SulawesiPos.com – Menurut laporan Deutsche Welle Persian yang dipublikasikan pada 23 Januari 2026, kekhawatiran negara-negara Teluk Persia menjadi salah satu faktor kunci yang menghambat realisasi janji Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memberikan bantuan langsung kepada para pengunjuk rasa di Iran di tengah gelombang represi politik yang meluas.
Trump sebelumnya menyampaikan kepada para demonstran Iran bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan,” sebagai respons atas tindakan keras aparat Republik Islam Iran, namun pernyataan tersebut perlahan meredup seiring meningkatnya tekanan diplomatik dari negara-negara Teluk yang berupaya mencegah konfrontasi militer terbuka antara Washington dan Teheran.
Beberapa hari setelah pernyataan awal itu, Trump bahkan melunakkan sikapnya dengan mengklaim adanya penurunan tingkat kekerasan dan berkurangnya risiko eksekusi massal di Iran, sebuah penilaian yang tidak sepenuhnya sejalan dengan temuan komunitas internasional dan lembaga pemantau independen.

Data yang dirilis oleh HRANA pada 23 Januari 2026 mencatat sedikitnya 5.002 korban jiwa terverifikasi, 9.787 kematian yang masih dalam proses verifikasi, 7.391 korban luka berat, serta 26.852 orang ditahan sejak gelombang protes meluas, angka-angka yang memicu keprihatinan serius di kalangan negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pada hari yang sama, Dewan Hak Asasi Manusia PBB menggelar sidang luar biasa untuk membahas apa yang mereka sebut sebagai “kekerasan yang sangat mengkhawatirkan” di Iran, sebuah langkah yang juga didorong oleh seruan Human Rights Watch.
Namun di balik retorika resmi mengenai penurunan eskalasi, laporan Associated Press pada 22 Januari 2026 mengungkap adanya tekanan diplomatik intensif dari Arab Saudi, Qatar, Oman, dan Mesir, yang dalam sepekan terakhir melakukan komunikasi tingkat tinggi dengan Washington guna mencegah serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran, sembari memperingatkan Teheran agar menahan diri.
Para analis menilai negara-negara Teluk memiliki kepentingan strategis agar Iran tetap berada dalam kondisi lemah namun stabil, karena instabilitas total justru berpotensi menyeret kawasan ke dalam spiral kekerasan regional yang sulit dikendalikan.
Kekhawatiran utama mereka adalah potensi pembalasan Iran terhadap instalasi militer Amerika Serikat di Qatar, Arab Saudi, dan Bahrain, yang secara otomatis akan menyeret negara-negara tersebut menjadi medan konflik langsung.
Selain risiko keamanan, dimensi ekonomi menjadi pertimbangan krusial, terutama kemungkinan Iran menutup jalur pelayaran strategis di Teluk Persia, sebuah skenario yang berpotensi mengguncang pasar energi global sebagaimana yang terjadi di Laut Merah akibat serangan kelompok Houthi Yaman terhadap jalur perdagangan internasional.

