoa di Indonesia.
Amplop merah melambangkan doa kesejahteraan dan perlindungan dari yang lebih tua kepada yang muda.
Kue keranjang melambangkan persatuan, sementara ikan menjadi simbol kelimpahan rezeki.
Membersihkan rumah sebelum Imlek dimaknai sebagai membuang energi buruk dan menyambut keberuntungan baru.
Sejarah panjang Imlek menunjukkan bagaimana tradisi mampu bertahan, beradaptasi, dan melintasi batas negara. Dari legenda kuno hingga pengakuan resmi negara, Imlek kini menjadi simbol persatuan, harapan, dan keberagaman budaya.
Sumber: Traveloka