Pioner Cetak Sawah Masyarakat, Reinardus Ndiken Buktikan Masyarakat Adat Merauke Siap Bertransformasi

Diketahui pada periode Januari hingga Desember 2025, luas panen padi Merauke tercatat 78.955 hektare, naik 67,39 persen dibandingkan 2024. Produksi padi gabah kering panen melonjak dari 258.626 ton menjadi 426.828 ton. Sementara itu, produksi beras meningkat dari 124.355 ton menjadi 205.231 ton, atau tumbuh lebih dari 65 persen.

Sejalan dengan itu, Kabupaten Merauke juga menjadi salah satu episentrum pengembangan pertanian nasional melalui program cetak sawah skala besar. Hingga saat ini, total capaian cetak sawah di Merauke telah menembus angka 40.000 hektare, menjadikannya salah satu lumbung pangan strategis di kawasan timur Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari agenda besar pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan dan swasembada pangan nasional, sekaligus membuka ruang transformasi ekonomi bagi masyarakat adat sebagai pemilik sah tanah ulayat. Keberhasilan cetak sawah berbasis masyarakat, seperti yang dilakukan Reinardus Ndiken, menjadi bukti bahwa kebijakan nasional mampu berjalan efektif ketika bersentuhan langsung dengan kearifan lokal dan partisipasi masyarakat.

BACA JUGA:  Panen Raya Oplah Rawa di Dua Boccoe, Bupati Bone Target Tiga Besar Produksi Padi Nasional

Diketahui pada periode Januari hingga Desember 2025, luas panen padi Merauke tercatat 78.955 hektare, naik 67,39 persen dibandingkan 2024. Produksi padi gabah kering panen melonjak dari 258.626 ton menjadi 426.828 ton. Sementara itu, produksi beras meningkat dari 124.355 ton menjadi 205.231 ton, atau tumbuh lebih dari 65 persen.

Sejalan dengan itu, Kabupaten Merauke juga menjadi salah satu episentrum pengembangan pertanian nasional melalui program cetak sawah skala besar. Hingga saat ini, total capaian cetak sawah di Merauke telah menembus angka 40.000 hektare, menjadikannya salah satu lumbung pangan strategis di kawasan timur Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari agenda besar pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan dan swasembada pangan nasional, sekaligus membuka ruang transformasi ekonomi bagi masyarakat adat sebagai pemilik sah tanah ulayat. Keberhasilan cetak sawah berbasis masyarakat, seperti yang dilakukan Reinardus Ndiken, menjadi bukti bahwa kebijakan nasional mampu berjalan efektif ketika bersentuhan langsung dengan kearifan lokal dan partisipasi masyarakat.

BACA JUGA:  Libatkan Ansor Jateng, Wamentan Sudaryono Perkuat Gerakan Pemuda di Sektor Pertanian

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru