SulawesiPos.com – Gelombang kerusuhan yang mengguncang Iran dalam dua pekan terakhir, menurut laporan Reuters (12/1), telah menewaskan lebih dari 500 orang, ketika Teheran memperingatkan akan membalas dengan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat jika Presiden Donald Trump mewujudkan ancaman intervensinya untuk membantu para pengunjuk rasa.
Laporan itu disampaikan kelompok pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA ((Human Rights Activists News Agency), pada Minggu (11/1/2026), saat otoritas Iran menghadapi demonstrasi terbesar sejak 2022 dan ketegangan dengan Washington kembali menanjak.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari aktivis di dalam dan luar Iran, HRANA menyebut telah memverifikasi kematian 490 demonstran dan 48 personel keamanan, sementara lebih dari 10.600 orang dilaporkan ditangkap dalam dua pekan kerusuhan.
Pemerintah Iran tidak memberikan angka resmi korban, dan Reuters menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen angka-angka tersebut.
Di Washington, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa Trump dijadwalkan bertemu para penasihat senior pada Selasa untuk membahas opsi terkait Iran. The Wall Street Journal melaporkan bahwa opsi itu mencakup serangan militer, penggunaan senjata siber rahasia, perluasan sanksi, serta bantuan daring bagi sumber-sumber anti-pemerintah.
“Militer sedang melihatnya, dan kami juga sedang mempertimbangkan beberapa opsi yang sangat kuat,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One pada Minggu malam.
Di Teheran, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan Washington agar tidak melakukan “salah perhitungan”. Ia menegaskan bahwa bila Iran diserang, maka Israel—yang ia sebut sebagai “wilayah pendudukan”—serta seluruh pangkalan, kapal, dan aset Amerika Serikat akan menjadi target yang sah.
“Biarkan kami tegaskan: jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta seluruh pangkalan dan kapal Amerika Serikat akan menjadi target sah kami,” ujar Qalibaf, mantan komandan Garda Revolusi Iran.
Protes ini bermula pada 28 Desember, dipicu oleh kenaikan harga yang melonjak, sebelum kemudian beralih menjadi penentangan terhadap para penguasa ulama yang memerintah sejak Revolusi Islam 1979.
Otoritas Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel menghasut kerusuhan, serta—menurut laporan media pemerintah—menyerukan aksi massa nasional pada Senin untuk mengecam apa yang mereka sebut sebagai “aksi terorisme yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel”.
Sementara itu, arus informasi dari Iran kian terhambat setelah terjadi pemadaman internet sejak Kamis. Trump mengatakan pada Minggu bahwa ia akan berbicara dengan Elon Musk untuk memulihkan akses internet di Iran melalui layanan satelit Starlink.
Rekaman video yang beredar di media sosial pada Sabtu memperlihatkan kerumunan besar di Teheran berbaris pada malam hari, bertepuk tangan, dan meneriakkan yel-yel. Dalam salah satu video, seorang pria terdengar berkata bahwa kerumunan itu “tidak punya ujung maupun awal”.
Dari kota Mashhad di timur laut, video lain memperlihatkan asap pekat membubung di langit malam dari api yang menyala di jalan, para demonstran bermasker, serta jalan raya yang dipenuhi puing—disertai bunyi ledakan. Reuters menyatakan telah memverifikasi lokasi rekaman tersebut.
Televisi pemerintah Iran menayangkan puluhan kantong jenazah di kantor koroner Teheran, sembari menyebut para korban sebagai hasil peristiwa yang dipicu “teroris bersenjata”. Tayangan lain menunjukkan keluarga korban berkumpul di luar Pusat Kedokteran Forensik Kahrizak di Teheran untuk menunggu proses identifikasi.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan ia terkejut oleh laporan kekerasan oleh otoritas Iran dan menyerukan penahanan diri semaksimal mungkin. Ia juga menegaskan bahwa kebebasan berekspresi, berserikat, dan berkumpul secara damai harus dihormati dan dilindungi.
Pada Minggu, otoritas Iran menetapkan tiga hari berkabung nasional, “untuk menghormati para martir yang gugur dalam perlawanan terhadap Amerika Serikat dan rezim Zionis,” menurut media pemerintah.
Tiga sumber Israel yang hadir dalam konsultasi keamanan pada akhir pekan mengatakan Israel berada dalam status siaga tinggi menghadapi kemungkinan intervensi Amerika Serikat di Iran.
Israel dan Iran sebelumnya terlibat perang selama 12 hari pada Juni 2025, yang sempat diikuti Amerika Serikat dengan menyerang instalasi nuklir. Iran kemudian membalas dengan menembakkan rudal ke Israel dan ke sebuah pangkalan udara Amerika Serikat di Qatar.
Di tengah krisis terbaru ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Israel dan Amerika Serikat adalah dalang destabilisasi, dan menuduh musuh-musuh Iran memasukkan “teroris” yang, menurutnya, membakar masjid, menyerang bank, dan merusak fasilitas publik.
“Kepada keluarga, saya meminta: jangan biarkan anak-anak muda kalian bergabung dengan perusuh dan teroris yang memenggal orang dan membunuh orang lain,” kata Pezeshkian dalam wawancara televisi, seraya menambahkan bahwa pemerintah siap mendengarkan rakyat dan menyelesaikan masalah ekonomi.
Iran juga memanggil duta besar Inggris pada Minggu ke kementerian luar negeri terkait komentar yang mereka sebut “intervensionis” dari menteri luar negeri Inggris, serta aksi seorang demonstran yang menurunkan bendera Iran dari gedung Kedutaan Besar di London dan menggantinya dengan jenis bendera yang digunakan sebelum Revolusi Islam 1979. Kementerian luar negeri Inggris tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Mantan diplomat Amerika Serikat dan pakar Iran, Alan Eyre, menilai kecil kemungkinan protes ini akan menjatuhkan pemerintahan. Menurutnya, lebih mungkin pemerintah akhirnya mampu meredam demonstrasi, tetapi keluar dari proses itu dalam kondisi jauh lebih lemah. Ia juga menyebut elite Iran masih terlihat solid dan belum tampak oposisi yang terorganisasi.
Televisi pemerintah Iran menyiarkan prosesi pemakaman di beberapa kota barat seperti Gachsaran dan Yasuj untuk personel keamanan yang tewas. Media itu juga menyebut 30 anggota pasukan keamanan akan dimakamkan di Isfahan, serta enam lainnya dilaporkan tewas oleh “perusuh” di Kermanshah.
Pada Sabtu, Trump menulis di media sosial: “Iran sedang menatap KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AMERIKA SERIKAT siap membantu!!!”
Seorang sumber Israel yang hadir dalam percakapan mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membahas kemungkinan intervensi Amerika Serikat dalam panggilan telepon pada Sabtu.
Dukungan bagi demonstran Iran juga muncul di Amerika Serikat. Di kawasan Westwood, Los Angeles, sebuah truk sewaan dilaporkan menabrak kerumunan beberapa ratus orang yang tengah menggelar aksi dukungan, menurut media KNBC pada Minggu. Polisi Los Angeles, Sean Murray, mengatakan berdasarkan rekaman video berita, pengemudi truk itu dikawal pergi oleh polisi; jumlah korban luka belum jelas, namun seluruh yang terluka disebut mendapat perawatan di lokasi.
Dari pihak oposisi di pengasingan, Reza Pahlavi—putra mendiang Shah terakhir Iran—menyebut Trump telah mengamati “keberanian yang tak terlukiskan” dari warga Iran. “Jangan tinggalkan jalanan,” tulisnya di X. (ali)