Categories: News

Konflik dengan Trump Memanas, Paus Leo XIV Kembali Kecam “Diplomasi Kekuatan” dan “Gairah Perang”

SulawesiPos.com – Ketegangan antara Vatikan dan Washington semakin memuncak setelah Paus Leo XIV kembali melontarkan kritik terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, terutama terkait pendekatan diplomasi dan dinamika geopolitik global.

Sejak dilantik sebagai paus pada Mei lalu, Leo XIV telah menyampaikan sejumlah kritik terbuka dan tersirat terhadap perlakuan pemerintahan Trump terhadap migran dan arah kebijakan luar negeri AS, sebagaimana dilaporkan arabic.rt.com pada Jumat (9/1/2026).

Dalam pidato tahunan kepada korps diplomatik di Vatikan yang disiarkan secara luas, Paus Leo XIV mengecam “diplomasi berbasis kekuatan” dan “gairah untuk perang” sebagai ancaman bagi perdamaian dunia.

Meskipun tidak menyebut nama kepala negara secara eksplisit, pernyataan Paus itu dipandang sebagai sindiran tajam terhadap operasi militer AS di kawasan Karibia, terutama terkait krisis Venezuela, termasuk penahanan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Paus Leo XIV menyatakan bahwa meningkatnya ketegangan di Laut Karibia serta sepanjang pesisir Pasifik Amerika Serikat merupakan sumber kekhawatiran besar bagi stabilitas kawasan dan perdamaian global.

Ia menyerukan penyelesaian damai melalui jalur politik yang mengutamakan kepentingan rakyat secara keseluruhan, bukan demi ambisi kekuasaan atau kepentingan kelompok tertentu.

Walaupun tidak menyebut secara langsung pergerakan terbaru Trump, Paus menegaskan bahwa pesannya sangat relevan bagi situasi di Venezuela menyusul perkembangan terakhir yang dinilai berbahaya.

Paus juga menekankan pentingnya menghormati kehendak rakyat Venezuela serta melindungi hak asasi manusia dan hak sipil demi masa depan yang stabil dan harmonis.

Pada Minggu, Leo XIV menegaskan bahwa Venezuela harus tetap menjadi negara merdeka, sambil menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi rakyatnya setelah serangan militer dan penangkapan Maduro oleh pasukan Amerika Serikat.

“Dengan hati yang penuh kecemasan, saya mengikuti perkembangan situasi di Venezuela,” kata Paus, sebagaimana dikutip arabic.rt.com edisi Jumat (9/1/2026).

Bulan lalu, Paus bahkan mengkritik potensi langkah Amerika Serikat yang dapat menyerupai operasi invasi terhadap wilayah Venezuela dan menegaskan bahwa dialog merupakan jalan yang lebih bijak untuk menyelesaikan konflik.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya supremasi hukum, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta upaya menciptakan masa depan damai dengan perhatian khusus terhadap kelompok masyarakat termiskin yang paling terdampak krisis ekonomi.

Secara tersirat, pernyataan Paus tersebut mencerminkan kekhawatiran banyak pengamat internasional bahwa langkah Trump di Venezuela berpeluang menyerupai kontrol de facto atas negara tersebut.

Selain itu, Paus Leo XIV bulan lalu memperingatkan pemerintahan Trump terhadap apa yang ia sebut sebagai upaya “membongkar” aliansi strategis antara Amerika Serikat dan Eropa, yang telah lama menjadi fondasi politik global.

Menanggapi rencana perdamaian Ukraina yang diusulkan Washington, Paus menyatakan keprihatinan atas perubahan drastis dalam hubungan trans-Atlantik, sebuah aliansi yang selama puluhan tahun dianggap kuat dan stabil.

Ia menyinggung pernyataan Trump yang menggambarkan sekutu Eropa sebagai pihak yang “melemah,” narasi yang, menurut Paus, berpotensi merusak aliansi penting di masa kini dan masa depan.

Menurut pernyataan resmi Vatikan yang dikutip arabic.rt.com edisi Jumat (9/1/2026), Paus Leo XIV menegaskan peran krusial Eropa dalam upaya perundingan damai dan menilai tidak realistis mencapai kesepakatan tanpa keterlibatan benua tersebut.

Ia menambahkan harapannya agar Eropa bersatu dalam mencari solusi kolektif guna memastikan stabilitas dan kemajuan bersama sepanjang abad ini.

Dalam isu migrasi, pada November 2025 Paus Leo XIV mendukung pernyataan para uskup Katolik Amerika Serikat yang kritis terhadap kebijakan imigrasi dan deportasi massal pemerintahan Trump, seraya menyerukan penanganan yang manusiawi dan bermartabat.

Paus menutup pidatonya dengan menyerukan agar masyarakat Amerika Serikat dan dunia mendengarkan suara para pemimpin gereja, terutama mengenai perlakuan yang penuh martabat kepada para migran yang telah lama hidup dan berkontribusi di negara tersebut. (ali)

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: Donald Trump Vatikan Washington Paus Leo XIV Amerika Serikat