24 C
Makassar
3 February 2026, 8:04 AM WITA

Besar Potensi Amerika Serang Iran, Negara Teluk Cemas

Gangguan stabilitas ini dinilai sangat berbahaya bagi negara-negara Teluk yang tengah menjalani transisi ekonomi menuju era pasca-energi fosil, khususnya Arab Saudi yang masih bergantung pada kepercayaan pasar global.

Dimensi politik domestik juga turut berperan, karena elite negara-negara Teluk cenderung lebih memilih rezim lama yang dapat diprediksi ketimbang perubahan radikal yang berpotensi memicu efek domino seperti Arab Spring 2011.

Laporan Middle East Eye pada 24 Januari 2026 menyebut bahwa negara-negara Teluk berupaya memanfaatkan melemahnya posisi Iran untuk memperoleh konsesi diplomatik secara senyap, termasuk membuka kembali jalur negosiasi nuklir, tanpa harus menanggung biaya politik dan keamanan dari konflik bersenjata.

Setelah pemulihan hubungan diplomatik Iran–Arab Saudi pada Maret 2023 melalui mediasi China, negara-negara Teluk kini berupaya mempertahankan stabilitas regional tersebut, bahkan mendorong Teheran agar menahan pengaruhnya terhadap Houthi di Yaman sebagai bagian dari kompromi tidak tertulis.

Sinyal dari Washington yang disampaikan dalam Forum Ekonomi Dunia Davos 2026 menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka, sebuah arah yang secara tegas lebih disukai negara-negara Teluk dibandingkan eskalasi militer terbuka.

Baca Juga: 
2026 dan Jam Berdetak Dunia: Ketika AI Perlahan Menggeser Manusia dari Meja Kerja

Namun situasi di lapangan tetap menggetarkan, ketika armada tempur Barat dilaporkan telah dikerahkan di sekitar Iran, sementara Teheran justru menolak mentah-mentah tawaran negosiasi di Davos, memperlihatkan sikap konfrontatif yang tidak biasa.

Pernyataan keras datang dari Jenderal Yahya Rahim Safavi, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang menegaskan kesiapan Iran menghadapi perang eksistensial dan mengklaim kepemilikan senjata strategis yang tidak diketahui musuh, sebuah pesan yang dimaksudkan sebagai peringatan terakhir.

Di tengah ketegangan ini, Drs. Patrice Lumumba, Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, menilai bahwa eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran tidak dapat dibaca sebagai konflik regional biasa, melainkan sebagai potensi pemicu konflik global berskala luas.

Patrice Lumumba menelaah dinamika geopolitik Iran–Amerika Serikat, menyoroti risiko eskalasi regional dan dampaknya bagi stabilitas kawasan Teluk Persia.
Patrice Lumumba menelaah dinamika geopolitik Iran–Amerika Serikat, menyoroti risiko eskalasi regional dan dampaknya bagi stabilitas kawasan Teluk Persia.

Menurut Patrice, dalam wawancara dengan SulawesiPos.com, Minggu (25/1/2026), Iran bukanlah negara lemah, melainkan kekuatan regional dengan kapabilitas militer strategis yang mencakup teknologi beraroma nuklir, serta dukungan implisit dari Rusia, China, Pakistan, dan Korea Utara, empat negara pemilik senjata nuklir yang kepentingannya beririsan dengan Teheran.

Gangguan stabilitas ini dinilai sangat berbahaya bagi negara-negara Teluk yang tengah menjalani transisi ekonomi menuju era pasca-energi fosil, khususnya Arab Saudi yang masih bergantung pada kepercayaan pasar global.

Dimensi politik domestik juga turut berperan, karena elite negara-negara Teluk cenderung lebih memilih rezim lama yang dapat diprediksi ketimbang perubahan radikal yang berpotensi memicu efek domino seperti Arab Spring 2011.

Laporan Middle East Eye pada 24 Januari 2026 menyebut bahwa negara-negara Teluk berupaya memanfaatkan melemahnya posisi Iran untuk memperoleh konsesi diplomatik secara senyap, termasuk membuka kembali jalur negosiasi nuklir, tanpa harus menanggung biaya politik dan keamanan dari konflik bersenjata.

Setelah pemulihan hubungan diplomatik Iran–Arab Saudi pada Maret 2023 melalui mediasi China, negara-negara Teluk kini berupaya mempertahankan stabilitas regional tersebut, bahkan mendorong Teheran agar menahan pengaruhnya terhadap Houthi di Yaman sebagai bagian dari kompromi tidak tertulis.

Sinyal dari Washington yang disampaikan dalam Forum Ekonomi Dunia Davos 2026 menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka, sebuah arah yang secara tegas lebih disukai negara-negara Teluk dibandingkan eskalasi militer terbuka.

Baca Juga: 
KPK Ungkap Alur Pemerasan Jabatan Desa Bupati Pati: Ini 8 Orang Terlibat, SDW Otaknya

Namun situasi di lapangan tetap menggetarkan, ketika armada tempur Barat dilaporkan telah dikerahkan di sekitar Iran, sementara Teheran justru menolak mentah-mentah tawaran negosiasi di Davos, memperlihatkan sikap konfrontatif yang tidak biasa.

Pernyataan keras datang dari Jenderal Yahya Rahim Safavi, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang menegaskan kesiapan Iran menghadapi perang eksistensial dan mengklaim kepemilikan senjata strategis yang tidak diketahui musuh, sebuah pesan yang dimaksudkan sebagai peringatan terakhir.

Di tengah ketegangan ini, Drs. Patrice Lumumba, Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, menilai bahwa eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran tidak dapat dibaca sebagai konflik regional biasa, melainkan sebagai potensi pemicu konflik global berskala luas.

Patrice Lumumba menelaah dinamika geopolitik Iran–Amerika Serikat, menyoroti risiko eskalasi regional dan dampaknya bagi stabilitas kawasan Teluk Persia.
Patrice Lumumba menelaah dinamika geopolitik Iran–Amerika Serikat, menyoroti risiko eskalasi regional dan dampaknya bagi stabilitas kawasan Teluk Persia.

Menurut Patrice, dalam wawancara dengan SulawesiPos.com, Minggu (25/1/2026), Iran bukanlah negara lemah, melainkan kekuatan regional dengan kapabilitas militer strategis yang mencakup teknologi beraroma nuklir, serta dukungan implisit dari Rusia, China, Pakistan, dan Korea Utara, empat negara pemilik senjata nuklir yang kepentingannya beririsan dengan Teheran.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/